
"Kamu setuju kan?" tanya Oma pada Kevin, seperti di hipnotis Kevin segera menganggukakan kepalanya, "Kamu mau kan membimbingnya dan mengajarinya?" Kevin lagi-lagi mengangguk tanpa berani membantah perkataan Omanya.
"Mulai besok Kamu akan menjadi bawahan Anin, apapun itu jika menyangkut dengan perusahaan harus dalam persetujuan Anin mewakili Oma, karena Oma akan mengangkatnya sebagai sekretaris pribadi Oma sebagai Direktur Utama.
"Kevin kemarilah" panggil Oma Jelita merentangkan tangannya, lagi-lagi Kevin menuruti perintah Omanya, Ia langsung memeluk Oma nya seperti Anak kecil.
"Kamu kira Oma tidak tahu tentang rencanamu selama ini? Oma sudah mengabari pengacara Charles untuk mengubah surat wasiat, jika Kamu berani menyakiti Anin apa lagi mencampakkannya, maka Oma dengan senang hati menandatangani surat wasiat itu, dimana semua aset dan juga perusahaan akan jatuh ketangan Anin" ancam Oma dan melepaskan Pelukannya lalu memberikan senyuman pada Kevin.
******
"Tapi kenapa saya dipecat pak? Saya rasa tidak pernah melakukan kesalahan" Anin tidak mengerti kenapa Ia tiba-tiba dipecat tanpa sebab.
"Maaf tapi saya terpaksa memecat Anda" ucap Charles tiba-tiba formal dan sopan.
"Silahkan Anda tanda tangani surat pengunduran diri Anda!" Charles memberikan sebuah dokumen pada Anin.
Saat Anin akan menandatangani berkas tersebut, matanya menangkap sesatu yang sangat aneh "Surat penaikan jabatan sebagai sekretaris pribadi Direktur utama?" tanya Anin meletakkan kembali pulpen di meja kerja pak Charles.
"iya, sebaiknya Anda segera memberaskan barang-barang Anda karena besok Anda sudah mulai bekerja di kantor pusat." ucap Pak Charles.
"Bisa tidak pak Charles tidak bicara forma pada saya, saya sedikit tidak nyaman, apa lagi Anda lebih tua dari Saya" ucap Anin.
"Tapi sekarang Anda adalah atasan Saya, dan segeralah tanda tangani berkas ini nona" ucap Charles kembali menyodorkan berkas pada Anin. Anin segera menandatangani berkas tersebut dan pulang kerumah untuk menemui Oma Jelita.
Sesampainya dirumah, Anin segera berlari memasuki kamar Oma Jelita "Aku sangat merindukanmu Oma," Anin segera menghamburkan dirinya memeluk Oma Jelita yang sedang membaca majalah di sofa kamarnya.
"Kapan Oma sadar? kenapa Oma tidak mengabariku? dan satu lagi kenapa Oma memberiku jabatan yang begitu tinggi bahkan lebih tinggi dari posisi mas Kevin?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Anin.
"Oma sudah lama sadar, dan tentang posisimu, Oma sengaja menempatkan posisimu lebih tinggi dari Kevin, agar Dia bisa menghargai keputusanmu. Dan juga dengan begitu Kamu bisa lebih dekat dengannya. ucap Oma Jelita.
"Tapi Oma Aku dan mas Kevin bagaikan langit dan bumi" protes Anin.
"Iya Oma memang mengakui kalian bagaikan langit dan bumi, tapi yang pantas menjadi langitnya itu Kamu, Kevin sangat beruntung bisa mendapatkamu, jadi Oma minta padamu jangan pernah merasa berkecil hati apa lagi merasa tidak pantas." jelas Oma Jelita.
__ADS_1
"Oma percaya Kamu bisa membuat Kevin jatuh cinta padamu" jelas Oma Jelita.
"......." Anin menganggukkan kepalanya.
"Oma Anin pamit dulu ya" ucap Anin mencium pipi Oma Jelita dan berjalan keluar kamar menuju kamarnya.
Sesampainya Anin di dalam kamar, Ia sudah mendapati suminya sedang memainkan ponselnya di sofa. Anin segera mengambil pakaian gantinya lalu masuk kedalam kamar mandi membersihkan dirinya.
ceklek
Anin membuka pintu kamar mandi, dan kini Ia mendapati Kevin tengah duduk di meja kerjanya menyusun dan merapikan berkas yang begitu banyak.
