
"Oh Aku lupa Kau kan sangat mencintaiku" Kau sampai-sampai bersujud di kakiku agar Aku tidak meninggalkanmu" ejek mantan Tari lagi.
"Aku punya pacar dan Kita akan segera menikah" jawab Tari.
"Hah, mana ada pria yang suka padamu, selain Aku" lanjut mantan Tari.
Tari sudah tidak tahan dengan semua penghinaan yang Ia dapatkan dari mantan pacarnya didepan semua teman-teman SMAnya matanya mulai berkca-kaca dan sangat malu.
"Sayang, kenapa Kamu lupa membawa dompetmu?" ucap seorang pria.
Tari menatap Pria yang baru saja datang dengan setelan jas abu-abu yang terlihat sangat berwiba dan juga tampan. Tari diam saja mencerna baik-baik perkataan pria yang ada dihadapannya saat ini.
"Hei, kenapa Kamu diam saja, Aku kesini mengantarkan dompetmu, Aku tidak ingin jika tunanganku sampai diperlakukan karena tidak punya uang" ucap Ans, ya pria itu adalah Ans.
"Ah iy, terimakasih, sa...sayang" ucap Tari terbata-bata dan ingin sekali muntah saat memanggil Ans sayang.
"Hah bahkan Aku tidak percaya Kau akan melakukan ini, menyewa seseorang untuk menjadi pacarmu, Aku tahu kalian itu hanya pura-pura pacaran didepan kami" ejek mantan Tari lagi.
Ans menatap Tari sebentar yang matanya sudah memerah menahan air matanya agar tidak jatuh, lalu mengalihkan tatapanya yang berubah tajam pada pria yang ada dihadapannya.
"Hei kenapa Kamu diam saja? mana Tariku yang kuat,? ucap Ana mengelus pipi tari.
"Anda bekerja dibagain mana? apa Anda tidak mengenalku? oh Iya Saya lupa, pebisnis rendahan seperti Anda tidak akan pernah mengenalku," ucap Ans merendahkan.
"Pebisnis rendahan? jaga bicara Anda pacar palsu" ucap mantan Tari geram.
"Palsu? apa Kau butuh bukti bahwaTari adalah tuananganku hah?" bentak Ans dan membakikkan tubuhnya menghadap pada Tari, melingkarkan tangan kokohnya dipinggang Tari dan menariknya masuk dalam pelukannya, mendekatkan wajahnya dan mencium bibir tipis Tari.
Tari menutup matanya, tidak menyangka Ans akan melakukan semua ini padanya, jantungnya tiba-tiba berdebar sangat kencang. Tari bernafas lega setelah Ans melepaskan ciumannya.
"Apa Anda ingin bukti yang lain?" tanya Ans masih dengan tatapan tajamnya.
Pria itu diam saja tanpa berniat menjawab pertanyaan Ans.
"Jika sekali lagi Anda menghina atau mempermalukan tunangan Saya seperti ini, maka jangan salahkan Saya jika dunia bisnismu hancur" ancam Ans.
"Kau mengancamku, Aku tidak takut denganmu, Kau tidak pantas menjadi sainganku, Saya adalah pengusaha terkenal, dimana-mana tidak ada yang bisa megalahkanku, selain Tuan Kevin.
Ans senyum sinis mendengar penuturan Pria sombong yang berdiri dihadapannya. Ans melemparkan kartu namanya ke hadapan Pria tersebut. "Sayang ayo Kita pergi, Aku tidak punya waktu berdebat dengan orang tidak penting sepertinya" ucap Ans mengenggam tangan Tari keluar dari restoran tersebut.
Sementara mantan Tari mengambil kartu naman yang jatuh kelantai dan mebacanya "Sekretaris Ans? Adhitama Grub?" gumam mantan Tari sambil mengingat-ingat nama Ans, dan sektika wajahnya memucat saat mengingat siapa pemilik nama tersebut.
"Sial kenapa Aku tidak bisa mengenali tangan kanan Tuan Kevin" batin mantan Tari.
*****
__ADS_1
Sementara di tempat lain seorang Istri tengan mengemas pakain Suaminya dan memasukkannya kedalam koper, mempersiapkan segala keperluan yang akan dibawa Suaminya ke Eropa, siapa lagi kalau bukan Anin.
"Siap" ucap Anin setelah semuanya selesai.
Anin melangkahkan kakinya mendekati ranjang, karena sangat lelah dan juga pusing, mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang, memijit keningnya berharap rasa sakit kepalanya mereda.
"Apa kamu baik-baik saja? apa ada yang sakit?" tanya Kevin yang baru saja tiba didalam kamar.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing" jawab Anin.
Kevin segera mengendong tubuh Anin dan meletakkannya di samping tempat tidur, menyandarkan punggung Anin di kepala ranjang. Setelah itu Kevin melangkahkan kakinya keluar kamar.
