Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Jangan Jadikan Aku Pelakor


__ADS_3

Kabut semakin menebal. Semakin mendinginkan udara pegunungan. Semakin malamnya hari, semakin mendinginkan udara hingga menusuk ke tulang. Sweater abu - abu berbahankan wol tebal pun masih belum bisa total menghangatkan tubuh Kiran. Masih bisa masuk menusuk ke kulit hingga tulang - tulangnya.


Kiran bergidik, tubuh proporsionalnya kedinginan hingga membutuhkan kehangatan. Arkana yang masih dalam gendongan kedua tangannya pun berkahir Kiran serahkan kepada Mbak Dewi.


"Mbak Dewi, tolong bawa Arkana kembali ke kamar. Udara di luar terlalu dingin untuk Arkana. Aku takut, nanti Arkana akan terkena flu. Sebentar lagi aku akan menyusul." perintah dari Kiran dengan tubuhnya yang berusaha untuk menahan dingin.


"Baik, Bu!" Sahut Mbak Dewi cepat.


"Mbak, jangan lupa untuk menghidupkan penghangat ruangannya, ya." suara Kiran kembali mengalun lembut saat mengeluarkan kalimat pengingatnya.


Mbak Dewi mengangguk. Tak lupa senyuman ramahnya terulas di wajahnya sebelum pergi meninggalkan Kiran. Sementara itu, Kiran yang masih ingin berlama-lama sejenak di spot barbeque melangkahkan kedua kakinya. Hati Kiran sudah tak sabar ingin mencari minuman hangat yang bisa di tengguk.


Belum lagi langkahnya sampai pada meja yang menghidangkan minuman hangat wedang jahe, langkah kedua kaki Kiran tertahan saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Bu Amanda dengan beberapa tamunya.


"Yang tadi itu Kiran, kan? Kiran Aurelia Geovan yang dulu pernah menjadi model cantik itu, kan?" tanya seorang tamu dengan begitu penasaran pada Amanda.


"Aku enggak tahu, karena yang aku tahu dia itu adalah Kiran tetanggaku yang satu komplek denganku." Amanda menyanggah, berpura - pura tidak tahu.


"Masa kau enggak tahu, sih? Dia itu dulunya model, artis gitu. Tapi sekarang enggak pernah muncul lagi. Mungkin karena udah nggak laku, karena udah kena senggol dari Celina Anastasya!" Timpal tamu lain yang ikut berkerumun bersama dengan Amanda.


"Wah, Kak! Aku bener - bener nggak tahu." kembali Amanda menyanggah dengan santai dan kepura - puraannya sambil meringis senyuman.


"Rumahnya hanya beberapa jarak saja kan, dari rumahmu, Amanda?" tanya tamu pertama yang tadi menanyai Amanda.


"Iya, Kak!" Amanda menjawab cepat.


"Anaknya yang ganteng itu kenapa nggak mirip dengan Pak Dokter yang tinggal satu rumah dengannya itu. Kalian perhatiin nggak sih? Aku beberapa kali berobat di rumah sakit milik Pak Dokter itu. Jauh beda!" Layaknya sang penggosip yang handal, tamu itu semakin menebar kabar yang dia lihat dari sudut pandangnya.


Lagi - lagi Amanda meringis senyuman. "Maaf ya, Kak. Tapi aku mau samperin suamiku dulu." Amanda beralasan untuk menarik diri.


Perempuan sosialita yang memiliki kebaikan hati itu berbalik badan. Langkahnya terhenti sejalan dengan senyuman di wajahnya pun ikut lenyap. Kedua mata Amanda terbelalak mendapati Kiran yang berdiri tak jauh dari dirinya.

__ADS_1


"Ki...Kiran? Sudah makan?"Amanda tergagap, merasa tidak enak hati pada Kiran.


"Sudah, Bu Amanda. Aku mau pamit dulu, mau balik ke kamar!" Ujar Kiran sambil mengulas senyuman yang ramah. Kiran pun terpaksa merubah rencananya di karenakan suasana hatinya yang berubah.


Belum lagi, tubuh Kiran yang sempat berbalik dan ada seseorang yang menahan tubuhnya dari belakang. Tangan yang melingkar di perut Kiran tanpa meminta ijin membuat Kiran langsung menegang. Perempuan cantik itu tersentak. Belum lagi sebuah kecupan yang mendarat di sisi pipinya menambah sikap sistem kerja organ - organ vital Kiran tidak beraturan.


