
"Dela!" panggi Dilan menatap lurus kedepan.
"Dela?" ulang Anin. Anin memutar kepalanya mencari seseorang yang di panggil Dilan dengan sebutan Dela. "Tidak ada orang, siapa yang kau panggil?" tanya Anin pada Dilan yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Dilan jangan membuatku bingung seperti ini" Anin mulai kesal pada Dilan, tidak biasanya Dilan membuatnya bingung seperti ini. "Jelaskan ketiga orang di foto itu! kenapa mereka bisa bersamaku saat Aku kecil?" Anin mentap Dilan dengan tatapan membunuhnya.
"Sabarlah aku akan mejelaskannya." Dilan kembali menghidupkan ponselnya. "Lihat! gadis kecil itu adalah Dela, dan orang di sampingnya adalah Aku, dan kedua orang tua yang sedang memangku gadis kecil itu adalah orang tuaku" jelas Dilan menunjuk satu-satu orang yang ada di dalam ponselnya.
"Kenapa aku mirip sekali dengan adiknya Dilan saat Aku baby?" batin Anin.
Pikiran Anin berkelana kemana-mana berusaha mengingat perkataan Dilan di sebuah dermaga saat dirinya kecewa pada Kevin. "Oh tidak, apa maksud Dilan aku adalah Dela? lalu bagaimana dengan ibu dan ayahku?" batin Anin.
"Dela...."
"Cukup jangan memaggilku Dela, Aku Anin bukan Dela, foto itu hanya kebetulan mirip denganku, Kau hanya terobsesi padaku karena aku menganggapmu kakaku, iya kan!" bentak Anin pada Dilan.
"Del..ah Anin ini bukan kebetulan, kau memang adikku yang selam ini aku cari, dan aku tidak menyangka bahwa selama ini adikku ada di dekatku, dan dengan bodohnya aku jatuh cinta pada adikku sendiri. Saat pertama kali menemukan fotomu di apartemen, aku tidak ingin percaya itu, tapi rasa penasaranku mendorongku untuk terus mengorek informasi tentang dirimu. Aku mendatangi bibi Sandra dan menanyakan semuanya, dan semua dugaanku benar kau itu adiikku Dela." jelas Dilan. Dilan mengengam tangan Anin agar Anin tidak pergi.
"Jika itu memang benar adanya, kenapa ibu dan ayahku tidak pernah membahas ini padaku?" isak tangis Anin mulai terdengar, Anin tidak menyangka bahwa dirinya bukanlah anak kandung ibu Sandra, karena ibu Sandra selalu memanjakannya layaknya putrinya sendiri.
"Bibi tidak ingin Kamu bersedih dengan memberitahumu kebenarannya" jelas Dilan berusaha menengkan Anin.
"Kua datang padaku setelah Aku dewasa. Dimana Kamu saat Aku hilang hah? kenapa tidak ada yang mencari keberadaanku!" bantak Anin. Anin merasa Dilan dan orang tuanya membencinya karena tidak pernah mencarinya selam ia hilang.
__ADS_1
"Anin apa Kamu lupa apa yang Aku katakan di dermaga waktu itu, dan apa kamu juga lupa apa yang aku lakukan selama ini? Bukankah kamu sendiri yang mensupport ku untuk mencari adikku? apa itu kurang untuk membuktikan bahwa aku tidak membuangmu! Tidak ada yang membuangmu Anin! bahkan saat kamu menghilang, kehangatan keluarga kita hilang begitu saja, ayah sangat menyayangimu sampai-sampai saat kau menghilang ayah tidak berselera makan, dan itu mengakibatkannya sakit-sakit, dan berujung pada kematian. Dan ibu tak lama menyusul ayah karena merasa bersalah karena tidak bisa mejagamu dengan baik. Aku bisa sesukses ini hanya kerena memegang teguh tekadku, bahwa jika Aku berkuasa aku bisa dengan mudah menemukanmu. Aku tidak menyangka adik yang selama ini aku cari adalah wanita yang sangat aku cintai. Kalu boleh jujur aku sangat bahagia karena bisa menemukan adikku, dan di sisi lain Aku merasa sedih karena cintaku tidak akan pernah terwujud sampai kapanpun, karena kita mempunyai hubungan darah." Dilan menundukkan kepalanya tak ingin Anin melihatnya menangis.