Beberapa menit kemudian Kevin datang membawa segelas Air hangat dan juga Vitamin di atas nampang.
Kevin memberikan vitamin yang dibawanya dan juga segelas air hangat pada Anin "Minumlah dulu" ucap Kevin.
Anin menuruti perintah Kevin, Ia meminum vitamin tersebut. "Aku sudah mengemas semu barang-barang mu, sisa Kamu periksa saja, apa masih ada yang kurang" ucap Anin.
"Aku kan sudah bilang biar Aku saja, Kamu itu haru istrahat, ingat Ada Baby Kita disini" Kevin mengusap-usap perut Anin. Hati Anin menghangat mendapatkan perlakuan lembut dari Kevin. "Atau Kamu sudah tidak sabar menyuruhku pergi? agar bisa terus berduaan dengan Dilan?" tanya Kevin menyelidik.
"Apa maksudmu? Aku hanya ingin melayani Suamiku dengan baik" jawab Anin.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Kevin.
"Su..suami?" lirih Anin menundukkan kepalanya.
"Maaf Aku tidak bermaksud.........."
"Jika begitu panggil Aku layaknya Suamimu bukan temanmu." perintah Kevin.
"Maksudmu?"
"Panggil Aku seperti Kamu menyebutku didepan Oma dan yang lainnya" pinta Kevin.
"Ma...mas Kevin?" lirih Anin.
".........." Kevin menganggukkan kepalanya dan senyum.
"Kenapa Dia bersikap seperti ini padaku?, jika Dia terus-terus seperti ini bisa-bisa Aku akan berharap lebih" batin Anin.
"Tidurlah ini sudah malam, tidak baik bagi kesehatanmu jika tidur terlalu larut." Kevin membaringkan tubuh Anin diranjang lalu berjalan kesofa membaringkan dirinya, memandangi punggung Istrinya yang membelakanginya.
*****
Pagi harinya Anin mengantarkan kepergian Kevin sampai didepan pitu rumah, setelah kepergian Kevin, Anin duduk bersandar di teras rumah menunggu Dilan menjemputnya ke kantor, karena selama kepergian Kevin Oma Jelita meminta Dilan menemaninya.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Anin menghampiri meja resepsionis yang juga Ans disana sedang menggobali pegawai tersebut.
"Ans Ak........" belum sempat Anin melanjutkan perkataannya tubuhnya sudah ambruk dan terjatuh ke lantai tidak sadarkan diri.
Dilan membawa Anin ke rumah sakit, setelah sampai dirumah sakit, dengan segera dokter Rangga menangani Anin di dalam ruangan ICU.
Tiga puluh menit telah berlalu akhirnya Anin keluar dari ruangan ICU dan di tempatkan di ruangan perawatan VIP.
Dert.....dert....dert.
Ponsel Ans bergetar membuat sang empunya berheti melangkahkan kakinya yang hendak memasuki ruang perawatan Anin.
"Batalkan semua jadwal meeting hari ini, dan jaga Anin ! hari ini Dia kelihatan lelah dan juga pucat" perinta Kevin di sebrang telfon.
"It....itu Nona tadi tidak sadarkan diri dan baru saja keluar dari ruang ICU" jelas Ans gugup.
"Bagaimana keadaannya apa Dia baik-baik saja?" tanya Kevin dengan nada khawatir nya.
"Anda tenang saja, Nona baik-baik saja, pergilah ada Saya yang akan menjaganya." jelas Ans. "Anna sedang menunggu Anda" lanjutnya.
"Baiklah" Kevin memutuskan sambungan telfonnya.
Ans melangkahkan kakinya memasuki ruang perawatan Anin yang didalamnya sudah ada Oma Jelita, bibi ajeng, Elvan dan juga Dilan.
Anin juga sudah sadar dari pingsannya.
"Kenapa Aku ada disini Oma?" tanya Anin mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan.
"Kamu tadi pingsan sayang, bagaimana perasaanmu apa Kamu baik-baik saja?" tanya Oma Jelita mebelai puncuk kepala Anin dengan sangat lembut.
"Aku baik-baik saja Oma, Kita bisa pulang sekarang kan? Aku masih punya banyak pekerjaan" ucap Anin.
"......." Oma Jelita mengelengkan kepalanya.
"Tapi Aku sudah sehat Oma, Aku janji tidak akan kelelahan lagi, lagi pula Aku tidak suka bau rumah sakit" bujuk Anin manja, ya Akhir-akhir ini Anin sedikit manja pada Oma Jelita.
Oma masih diam saja memikirkan permintaan Anin "Oma Anin mohon, Anin janji tidak akan kelelahan lagi" pinta Anin lagi.
"Baiklah, Kamu bisa pergi jika bersama Dilan, Kamu maukan Dilan?"
"Tidak bisa.............
-
-
__ADS_1
-
TBC