
"Jangan-jangan yang punya lukisan ini berbohong ya" Kevin mengerucutkan bibirnya, sementara yang lain tertawa melihat tingkah konyol sang Pria arogan.
"Sekarang Kak Kevin nyesel membeli lukisan kak Anin?" Elvan akhirnya mempunyai keberanian untuk bicara pada kakak sepupunya.
"Nga Aku nga nyesel" jawab Kevin di sertai gelengan kepala.
"Lalu?" Anin ikut menimpali, sementara Oma dan bibi Ajeng hanya menyaksikan dengan senyuman yang terus mengembang.
"Katanya lukisan ini bisa mengabulkan permintaan Kita" canda Kevin.
"Siapa bilang? yang ngabulin permintaan itu hanya yang di atas" jawab Oma Jelita.
"Iya tahu Oma, Tapi kan manusia bisa menjadi perantara terkabulkannya keinginan Kita."
"Memangnya mas Kevin ingin apa?" tanya Anin.
"Lihatlah" Kevin menunjuk sudut ruangan, disana terdapat beberapa lukisan yang dibuat oleh Anin. "Kamu membuatkan semua orang lukisan, Kamu melukis Oma dengan latar yang sangat elegan dan berwibawa seperti kepribadian Oma.
"Melukis bibi, berlatar salju sesuai dengan selera bibi, melukis Elvan berlatar pantai karena Dia menyukai pantai" protes Kevin dan itu berhasil membuat semua nya tertawa.
f-2
"Jadi dari tadi mas Kevin cemberut itu hanya karena lukisan?" goda Anin.
"Tentu saja" Kevin senyum
Setelah menghabiskan waktu bersama keluarga, mereka masuk kedalaman kamar masing-masing, namun tidak dengan Anin, karena Oma Jelita memanggilnya masuk kedalaman kamarnya.
"Ada apa Oma memanggilku?" Anin mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Aku Kamu sudah melihat dan merasakannya?" Oma Jelita senyum.
"Apa maksud Oma?" Anin mengerutkan keningnya.
"Maksud Oma itu, Kamu sudah melihat dan merasakan perubahan Kevin selama bersamamu?" Oma senyum
"Iya Oma, belakangan ini mas Kevin berubah menjadi sosok yang lebih perhatian, tidak seperti saat pertama Anin tinggal dirumah ini."
__ADS_1
"Sekarang Oma sangat yakin bahwa Kevin mulai mencintaimu, jadi Kita tidak perlu menjalankan rencana Kita lagi"
"Tapi Oma, Aku rasa menghindari mas Kevin adalah jalan yang terbaik untuk hubungan Kami, dengan begitu jika suatu saat nanti Kami berpisah tidak ada yang tersakiti." jujur Anin.
"Apa Kamu tidak mencintai cucu Oma?" tanya Oma Jelita sendu.
"Aku takut mencintai mas Kevin Oma" Anin menundukkan kepalanya.
"Kenapa harus takut? bukankah Dia Suamimu, sudah sepantasnya jika Kamu mencintainya."
"Aku takut tidak rela pergi dari kehidupan mas Kevin"
"Anin angkat kepalamu tatap Oma" Oma Jelita menarik dagu Anin dengan telunjuknya. "Percayalah Kevin tidak akan meninggalkanmu, Oma yakin didalam hati Kevin, nama Anna mulai tersingkirkan dan tergantikan olehmu," Oma Jelita mengenggam tangan Anin.
"Oma yakin sekarang ini Kevin sedang bimbang dengan perasaannya sendiri, jadi bersabarlah"
"Anna adalah wanita yang sangat baik, dan tidak mingkin Aku menyakitinya dengan merebut apa yang seharusnya menjadi milik Anna" lirih Anin.
Oma Jelita menghelah nafas kasar, Ia mengakui bahwa cucu menantu kesayangannya sangatlah keras kepala, Anin tidak akan pernah mengambil keputusan untuk hidup bahagia saat perasaan seseorang akan terluka.
"Yang pantas berada disisi Kevin itu hanya Kamu, sosok yang lembut dan juga penuh perhatian, mampu mengubah Kevin menjadi lebih hangat, bahkan Kamu dengan mudahnya akrab dengan Ajeng dan juga Elvan, padahal mereka bukanlah tipe orang yang mudah akrab dengan orang baru."
