
"Sayang Aku minta maaf atas nama Ayahku, tolong jangan marah oke" Ans berusaha membujuk Tari yang masih cemberut karena ulah Ayahnya.
"Aku tidak marah, Aku cuma kesal, sudahlah, Aku mau kerja dulu" Tari yang akan membalikkan tubuhnya segera dicegah oleh Ans.
Ans langsung menarik Tari kedalam pelukannya lalu mencium bibir Tari, membuat sang empunya bibir mendorong tubuh Ans dengan kuat.
"Apa yang Kamu lakukan hah?" bentak Tari mendorong tubuh Ans untuk menjauhinya.
"Aku hanya ingin mambujukmu, Aku kira itu adalah cara yang ampuh" kilah Ans, yang nyatanya tidak ingin jika Tari berbalik dan melihat Anna sedang bergelayut manja pada Kevin.
"Aku sudah bilang, Aku itu tidak marah hanya kesal saja, dan apa itu tadi? sungguh Kamu membuatku malu, ini itu rumah sakit." gerutu Tari.
"Baiklah Aku tidak akan melakukannya disini, nanti saja ketika Kita sudah sampai di rumah, Aku akan menutup pintu kamar rapat-rapat" goda Ans.
"Hei apa yang Kamu bicarakan hah? jangan berfikiran macam-macam, Kita itu belum sah" protes Tari yang kini wajahnya sudah memerah karena merasa malu dengan perkataan Ans.
"Ayo, katanya Kamu mau pergi kerja kan? Kita barang aja" Ans kembali merangkul tubuh ramping Tari, namun tetap saja Tari menolaknya.
Tari tersenyum pada Ans membuat Ans bergidik ngeri takut akan ada hal terjadi di luar dugaannya. "Karena Aku suka dengan tantangan, Aku akan membuktikan padamu, bahwa Aku bisa meluluhkan Ayahmu dengan caraku sendiri, tanpa ada sandiwarapun di dalamnya" Tari senyum dan melangkahkan kakinya meninggalkan Ans.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kevin menyempatkan diri untuk menemui Anna di rumah sakit sebelum berangkat bekerja, namun yang membuatnya risih, Anna terus saja menempel seperti lem padanya.
"Sayang, Aku nga suka dengan makan rumah sakit" protes Anna manja.
"Itulah resikonya pasien, makanlah agar Kamu cepat sembuh" Kevin menyiapkan sarapan untuk Anna.
__ADS_1
Anna mengambil sendok yang terletak di atas meja. "Aw" Anna melepaskan sendok itu dan meringis kesakitan, karena tangannya terluka dan sedang di perban.
Kevin yang merasa kasihan melihat kondisi Anna segera mengambil sendok tersebut. "Aku akan menyuapimu" Kevin dengan telaten menyuapi Anna.
"Aku jadi penasaran bagaiamana Aku merayakan ulang tahunmu tahun ini" ucap Anna yang berusaha mengingat kejadian di masa lalu.
"Kamu tidak merayakannya, tapi Kamu tenang saja ada seseorang yang menemaniku" ucap Kevin tanpa sadar tersenyum saat mengingat hari ulang tahunnya bersama Anin.
"Sepertinya Kamu bahagia di hari ulang tahunmu ini, Aku harus berterima kasih pada orang itu kerena sudah menemani pacarku ini. Kalau Aku sudah sembuh pertemukan Aku dengannya ya" pinta Anna.
"Iya Aku akan mempertemukanmu setelah Kamu sembuh, dan mengatakan semuanya" batin Kevin.
"......" Kevin hanya mengangukkan kepalanya tanda setuju.
Setelah Anna selesai makan, Kevin membereskan bekas makanan Anna dan meletakkannya di atas nakas. "Aku akan kembali setelah pulang bekerja" ucap Kevin dan berlalu pergi meninggalkan Anna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kevin memberikan berkas pertama pada Ans setelah Ia menandatanganinya. "Wah ini benar-benar hebat" ucap Ans mengambil berkas tersebut.
Kevin tidak menanggapi perkataan Ans, dan kembali menanda tangani berkas selanjutnya lalu memberikannya pada Ans. "Sungguh hebat" Ans kembali bersuara.