"Anin pelajarilah dokumen-dokemen perusahaan yang sudah Saya siapkan di meja kerja Saya" perintah Kevin segera kembali kesofa melanjutkan aktifitasnya.
Anin menuruti perintah sang Suami, setelah beberapa menit, Anin mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk fokus mempelajari dokumen-dokumen perusahaan.
Anin sesekali menatap Kevin, ingin sekali rasanya Ia bertanya namun takut jika itu akan mebuat Kevin terganggu dan marah padanya.
Kevin yang sedari tadi menyadari kegelisahan Anin, segera mengalihkan pandangannya pada ponselnya dan beralih menatap Anin yang juga sedang menatapnya.
Kevin segera melangkahkan kakinya mendekati Anin "Tanyakanlah apa yang tidak kamu mengerti" perintah Kevin.
Dengan penuh semangat Anin menanyakan banyak hal yang sedari tadi ditahannya. Sementara Kevin dengan sabar dan telaten menjelaskan apa-apa saja yang tidak di mengerti oleh Anin.
Dert...dert...dert....
Posel Kevin berdering membuat konsentrasi mereka terganggu "Kerjakanlah dulu yang Kamu mengerti, Aku akan menjawab telfon dulu" Kevin segera menjawab panggilan tersebut sembari berjalan keluar balkon kamar.
Beberapa menit telah berlalu Kevin telah selesai bicara dengan rekan bisnisnya, ketika memasuki kamar Ia mendapati Anin tengah tertidur di sofa bed dengan berkas menutupi wajahnya.
Kevin mengembangkan senyumnya dan mengambil berkas tersebut lalu meletakkannya di atas nakas, Kevin terkesiap saat mendengar panggilan Omanya.
"Kevin apa Kamu sudah tidur? ada yang ingin Oma bicarakan" ucap Oma jelita setengah berteriak di balik pintu sembari mengentuk-ngetu daun pintu.
__ADS_1
"Tunggu sebentar Oma" pinta Kevin
Dengan segera Kevin mengangkat tubuh Anin dengan horizontal dan membawanya ke ranjang King size miliknya, Anin yang merasakan tubuhnya bergerak seketika terjaga.
"Kenapa lama sekali membuka pintunya" gerutu Oma Jelita yang berhasil masuk kekamar cucucnya. Untung saja Kevin sudah memindahkan Anin jika tidak, Ia akan mendapatkan Omelan malam-malam.
"Apa Istrimu sudah tidur" tanya Oma Jelita.
"Iy....iya Oma, ada hal penting apa yang ingin Oma bicarakan sehingga mengunjungki Kevin kekamar?" tanya Kevin.
"Oma hanya mau memberitahumu, bahwa mulai besok Anin akan bekerja di kantor pusat, jadi Dia tidak mungkin makan siang di rumah lagi, jadi Kamu temani Dia makan siang di kantor, jangan lupa berikan Dia makanan yang sehat dan juga begizi" jelas Oma Jelita.
"Hanya itu?" tanya Kevin.
"Iya, Istirahatlah !" ucap Oma Jelita menepuk-nepuk lembut bahu Kevin setelah itu pergi.
"Ternyata hanya itu, Aku kira hal penting apa sehingga Oma bela-belain nyamperin Aku dikamar" gerutu Kevin sembari melangkahkan kakinya mendekati Anin yang tengah menatapnya dengan tatapan heran.
"Oma sudah pergi?" tanya Anin memastikan
"Eum....." Kevin mengangukkan kepalanya.
Dengan segara Anin bangun dari tidurnya, dan merangkak menuruni tempat tidur berniat pindah ke sofa bed, karena Ia belum lupa dengan kata-kata Kevin pada saat malam pertama Anin tidur didalam kamarnya.
Kevin menarik ujung kaki baju piyama Anin, dan kembali menidurkannya di tempat tidur, menyelimutinya. "Karena kamu sedang hamil, maka tidurkah di tempat tidur, tidak baik jika ibu hamil tidur di sofa." ucap Kevin.
Anin hanya memperhatikan pria yang menurutnya belakangan ini sidikit memperlakukannya dengan lembut. Kevin segera membaringkan tubuhnya di sofa bed dan tak lama kemudian nafasnya mulai teratur, menandakan Ia sudah terlelap. Anin hanya memandangi wajah tampan itu dengan senyuman.
-
-
-
__ADS_1
TBC