"Kehadiran Kamu di keluarga ini, sangatlah berarti, keluarga ini sangat membutuhkanmu."
"Jadi mulai sekarang jangan pernah berkecil hati apa lagi merasa tidak pantas berada di sisi Kevin, Kamu berhak atas dirinya, dan Kamu tidak salah jika mencintainya, bahkan Oma akan sangat senang jika Kamu membalas cinta cucu Oma."
"Oh iya, Oma jadi lupa tujuan Oma memanggilmu" Oma Jelita mengembangkan senyumnya.
"Memangnya tujuan Oma apa?"
Oma Jelita mengambil sebuah kotak di dalam lemari besar miliknya. "Tadi nya Oma ingin memberikan ini di hari ulamg tahunmu, tapi Oma sudah tidak sabar untuk memberikannya." Oma Jelita memberikan kotak merah tersebut.
Anin menerima kotak tersebut "Aku tidak mengharapkan kado dari Oma, orang menginggat ulang tahunku saja Aku sudah sangat senang" Anin merasa sangat bahagia, karena orang yang sangat Ia sayangi mengingat hari ulang tahunnya.
"Kamu memang benar-benar berjodoh dengan cucu Oma, bahkan hari lahir kalianpun sama" goda Oma Jelita membuat Anin tersipu.
"Bukalah!" Anin segera membuka kotak merah tersebut dan seketika mata bulatnya bertambah bulat melihat isi dari kotak tersebut.
__ADS_1
Satu set perhiasan yang di lapisi dengan berlian yang sangat berkilau nan indah. "Aku tidak bisa menerima ini Oma" tolak Anin, bahkan dirinya tidak berani untuk menyentuhnya.
"Oma tidak menerima penolakan, itu adalah mas kawin ibunya Kevin, Dia menitipkannya pada Oma dan berpesan pada Oma untuk memberikannya pada menatunya suatu saat nanti."
"Baiklah Aku akan mengambilnya Oma, tapi Aku tidak berjanji untuk memakainya" senyum Anin.
Oma Jelita hanya menganggukan kepalanya. "Kembalilah kekamarmu, Suamimu pasti sedang menunggumu" goda Oma Jelita.
Anin hanya menganggukan kepalanya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Oma Jelita, dan berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar Anin mendapati Suaminya yang sudah tertidur pulas di atas sofa bed. Anin mendekati ranjang tanpa mengeluarkan suara, karena tidak ingin mengganggu tidur Suaminya. menyusutkan tubuhnya kedalam selimut.
Anin memandangi wajah tampan Suaminya walau dari jarak jauh "Apa mas Kevin juga berpikir seperti Oma? bahwa Aku sangat berarti di rumah ini? membawa kehangatan untuk keluarga ini?"
Kevin yang sedari tadi hanya pura-pura tidur, merubah posisi tidurnya, yang awalnya telentang, kini mengesar tubuhnya kepinggir sofa bed menghadap kearah Anin.
Anin yang tidak menyadari itu segera bangun dan menghampiri Suaminya, berjongkok di sisi sofa bed agar lebih leluasa menatap wajah tampan Suaminya. Satu tangannya mengelus perutnya yang buncit, yang kini umurnya sudah masuk tujuh bulan.
"Lihatlah nak, alis ayahmu melengkung begitu indah, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, dan bibir yang indah. jika Kamu mewarisi wajah ayahmu tentu saja Kamu akan sangat tampan" Anin terus tersenyum memandangi wajah tampan Suaminya.
Sementara Kevin dengan sekuat tenaga menahan senyumnya saat mendengar pujian Anin. "Apa setiap Aku tidur Dia akan melakukan ini? jika saja Aku tahu, mungkin setiap malam Aku akan pura-pura tidur agar bisa mendengar pujiannya" batin Kevin
Setelah puas menatap wajah tampan Kevin, Anin seger berdiri dan bergegas untuk tidur. Namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan menariknya, membuatnya terjatuh di atas sofa bed.
Setelah tubuh Anin mendarat dengan aman di atas sofa bed, Kevin segera menarik Anin kedalam pelukannya, mencium kening Anin dengan lembut tanpa membuka matanya.
"Jangan bergerak tetaplah seperti ini" Kevin kembali mendaratkan ciumannya pada kening istrinya.
-
-
-
TBC
jangan lupa dukung Author dengan memberikan like, komen, dan juga vote.
__ADS_1