
Doni mengintip Viana yang sejak beberapa menit lalu telah tertidur sebelum sempat mengunci pintu kamarnya. Di balik pintu, Doni melet-melet, menjulurkan lidahnya sesekali sambil menatap lamat kemolekan tubuh istrinya tersebut. Memang sudah tak bisa dibendung hasrat lelaki itu sejak malam pertama pernikahannya dengan Viana. Meskipun Viana merupakan teman akrabnya di SMA, itu tidak berpengaruh bagi Doni. Hasrat, ya, hasrat. Hubungan pertemanan, ya, beda lagi ceritanya. Oleh sebabnya, sejak SMA pun, Doni sudah mengincar tubuh Viana. Maklumi saja, Doni memang penggila seks.
Tak terhitung jumlahnya wanita yang telah ia tiduri. Tujuannya berpacaran pun dulunya hanya untuk menikmati tubuh para perempuan. Doni hanya mengandalkan uang dan kekayaan orang tuanya. Bahkan saat ia sudah putus dari semua pacarnya, ia tak segan menyewa wanita malam untuk memenuhi nafsunya itu.
Anjir banget. Istri gue emang bahenol. Nggak nyesel gue nikahin dia. Eh, tapi nyesel juga, sih, pikirnya seraya memutar bola matanya berada di sudut.
Napas Doni sudah tidak menentu, menderu desau seolah-olah telah berlari mengelilingi lapangan sepak bola. Akhirnya, dengan segala kenekatan, lelaki tersebut melangkah pelan berusaha senyap. Ketika dirinya telah sampai di sebelah ranjang, ditatapnya sejenak Viana yang tidur dengan posisi menyamping.
Istrinya mengenakan singlet, tentu tak pakai lengan, apalagi leher pakaiannya itu melebar. Jadi, ketika posisi Viana tidur dengan menyamping, dadanya yang cukup bisa dikatakan besar itu menyembul belahannya. Doni kembali melet-melet, seolah liurnya sudah mau tumpah. Ia menggeleng-geleng kagum dengan segumpal daging berisi lemak yang menempel di dada Viana, membuat dirinya yang kedua menegang spontan.
"Ehm, ahh." Viana mengerang, entah sedang bermimpi apa dirinya. Yang pasti, erangan sang perempuan semakin membuat Doni menggebu ingin menggerayangi tubuh istrinya.
Aduh, sialan. Gue harus gimana ini? Masa, iya, gue memperkosa istri sah gue sendiri? batinnya lagi-lagi kebingungan.
Doni berpindah ke sisi ranjang satunya, lalu mulai mengangkat selimut lebar bermotif bunga yang membenamkan setengah tubuh Viana. Lelaki itu menelungkup dirinya dan tidur di samping sang istri. Posisinya dibelakangi oleh Viana.
Wangi khas tubuh Viana semakin membutakan akal Doni. Meski pada saat itu, ia tak tahu harus bagaimana, tetapi di balik selimut yang menutup sebagian tubuhnya, tangannya bermain di balik celana. Namun, hanya beberapa detik saja setelah akhirnya Viana mengubah posisi dan tiba-tiba membuka matanya. Yang ia temukan adalah Doni sambil cengengesan di sebelahnya.
"Aaaaaa!" teriak Viana karena terkejut setengah mati.
"Ngapain lo di sini?!" cecar Viana yang pada saat itu rasa kantuknya telah hilang, lantas memelototi Doni. "Mau perkosa gue lagi, ya? Pergi nggak lo?!" Viana mengangkat tangannya dan membentur-benturkan di bahu Doni. Membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.
"Aduh, aduh! Maaf. Sorry.** Gue cuma--"
"Cuma apa?! Pergi nggak lo?!"
"Iya, iya pergi." Doni segera bangkit dan menjauh dari ranjang, tapi ia belum beranjak keluar, masih berdiri melihat Viana.
"Ngapain diem di situ?"
__ADS_1
"Vi. Bantu gue. Gue ... udah pengin banget." Doni memelas sambil memegang selangkangannya.
"Lo pikir gue cewek apaan, hah?!" Viana beranjak duduk, matanya awas.
"Lah, bukannya wajar, ya? Gue ini, kan, suami elo, Vi. Gue mau apain elo terserah gue, dong."
"Mata lo picek! Nggak ada! Keluar lo dari kamar gue!" usir Viana yang telah berwajah murka.