Kevin yang sudah tidak tahan dengan ocehan sekretarinya segera menghentikan pekerjaannya. "Kamu itu sedang membicarakan apa sih, hebat, hebat" protes Kevin yang kini menatap tajam pada Ans karena merasa terganggu.
"Saya merasa Anda sangat hebat Tuan" Ans kini memperlihatkan kekesalannya pada atasannya.
"Apa masaksudmu hah?" kini Kevin ikutan kesal pada sekretarisnya.
__ADS_1
"Saya kira Anda sudah melepaskan Anna setelah kejadian kemarin, tapi Saya melihat dengan mata kepala Saya sendiri, Anda sedang bersama Anna di rumah sakit, beruntung Tari tidak melihat Anda, Anda tahu sendiri kan jika Tari melihatnya" jelas Ans yang kini mulai membela Anin karena kesal dengan sikap Kevin.
"Itu karena Saya kasihan padanya, makanya Saya merawatnya tidak lebih" bela Kevin pada dirinya sendiri.
"Dengan susah payah Anda mengatakan semuanya pada Anna, dan memutuskan untuk bersama Nona Anin.Tapi apakah Anda pernah berfikir? dengan Anda kembali bersikap seperti dulu, maka semuanya akan kembali rumit. Atau Anda memang ingin memiliki keduanya?" jujur Ans yang tidak ingin memendam apa-apa lagi pada temannya agar tidak terjadi lagi kesalapahaman yang akan menyakiti temannya sendiri.
"Apa yang Kamu katakan Ans? Saya hanya membantu Anna dan tidak akan kembali padanya, karena saya mencintai Istri Saya" jelas Kevin.
"Saya hanya memberi tahu Anda Tuan, dan saran Saya, sebaiknya Anda secepatnya mengatakan pada Anna bahwa nona Anin adalah Istri Anda, dengan begitu nona Anin tidak akan merasakan sakit lebih dalam." Ans memberi saran, "Kalau begitu Saya pamit dulu Tuan" Ans berjalan keluar ruangan Kevin, membawa berkas-berkas yang telah di tanda tangani Tuannya.
Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di kontrakan Tari. Tari meluapkan segala kekesalannya pada Anin, seperti Ans yang kesal pada Kevin.
"Anin apa Kamu sudah gila hah? apa Kamu tidak tahu? sekarang banyak sekali perceraian yang terjadi hanya karena cinta lama bersemi kembali" Tari memperingatkan Anin.
"Aku hanya kasihan pada Anna, Dia tidak memiliki siapapun di kota ini" ucap Anin.
"Ya Kamu kasihan dengan Anna, lalu apa Kamu fikir Dia akan berfikir sepertimu? jangan bodoh Anin" Tari terus memperingatkan Anin. "Bisa tidak sekali saja, Kamu tidak perlu memikirkan perasaan orang lain, dan fokus pada dirimu sendiri?" pinta Tari yang merasa geram dengan kepolosan temannyan itu.
"Aku percaya sama mas Kevin, Dia tidak akan melakukan itu padaku"
"Anin Kita tidak tahu apa isi hati seseorang" Tari memperingatkan.
"Tapi yang menyebabkan semua ini terjadi adalah Aku, jadi Aku harus bertanggung jawab atas hal ini, jika Aku tidak melakukannya dan terjadi apa-apa pada Anna, Aku akan menyesal seumur hidupku"
"Apa Kamu yakin dengan keputusanmu itu? membiarkan Kevin merawat Anna hingga Ia sembuh? Apa Kamu tidak akan tersakiti melihat mereka bersama? apa Kamu tidak takut jika suatu saat nanti Kevin meninggalkanmu dan kembali pada Anna?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Tari, untuk memastikan bahwa temannya tidak akan terluka karena hal ini, bagaimanapun Ia sudah menganggap Anin adalah adiknya, jika Anin bahagia, Ia juga akan bahagia melihatnya.
"Iya Aku yakin dengan keputusanku, dan Aku percaya pada mas Kevin" Anin mengangukkan kepalanya.
__ADS_1
Tari menghela nafas panjang. "Anin Aku takut Kamu akan terluka" jujur Tari memeluk tubuh sahabatnya.
"Percayalah padaku, Aku tidak akan mudah terluka hanya karena hal seperti ini, ada anakku yang selalu membuatku kuat" Anin mengelus perut buncit nya.