
Pengamanan di perketat. Para lelaki yang berseragam jas hitam. Sibuk memastikan keamanan di sekitar Naura dan juga Berlin sambil berjalan menuju ke arah mobil yang akan menjemput mereka berdua.
Lambaian tangan dari perempuan cantik yang di rangkul mesra oleh suami tercintanya itu menyambut kedua gadis tersebut yang sedang mendekati kearahnya. Marsha mengulas senyuman manis ke arah Naura dan juga Berlin.
"Mereka berdua akan naik mobil yang ada di belakang kita." ucap Alvaro datar dengan kedua mata elang yang sedang mengawasi keadaan sekitar.
"Iya, iya! Bawel banget sih kamu!" Cibir Marsha menatap kesal.
Belum lagi Naura dan Berlin yang menghampiri dari arah belakang tanpa di duga, Ibu tiri Naura tiba-tiba saja datang dan langsung berlari ke arah Naura dan Berlin dengan membawa pisau tajam yang ada di genggaman tangannya.
"Awas!" Teriak Marsha panik, yang melihat Ibu tiri Naura terlihat menggebu-gebu ingin melukai Naura.
Marsha pun langsung berlari. Jiwa heroik perempuan itu pun terpanggil alami hingga tidak memikirkan kondisi dan situasi sekitar. Perempuan cantik itu lolos dari rangkulan suami tercintanya hingga membuat Alvaro terkesiap luar biasa.
"Marsha!" Teriak Alvaro langsung mengejar Istri tercintanya.
"Matilah kau, Naura!" Ucap Ibu tiri Naura yang sudah di selimuti oleh nafsu yang membunuh.
Dengan sigap salah satu bodyguard yang ada di samping Naura dan Berlin berhasil melumpuhkan pergerakan Ibu tiri Naura. Tidak usah di tanyakan lagi bagaimana keadaan kedua gadis yang masih terlihat syok tersebut saat mendapati penyerangan dari Ibu tiri Naura yang tiba-tiba. Dan rasa syok yang di alami oleh kedua gadis itu belum selesai sampai di situ saja.
Marsha yang sedang berlari kini mendapatkan ancaman dari mobil kijang Innova yang sedang melaju kencang ke arahnya. Sontak saja Naura dan Berlin langsung berteriak dan berlari ke arah Marsha saat melihat Marsha hendak di tabrak oleh mobil kijang Innova tersebut.
"Kak Marsha! Awas!" Teriak Naura dan Berlin panik dalam langkahnya yang berlari cepat.
Sayangnya, langkah kedua kaki gadis itu kalah cepat dari mobil kijang Innova yang sedang melaju kencang. Marsha yang berniat ingin menghindarinya pun seketika langkahnya terhenti.Tubuh Marsha tiba - tiba menjadi gugup, bingung dan otaknya pun melambat untuk berpikir karena ancaman yang sedang terjadi di depan matanya.
Beruntung perempuan cantik itu langsung di tarik cepat oleh Alvaro yang langsung mengejar istrinya dari arah belakang hingga terdorong dan terjatuh keras di atas lantai.
__ADS_1
Mangsa pertama yang tidak berhasil di taklukkan oleh para pemburu yang sudah di selimuti nafsu berburu tidak mau menyerah karena mereka melihat dua mangsa baru yang terlepas dari pengamanan yang berada dalam radius mudah untuk di rengkuh.
Suara berdecit dari rem mobil kijang Innova yang mengerem mendadak mengalihkan semua fokus orang-orang pada asal suaranya. Ya, mobil hitam itu sekarang sudah berhenti di hadapan Naura dan juga Berlin.Dua orang yang berada di dalam mobil itu langsung menarik Berlin dan Naura hingga keduanya masuk kedalam mobil. Sebisa mungkin mereka berdua mencoba untuk memberontak tapi sayang kekuatan tenaga mereka tidak sebanding dengan dua orang yang berbadan besar yang berada di dalam mobil itu.
Suara tembakan berasal dari salah satu bodyguard Alvaro langsung melesat tajam. Ketika mobil kijang Innova itu sudah tertutup rapat. Sedangkan Alvaro yang masih memeluk istri tercintanya langsung bangkit dan meraup tubuh Marsha yang lemah berlari mencari tempat yang aman untuk keduanya. Karena suara tembakan yang saling bersahutan. Hingga akhirnya mobil kijang Innova yang membawa Berlin dan Naura pun berhasil melesat menghilang pergi di depan mata.