"Sekali, Vi. Sekali doang. Mana ada suami memperkosa istrinya."
"Lo denger, ya. Kalau lo maksa-maksa anu. Sekalipun gue sah istri lo, itu namanya tetap pemerkosaan."
"Halah, ngarang! Baru tahu gue suami mau anu, dibilang memperkosa."
Viana bangkit dan menghampiri Doni, lalu mendorong-dorong tubuh Doni dengan sekuat tenaga. "Keluar nggak lo?! Keluaaaaarrrrr!"
"Nyebelin banget, sih, lo! Bukan itu maksud gue. Elonya yang keluar, Setan!"
"Gue bukan setan. Gue suami lo, dan gue berhak atas tubuh lo." Doni bersikeras, melawan tenaga dorong Viana.
"Peraturan pertama gue, elo nggak boleh NYENTUH GUE!" tegas perempuan tersebut sembari kembali mendorong tubuh Doni.
"Pelit lo!"
Terpaksa Doni keluar tanpa mendapatkan apa-apa. Setelah berhasil keluar, Viana menutup dan mengunci pintu. Ia kini membawa dua kunci. Jadi, Doni tak punya cadangan kunci lagi untuk menyelinap ke kamar tersebut seperti apa yang telah ia lakukan beberapa hari sebelumnya.
Doni menghela napas gusar sembari berbaring di sofa. Pikirannya sedang bekerja keras, memikirkan kenapa Viana sangat membenci dirinya. Setahu Doni, Viana dulu tak pernah bergaul dengan anak-anak lain selain geng Doni yang ia beri nama The Seenak Udel. Nama tersebut tercetus karena geng mereka memang seenak udel. Mau masuk atau nggak, terserah mereka. Seolah sekolah tersebut milik nenek moyangnya.
Meski telah memikirkan segala kemungkinan, Doni tidak mendapatkan hasil. Bahkan tak satu pun ia mengingat tingkah aneh Viana sebelum di malam pertama pernikahannya. Doni tahu Viana anak perempuan yang tidak cerewet bahkan selalu menjaga sikap dulunya. Namun, sekarang istrinya itu sudah berubah menjadi setan keji yang menghalangi nafsunya ingin tersalurkan dengan resmi.
__ADS_1
Cukup lelah memikirkan hal tersebut, Doni terlelap ke dunia mimpi.
-----------
"Eh, bangun lo!" Viana menepuk-nepuk pipi Doni demi membangunkannya dari tidur.
"Apaan, sih? Orang lagi mimpi enak-enak malah dibangunin." Doni bersungut kesal, ia belum sepenuhnya membuka mata.
"Enak-enak apaan? Otak lo mesum mulu tiap hari. Cepet, bangun! Anterin gue ketemu temen-temen gue."
"Yaelah. Udah dipaksa jadi babu, sekarang lo paksa gue jadi sopir lo. Pergi sendiri aja kenapa, sih. Gue males!" Doni belum beranjak, ia malah membenarkan posisinya untuk kembali tidur.
Viana tak segan-segan melakukan hal yang menyakitkan pada lelaki tersebut sehingga tangannya ia bentuk seperti capit dan mencubit perut Doni hingga lelaki itu memekik sakit.
"Aduh, aduh, aduh! Iya, iya, iya, gue bangun. Gue bangun."
Viana berhasil membuat Doni beranjak dan kini tengah berdiri meskipun mata sang lelaki masih dikuasai kantuk.
"Mandi lo!"
"Bentar ...." Doni menjawab dengan lemah, matanya terpejam. Tampaknya ia ngantuk berat. Namun, tentu saja Viana tidak peduli akan hal itu, otomatis sang perempuan menggunakan jurus andalannya, yaitu menendang selangkangan Doni hingga suaminya tersebut tak mampu memekik saking merasa sakit yang tiada tara.
Doni melangkah ke kamar mandi sembari memegangi selangkangan.
"Gue dilawan. Dasar cowok pemalas! Nafsuan! Otak mesum! Emang apa yang menarik dari dia? Kok bisa Riana gila sama, tuh, orang," gumamnya dengan memandangi Doni yang telah menghilang karena masuk ke kamar mandi yang berada di sebelah dapur.
"Cowok kayak lo mesti dikasih pelajaran, Don! Biar lo tahu rasanya jadi cewek yang dipermainkan, dan lo cuma ambil keperawanan orang doang!"
----------
__ADS_1