
"Marsha sedang mengandung calon anak kedua kami." Alvaro dengan bangga mengumumkan berita kehamilan Marsha di depan keluarga.
"Wah... benarkah?" tanya Viona antusias. "Selamat Kak Marsha." sambung Viona lalu memeluk hangat Marsha yang terduduk di sebelahnya.
"Bunda senang, cucu Bunda berarti akan nambah dong. Rumah Bunda pasti akan semakin ramai nantinya." Kanaya menyambut dengan suka cita berita kehamilan Marsha.
"Anggota keluarga kita akan semakin ramai nantinya." Lisa menimpali dengan mengulas senyuman bahagia.
"Aku sudah mau dua. Kau kapan lagi Saga?" sindir Alvaro dengan menyombongkan diri.
"Ya.... coming soon, lah! Malam ini kalau di panas - panasi langsung di kejar setoran untuk bisa menyusul." balas Saga sambil melakukan gerakan tangan seperti melemaskan otot-otot tangan dan bahunya.
"Apaan, sih? Buat malu aja." ucap Viona langsung di selimuti semu merah di wajah cantiknya.
"Senang deh dengar kabar bahagia ini. Selamat ya, Kak. Miracle resmi jadi Kakak dong?" Kiran juga ikut memberikan selamat pada perempuan cantik itu.
"Setelah sah nanti, kita juga akan menyusul." ucap Bara yang ikut terpancing sindiran Alvaro. "Jadi, kau mau berlomba juga dengan kami, Saga?" tantang Bara sambil menahan senyumannya.
"Berlin... tutup telinganya, Nak." Elvano langsung menutupi telinga putri bungsunya yang sedang duduk di sebelahnya.
"Mereka enggak lihat ada anak di bawah umur. Ngomongnya asal aja!" Ucap Elvano kesal dengan memincing tajam pada ketiga pasangan di depan mata.
"Benar tuh Pa!" Ucap Bastian yang ikut nimbrung.
"Ih, Papa! Berlin udah gede! Berlin itu udah 21 tahun!" Sahut Berlin cepat, lalu melepaskan tangan Elvano yang menutupi kedua telinganya.
"Gede itu kalau udah seumuran Kak Alvaro. Berlin masih kecil!" Bantah Elvano yang menganggap Berlin masih menjadi gadis kecilnya.
"Kak Alvaro itu tua!" Sahut Berlin cepat.
"Enak aja! Kakak itu masih muda, ya!" Sambung Alvaro membantah tegas.
Tingkah antara Ayah dan anak yang saling berdebat itu menjadi canda penghibur hati yang membuat orang - orang tertawa lepas. Beban yang di pikul seharian dari rutinitas padat pun sirna berganti ketenangan hati yang tiada bandingnya.
Cara sederhana berkumpul bersama dengan orang - orang tercinta adalah quality time terbaik yang sangat mudah di raih. Tak butuh biaya yang mahal. Tak harus berpergian. Kebersamaan dengan orang tercinta adalah kunci dari sebuah kebahagiaan.
__ADS_1
"Tante udah nggak sabar melihat kalau Kiran memakai baju kebayanya nanti. Pasti cantik, deh." Lisa mengalihkan pembicaraan.
"Pasti dong, Kak. Kiran gitu!" Ibu jari dan telunjuk Kiran merentang membentuk sudut centang lalu memposisikannya di bawah dagu.
"Kalian sudah beritahu Sean, kan?" tanya Lisa lebih lanjut.
"Sudah Kak Lisa. Sehari sebelum acara, Om Sean akan datang." ucap Kiran memberitahu
"Dimana lelaki bujangan itu saat ini? Apa dia masih di Sydney?" tanya Anton yang begitu penasaran pada matan rivalnya itu.
"Om Sean lagi di Singapura, Kak. Lagi ada urusan pribadi katanya." Bara mewakilkan Kiran menjawab rasa penasaran Anton.
"Paling - paling lagi cari sasaran baru sampai mengharuskannya ke Singapura." Elvano menuduh hal yang Sean lakukan sesuai dengan tingkahnya.