"Cepat ikuti mereka dengan sinyal GPS yang ada pada Nona Berlin !" Perintah ketua pengawal pada para bawahannya.
Sementara keadaan parkiran rumah sakit itu terlihat cukup kacau. Dan Ibu tiri Naura yang masih dalam cengkraman para bodyguard Alvaro pun tidak berkutik.
"Amankan segera Nyonya ini!" Perintah tegas sang ketua pengamanan. Memberikan perintah untuk mengamankan Ibu tiri Naura. "Dan kau, cepat lihat keadaan Nyonya dan Tuan muda." sambungnya lalu beberapa anak buahnya pun langsung berlari ke arah Marsha dan Alvaro.
"Sayang....! Sayang....!" Ucap Alvaro yang kini di landa rasa panik melihat Marsha yang mengerang kesakitan.
"Sakit Alvaro! Sakit sekali rasanya!" Suara Marsha mengalun bergetar, merintih kesakitan dengan tangan lemahnya mengusap perutnya.
***
"Sepertinya semakin sibuk saja dokter Julian ini?" Evan mencegat langkah Julian yang baru saja keluar dari ruang perawatan pasien.
"Kau seorang dokter juga, kan? Harusnya kau juga peduli dengan keadaan Ayahmu yang saat ini sedang mempertaruhkan nyawanya!" Julian menggeram kesal dengan menyorot tajam ke arah Evan di depan mata. "Oh ya, aku itu kadang lupa. Kau kan hanya menginginkan harta dari Ayahmu daripada nyawanya. Yah, mungkin saja feeling Tuan Galang sangat tepat untuk menjadikan kekasihku sebagai pewaris sah yang sebenarnya," ujar Julian yang menyindir sekaligus membongkar secuil rahasia yang terpendam.
"Kau!" Evan menggeram. Lelaki itu menenangkan sejenak untuk tidak terpancing. "Jangan senang dulu Tuan muda Alvarendra. Akan ada kejutan lain yang menanti hingga membuat jantungmu berdebar. Mungkin saja bisa membuatmu lari terbirit-birit dan sebenernya itu sangat mudah untukku." Evan mengajukan wajah bengisnya. "Mencabut nyawa Ayahku!" Sambungnya berbisik lalu mengulas seringai.
Mulut Julian yang baru saja terbuka, seketika tak bisa berkata-kata. Niat hati ingin membalas ucapan terkutuk dari Evan tercegah oleh suara deringan ponselnya.
"Ada apa, Kak?" tanya Julian langsung to the point pada Alvaro melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Kau masih di sana?" tanya Alvaro memastikan dengan nada suara yang marah.
"Iya. Memangnya kenapa, Kak? Apa yang terjadi?" Julian kembali bertanya dengan sedikit kebingungan.
"Dengarkan aku, Lian. Jika kau masih ada di sana dan bertemu dengan Kakak tiri Naura yang laknat itu, langsung pecahkan saja kepalanya sekarang juga! Atau kalau bisa langsung suntik mati saja dia!" Seru Alvaro dengan penuh kemarahan.
"Ada apa, Kak?" tanya Julian yang semakin bingung. Tatapan kedua mata menyorot tajam ke arah Evan yang sedang mengulas senyuman mengejek.
Ya, Kakak tiri Naura seolah sedang menyerahkan diri untuk menyambut dengan sukarela amukan kemarahan dari Julian. Bukannya berlari tapi malah pasrah menunjukkan dirinya di hadapan Julian.
"Marsha mengalami pendarahan dan sedang dalam penanganan dokter di IGD! Sedangkan Berlin dan Naura di culik, oleh orang - orang Gary. Dan apa kamu tahu, si kutu busuk itu ternyata sudah bekerja sama dengan Kakak tiri Naura yang laknat itu!" Seru Alvaro.
Tanpa membuang waktu pukulan keras langsung dari tangan Julian melayang sempurna di wajah Evan. Lelaki itu pun langsung terjatuh dan kesempatan itu tidak di sia - siakan oleh Julian untuk menghajarnya tanpa ampun dengan kepalan tangan yang terselimuti oleh kemarahannya yang sudah meledak.
"Kurang ajar kau! Berani - beraninya kau menyentuh keluarga dan pacarku!" Geraman kemarahan Julian di tengah - tengah pukulan demi pukulan ia layangkan di wajahnya Evan.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.