Anin terdiam mendengar penuturan Dilan, apa yang dikatakan Dilan benar adanya, Dilan selalu curhat padanya tentang pencarian adiknya namun semua usahanya sia-sia. "Aku tidak bisa egois memikirkan diriku sendiri, aku juga harus memikirkan orang lain, ini bukan salah Dilan maupun ibu, ini hanyalah takdirku. Aku hanya butuh penjelasan dari ibu tentang ini semua." batin Anin.
Dilan bangkit dari duduknya. "Aku akan memberimu waktu untuk berfikir, aku tahu ini semua tidak mudah bagimu, maafkan kakak jika selama ini tidak bisa menjagamu" ucap Dilan dan berjalan keluar kafe.
Anin menyambar tasnya dan berlari mengejar Dilan, Anin menghambur kepelukan Dilan saat Dilan akan membuka pintu mobilnya. "Maafkan aku kak jika kata-kataku menyakitimu, aku hanya tidak percaya semua ini terjadi padaku"
Dilan bernafas lega, karena Anin mau menerimanya sebagai kakaknya, apa lagi Anin sudah memanggilnya kakak. "Tidak apa-apa, Aku mengerti perasaanmu, jangan menangis okey, kamu kan tahu aku tidak suka jika melihatmu menangis seperti ini." Dilan mendorong tubuh Anin dengan lembut agar Anin melepaskan pelukannya, Dilan menyentuh pipi Anin dan menghapus air mata Anin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kevin yang baru saja menyelesaikan meetingnya, mengangtifkan ponselnya dan mendapati pesan Anin, Kevin mengecek pesan dari istri tercintanya. Rahang Kevin mengeras saat mengetahui istrinya akan bertemu dengan Dilan.
"Shit!" umpat Kevin. "Apa belum cukup dia menculik istriku selama tiga tahun? sehingga dia juga ikut pulang ke Indonesia dan menemui istriku!" wajah Kevin merah padam karena sangat kesal, membayangkan istrinya saja tersenyum pada Dilan sudah membuat darahnya mendidih.
Tubuh Kevin bergetar hebat menahan amarah saat melihat istrinya berpelukan dengan Dilan, bahkan Dilan menyentuh pipi istrinya. Dengan langkah kasar dan buru-buru Kevin mengampiri mereka dan
Bukh
Satu pukulan mendarat di wajah Dilan.
Kevin menarik Anin menjauh dari Dilan, dan sekali lagi Kevin mendaratkan pukulan ke wajah Dilan membuat sudut bibir Dilan robek dan mengelurkan darah segar.
__ADS_1
"Apa yang mas Kevin lakukan hah!" bentak Anin mencoba menghalangi pukulan Kevin yang ketiga dengan memeluk tubuh Dilan yang jatuh tersungkur karena mendapatkan serangan tiba-tiba.
Kevin yang melihat Anin kembali memeluk Dilan mulai hilang kendali, ditariknya Anin dengan kasar menjauhi tubuh Dilan. "Apa aku kurang memuskanmu sehingga kamu mencari laki-laki lain di luar hah!" bentak Kevin pada Anin membuat Anin tersentak kaget.
"Apa segitu rendahnya Aku di matamu mas?" batin Anin.
"Bren*sek, apa yang Kamu katakan pada Anin hah! apa begini caramu mempelakukan wanita? membentak dan menghinanya!" Dilan menarik kerah kemeja Kevin hendak memukulnya, namun segera di urungkan saat melihat gelengan kepala Anin yang berdiri di belakang Kevin dengan berderai air mata.
"Apa urusannya denganmu hah! dia istriku aku berhak melakukan apapun padanya." Kevin menghempaskan tangan Dilan dengan kasar dan menarik paksa Anin masuk kedalam mobilnya.
Anin pasrah saat ditarik oleh Kevin, bukan karena Anin tidak marah atau menerima begitu saja perlakuan dan hinaan Kevin. Tapi Ia hanya takut jika Ia memberontak, Dilan akan membelanya dan mengakibatkan perkelahian, karena Ia tahu Dilan tidak akan bisa jika melihat Anin di paksa.
"Apa segitu cintanya Kamu pada Kevin Dela? sampai-sampai Kamu menerima perlakuan dan hinaan Kevin padamu? bahkan Kamu tidak membiarkanku memukulnya, jika saja Kamu tadi membrontak atau minta di lepaskan aku akan membantumu untuk itu. Tapi aku berjanji jika sampai ada luka di tubuhmu aku tidak akan mengampuni Kevin." batin Dilan menatap kepergian Anin dan Kevin.
-
-
-
-
-
__ADS_1
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up