Siapa yang berani menyentuhnya dan mengecup pipi Kiran tanpa meminta ijin? Sudah pasti itu bukanlah Julian!


"Kau kedinginan, sayang? Kenapa pipimu ini dingin sekali?" Bara memamerkan kemesraan pada Kiran di hadapan para penggosip yang terbelalak melihat kehangatan sikapnya.


"Bar... Bar...Bara?" lirih Kiran yang terputus-putus.


"Ya sayang, ini aku. Ayah dari anak kita, Arkana Rasendriya." bibir Bara mengecup sisi telinga Kiran setelah berbisik lembut di tempat itu.


"Lepaskan!" Geram Kiran dengan gerahamnya yang saling beradu.


"Sssstt! Menurut padaku, jika kau masih ingin bertemu dengan Arkana!" Ancam Bara hingga membuat Kiran tidak bisa berkutik.


Puluhan pasang mata terbelalak menyaksikan


Siapapun tahu, Bara adalah tunangan resmi dari aktris terkenal, Celina Anastasya.Kabar pertunangan yang sudah di publikasikan kepada awak media membuat khalayak umum mengetahui status dari lelaki tampan yang berlesung pipi itu tak lagi sendiri.


Namun, Bara tampak acuh. Tidak peduli pada pandangan tamu yang lain yang mulai berbisik-bisik. Lelaki itu juga diam saja saat beberapa tamu mulai mengarahkan kamera handphone lalu mengabdikan moment mesra Bara dan juga Kiran.


Yang terpenting bagi Bara saat ini adalah melepaskan kerinduannya pada sosok perempuan yang membuatnya gila hampir dua tahun ini. Sosok perempuan yang dulu pernah Bara rusak Bahkan Bara sakiti hingga detik ini.


"I miss you, sayang." bisik Bara lembut lalu mengecup kembali sisi telinga Kiran.


Bara benar - benar memuaskan diri memeluk Kiran. Tangan Bara yang sudah menyentuh perut Kiran semakin posesif, semakin menekan untuk menempelkan tubuh Kiran dengan tubuhnya..


"Jangan jadikan aku pelakor, Bar. Lepaskan aku!" Geram Kiran dengan mulutnya yang terbuka.

__ADS_1


"Jadi, kau benar - benar sudah tidak mau bertemu dengan Arkana?" bibir Bara bergesek di sisi telinga Kiran.


"Keputusan yang sangat aku sesali ketika aku datang ketempat ini dan bertemu denganmu!" Kiran kembali menggeram. Rahangnya mengeras di karenakan amarah yang menguasai diri.


"Lalu bagiku, ini adalah keputusan yang tepat hingga membawaku bisa bertemu denganmu lagi dan juga anak kita." balas Bara dengan seringai yang terukir di bibirnya.


"Lelaki licik!" Cibir Kiran.


"Ini namanya takdir, Kiran." Bibir Bara kembali mengecup sisi telinga Kiran. "Jadi, bagaimana? Kau mau menurut atau kau mau kehilangan Arkana?" sambung Bara yang setengah mendesak.


"Kau harus pastikan tidak ada berita apapun yang menyatakan aku sebagai pelakor. Jika nanti aku temukan dan dengar, aku pastikan akan merobek tubuhmu dan mengambil jantungmu. Supaya nantinya aku tidak bertemu lagi denganmu!" Geram Kiran mengancam.


Bara terseyum,lesung pipinya di pamerkan dengan jelas hingga menyempurnakan wajah tampannya. Kemudian bibirnya kembali mengecup sisi telinga Kiran seolah menjadi kesenangan tersendiri bagi pengusaha muda tampan itu.


"Tapi takutnya bajuku yang akan kau robek - robek," ucap Bara menggoda.


"Kau!"


Leher Kiran memutar kesamping hingga membentuk sudut siku-siku. Gerakan salah yang Kiran lakukan hingga semakin menghantarkan senyar bahagia di hati Bara.


Kiran implusif. Bibirnya kini terhantarkan dengan baik ke hadapan bibir Bara. Jarak yang tipis dan hanya dengan satu gerakan yang mengerucut bibir Bara yang sudah bisa menempel di bibir Kiran.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2