Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Modus 2


__ADS_3

Uhuk.....uhuk....uhuk.....


Kevin batuk karena tengorokannya terasa kering, dan itu membuat Anin mengalihkan perhatinnya pada kertas di hadapannya.


Anin kembali melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan. "Permisi, bisa berikan saya segelas air hangat?" pinta Anin yang segera di anguki oleh pelayan.


"Tentu nona" ucap pelayan sopan.


Beberapa menit kemudian, pelayan datang membawa segelas air hangat dan memberikannya pada Anin. "Terimakasih" ucap Anin senyum dan itu tak pernah luput dari perhatian Kevin.


"Apa perlu Dia tersenyum semanis itu pada pelayan Pria? atau Dia sengaja mengodanya?" batin Kevin lagi-lagi terbakar api cemburu, bahkan hujan deras di luar sana tidak bisa meredam api cemburu itu.


Anin memberikan segelas air hangat itu pada Kevin. "Minumlah dulu" ucap Anin dan kembali fokus pada desainnya.


Kevin mengembangkan senyumnya mendapatkan perhatin kecil dari Anin. "Ternyata Kamu masih perhatian ya sama Aku." goda Kevin dan menyesap air hangat yang di berikan Anin.


"Ais jangan ke ge'eran deh, Aku memberimu minum karena jika Kamu batuk-batuk itu akan mengganggu konsentrasiku." ucap Anin acuh, namun membuat Kevin tersenyum.


"Kamu memang sudah banyak berubah sayang, dulu Aku tidak pernah berfikir untuk merebut hatimu karena Kamu lebih dulu mencintaiku, tapi sekarang Aku tidak menyangkan akan mengejar cintamu sejauh ini. Aku memang bodoh karena menyia-nyiakan mu dulu." batin Kevin.


"Desainnya sudah selesai, lihatlah" Anin membuyarkan lamunan Kevin.


Kevin memeriksa dengan teliti desain yang baru saja di buat Anin, namun Kevin tidak bisa mendapat celah lagi untuk mengritiknya selain mengatakan perfect.


"Aku tidak bisa berkomentar lagi, desainmu benar-benar menakjubkan" puji Kevin, membuat Anin mengembangkan senyumnya.


"Kamu sudah makan kan, dan juga tidak ada lagi yang perlu di bahas lagi, kalau begitu Aku pamit dulu" Anin bangkit dari duduknya hendak pergi meninggalkan Kevin.


"Tunggu" Kevin mencegah Anin pergi dengan menarik tangannya.


"Kenapa Aku merasa mas Kevin belakangan ini sangat santai ya? apa Dia tidak sibuk sama sekali, atau Dia sedang menyiksa Ans sekarang?" batin Anin bertanya-tanya. Bagaimana tidak, pria yang ada di hadapannya sekarang adalah CEO yang terbilang cukup sukses, namun Dia begitu terlihat santai.


Anin tidak tahu saja bagaimana perjuangan Kevin selama ini. Kevin rela mengurangi jam istirahatanya hanya untuk meluangkan waktu untuk Anin, Kevin bahkan hanya tidur 3-4 jam saja sehari karena Dia harus mengerjakan pekerjaan kantor yang di kirimkan Ans di malam hari, dan pagi harinya Kevin menghabiskan waktunya untuk mengurus kerja sama Angelfasion dan juga Fang Grub hanya untuk bisa bertemu dengan Anin.


"Sekretaris Tuan Fang baru saja mengabariku, bahwa Kita akan mengadakan rapat beberapa jam lagi di kantornya." ucap Kevin yang baru ingat bahwa hari ini ada rapat dengan Tuang Fang, dan Tuang Fang menyuruh Kevin untuk membawa nona Elice untuk mempresentasikan desainnya.

__ADS_1


"Baiklah, Aku akan kesana nanti" Anin melangkahkan kakinya keluar dari restoran tanpa memperdulikan Kevin yang terus mengekorinya di belakang seperti anak ayam.


Byur


Cipratan air dari jalan membasahi jas Kevin, karena melindungi Anin dari cimpratan air yang tergenang di jalan akibat hujan deras tadi.