"Sean benar - benar belum mau menikah hingga begitu betahnya menjadi fucek boy." dengan plesetan kata Anton menyindir mantan rivalnya itu.
"Menikah hanya membuat Om Sean ribet.Begitu kata Om Sean, Kak." Kiran membeberkan secuil cuitan curhatan Sean kepadanya.
Hidung Alvaro mulai bergerak gelisah. Mengendus-endus seolah mencari - cari asal bau yang mengusik hidungnya itu. Tingkah aneh Alvaro yang tidak biasa menjadi perhatian Marsha dan yang lainnya.
"Siapa yang pakai parfum dengan bau menyengat ini? Uhhh....! Baunya tidak sedap!" Komentar Alvaro yang begitu kesal.
Arah endusan hidungannya menuju ke arah Bastian yang duduk tak jauh dari dirinya. Seketika Bastian menjadi risih, tak nyaman. Lalu memeriksa diri yang tak bau menurut dirinya sendiri.
"Kau pakai parfum apa sih, Bastian? Baunya sangat kampungan! Kayak anak ABG saja!" Lidah tajam Alvaro mengoreksi aroma parfum Bastian yang tak mengenakan.
"Apa sih Kak Alvaro! Ini parfum mahal! Sembarangan aja kalau ngomong!" Bantah Bastian tegas tak terima pada kritikan Kakak sulungnya itu.
"Marsha! Kau pasti bisa merasakan bau parfum Bastian seperti anak cabai - cabai kan?" tanya Alvaro ingin memastikan bahwa dirinya itu tidak salah.
"Wanginya enak kok, sayang. Mungkin hidung kamu aja yang sepertinya sedang bermasalah kali." Marsha menyangkal dengan dahi mengerut menatap Alvaro.
"Apanya yang enak? Baunya aneh begini? Kepalaku jadi pusing, Baby." Alvaro bersikeras dengan penilaiannya.
"Alvaro mau kedalam sebentar. Mau ke toilet. Karena perut Alvaro sangat mual menghirup aroma parfum Bastian." sambungannya pamit pada semua orang lalu beranjak masuk dengan setengah berlari.
__ADS_1
Tak hanya Marsha yang terheran melihat sikap Alvaro. Elvano dan Kanaya dan yang lainnya pun terperangah dan mulai menerka - nerka tingkah aneh Alvaro yang menjadi pusat perhatian.
...***...
Kedua Kaki Naura kembali memijaki hunian apartemen mewah milik Julian. Perempuan cantik yang memiliki gigi kelinci alami itu berakhir pasrah tidak bisa menolak setelah Julian memaksanya untuk ikut.
Naura duduk di atas sofa empuk di ruangan tamu. Di depan mata sebuah view taburan cahaya bohlam dari berbagai bangunan dan kendaraan yang masih melintas di jalan raya berkelap-kelip bagaikan bintang di langit.
Harusnya Naura bisa tersenyum melihat keindahan malam di kota B dari titik tertinggi yang ia pijaki. Namun, tak ada yang terlihat di wajah cantik Naura yang datar tanpa ekspresi.
Harusnya Naura menyambut bahagia dirinya, bisa memiliki celah untuk berdekatan dengan Julian, sosok pendukung terkuat dari rencananya. Namun, seketika Naura bingung dan tidak tahu harus memulainya di karenakan memori ingatan terkontaminasi oleh hinaan yang di lakukan oleh si Nenek sihir, penganggu setia dalam kehidupannya.
Julian kembali menghampiri Naura dengan membawa kotak P3K di tangan. Langkah lelaki tampan bertubuh tinggi itu sempat terhenti mendapati Naura yang termenung. Lalu kembali melanjutkan langkahnya dan berdiri menjulang di hadapan Naura.
"Aku atau kau yang akan membersihkannya?" tanya Julian sambil menyodorkan kotak P3K kepada Naura.
"Sebaiknya saya pulang saja. Karena ini sudah malam. Lagi pula saya merasa tidak enak hati. Karena saya, Dokter Julian jadi membatalkan janji." Naura menolak halus.
"Kau itu memang bodoh!" Julian malah mencibir.
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.
__ADS_1