"Kenapa Kamu malah memelukku, lihatlah Kamu jadi basah kan" gerutu Anin pada Kevin yang sudah basah kuyup akibat cimpratan air yang di akibatkan mobil yang melintas tadi.


"Tidak apa-apa yang penting Kamu tidak basah, Aku tidak bisa membayangkan jika kemeja Kamu basah dan menjadi pusat perhatian Pria lain" ucap Kevin.


Benar saja, jika kemeja putih Anin sampai basah, itu bisa memperlihatkan pakaian dalamnya.


"Terimakasih" ini pertama kalinya Anin mengucapkan terima kasih pada Kevin, selama bersama Kevin.


"Tidak usah berterima kasih, karena Kamu harus bertanggung jawab untuk semua ini" ucap Kevin lagi-lagi mempunya ide gila di otaknya.


Anin mencebik, bagaimana Ia bisa lupa dengan sikap Pria di hadapannya, Pria yang tidak mungkin membantu seseorang tanpa balasan.


"Apa yang harus Aku lakukan?" tanya Anin merapikan kembali kemejanya yang sedikit berantakan karena pelukan Kevin.


"Tidak masalah" Anin menyetujui permintaan Kevin, toh hanya menemani Kevin saja tidak ada yang lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Butik Uniqlo


Akhirnya, keduanya sampai juga di salah satu butik terkenal di beijing.


Anin sibuk memilih setelan jas untuk di pakai Kevin, sementara Kevin hanya duduk manis di sofa memperhatikan setiap gerakan Anin. Hati Kevin terasa sejuk melihat Anin memilihkan baju untuknya.


"Sampai kapan, Kita akan seperti ini? tarik ulur perasaan seperti anak SMA saja, padahal umur Kita sudah cukup dewasa." batin Kevin yang tak mampu menyuarakan isi hatinya pada Anin.


"Coba Kamu pakai ini ! sepertinya ini cocok untukmu" Anin memberikan setelan jas berwarna putih cerah pada Kevin, dan dengan senang hati Kevin menerima jas itu, dan segera mencobanya. Dan benar saja, setelah itu sangat pas di tubuh atletis Kevin.


Kevin menghampiri Anin dengan senyuman yang mengembang. "Kamu masih hafal ya dengan ukuran bajuku" ucap Kevin, namun Anin tak menghiraukan perkataan Kevin dan malah sibuk memilih dasi yang cocok untuk Kevin.

__ADS_1


"Coba pakai ini!" Anin memberikan Kevin dasi yang menurutnya serasi dengan setelah jas Kevin.


"Pakai dasinya nanti saja, sekarang waktunya Kamu yang mengganti baju" ucap Kevin beralih pada pakain wanita yang bejejer rapi di sebelah kanan.


"Pakaianku tidak basah, jadi tidak perlu mengantinya." tolak Anin yang tidak ingin berlama-lama dengan Kevin, takut hatinya tidak bisa berpaling.


"Apa Kamu akan datang dengan pakaian seperti itu? pakailah!" Kevin memberikan dress berwarna hitam pada Anin.


"Kamu benar" Anin membenarkan perkataan Kevin, saat melihat penampilannya di cermin, Anin mengambil pakaian yang di pilihankan Kevin dan melangkahkann kakinya menuju ruang ganti, tanpa Anin ketahui Kevin mengikutinya dan berdiri di depan pintu dan menyuruh pelayan butik pergi, karena Kevin tahu sebentar lagi Anin akan meminta bantuan.


Dan benar saja, selang beberapa menit, Anin membuka pintu dan mengelurkan kepalanya untuk meminta bantuan.


"Kevin" panggil Anin ragu.


"Ada apa? apa Kamu sudah selesai?" tanya Kevin pura-pura polos.


"........." Anin menggelengkan kepalanya. "Aku butuh bantuan, bisakah Kamu membantuku?" pinta Anin, karena tidak ada salahnya jika Anin meminta bantuan pada Kevin, toh Kevin masih Suaminya.


"Apa yang bisa Aku bantu?" Kevin masih pura-pura polos.


"Masuklah..............


-


-


-


-


-


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.

__ADS_1


__ADS_2