Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Bertemu Dilan


__ADS_3

Kevin mengernyitkan keningnya hingga kedua aslinya saling bertautan saat melihat istrinya sudah rapi dan terlihat cantik. "Sayang udah rapi aja mau kemana?" Kevin melingkarkan lengannya ke leher Anin dan sesekali mencium puncuk kepala Anin.


"Hari ini Aku mau menemui Tari mas, udah lama Aku tidak menemuinya lagi, setelah pertengkaran itu" ucap Anin masih sibuk dengan kuas meke up nya.


"Tapi Aku sibuk sayang, hari ini ada meeting penting, lain kali saja ya" ujar Kevin.


"Aku bisa sendiri kok mas, kan ada pak Anto yang nganterin Aku kemana-mana" Anin membalikkan tubuhnya menghadap sang suami setelah selesai dengan kegiatannya.


"Tapi sayang......"


Anin melingkarkan tangan mungilnya di pinggang suaminya dan mendongak menatap wajah tampan suaminya. "Mas percaya padaku, Aku tidak akan macam-macam di luar sana, apa lagi sampai melirik pria lain, karena Aku hanya mencitaimu." Anin meyakinkan Kevin saat melihat raut wajah suaminya.


"Aku tahu itu sayang, Kamu tidak akan berpaling dariku apa lagi suamimu ini sangat tampa" Kevin mengedipkan matanya dan kembali mendaratkan kecupan di kening sang istri. "Aku hanya takut kamu itu kenapa-napa, aku takut ada yang menyinggungmu." jelas Kevin.


"Mas belakangan ini, Aku sudah bisa mengontrol emosi dan juga perasaanku agar tidak terlalu tertekan, dan aku merasa lebih baik setelah meminum obat dari dokter Rian. Jadi jangan khawatir dengan keadaanku." jelas Anin.


Anin berdiri dan mengambil dasi yang senada dengan kemeja yang di pakai suaminya dan memakaikannya. "Ais kenapa suamiku semakin tampan sih" Anin berdecak kagum membuat Kevin mengembangkan senyumnya yang terlihat cemberut tadi.


"Kamu baru sadar bahwa suamimu ini sangat tampan hah" Kevin menarik pinggang istrinya agar lebih dekat dengannya, dan mengecup bibir sang istri yang sudah menjadi candu baginya.


"Sudah-sudah, mas Kevin nanti terlambat loh" Anin menyambar tas tangannya dan juga jaz suaminya.


Anin mengatar Kevin sampai teras rumah, Anin memasankan jas suaminya, dan memberikan bekal pada suaminya karena tidak sempat sarapan dirumah karena di buru waktu. "Sayang Aku akan menjemputmu nanti siang, tunggulah!" Kevin mengecup kening, pipi, dan terakhir di bibir istrinya, dan masuk ke dalam mobil setelah Anin mencium tangannya.


Ya Kevin belakangan ini sibuk karena Ans tidak lagi bekerja dengannya, Ans fokus pada persiapan pernikahannya, dan akan mengambil alih perusahaan papanya yang bergerak di bidang hukum dan juga batu bara.


"Hei sayang kenapa Kamu melamun?" bibi Ajeng mengagetkan Anin yang masih berdiri di teras rumah memandangngi mobil suaminya yang semakin lama, semakin menjauh dari kediaman Adhitama.


"Ah bibi, Aku tidak apa-apa bi, bi Aku pamit dulu ya mau ketemu sama Tari." Anin mencium tangan bibi Ajeng dan memasuki mobil di mana pak Anto sedang menunggunya.


"Kenapa belakangan ini Anin terlihat berbeda? sering melamun, apa dia ada masalah dengan Kevin?" batin bibi Ajeng.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nyonya kita mau kemana?" tanya pak Anto saat Anin diam saja selama perjalanan.


"Tunggu ya pak, saya tanya teman saya dulu" ucap Anin lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi sahabatnya.

__ADS_1


"Kamu di mana?" isi pesan.


"Aku ada di rumah Ans, kenapa?" balas Tari.


"Tidak apa-apa bersenang-senanglah!" balas Anin.


"Pak ke rumah ibu saja ya" Anin memutuskan kerumah ibunya karena tidak mungkin jika Anin mengganggu kebersamaan Tari dengan calon mertuanya.


"Seandainya Aku punya anak, mungkin Aku tidak akan kesepian seperti ini" batin Anin.


Ya Anin belakangan ini sering melamun karena memikirkan dirinya yang tidak bisa mempunyai anak dalam kurung waktu tidak menentu, dan Anin merasa tidak pantas bersanding dengan Kevin yang punya segalanya dan pastinya membutuhkan penerus.


"Maaf nyonya, ponsel Anda sedari tadi berdering mungkin penting" ucap pak Anto saat berkali-kali mendegar ponsel Anin berdering namun tak kunjung di jawab olehnya.


"Ah, tarimakasih pak" Anin mengambil ponselnya dan tersenyum saat mengetahui id penelfon.


"Halo, apa kabar Dilan, lama tidak bertemu" sapa Anin setelah menjawab panggilan dari Dilan.


"Baik, apa Kamu punya waktu? Aku ingin bertemu denganmu" ucap Dilan di seberang telfon.


"Kebetulan Aku sedang di luar, kirim saja alamatnya Aku akan menemuimu" ucap Anin.


"Pak putar balik ya, kita ke Cafe Batavia saja!" perintah Anin setelah mendapat pesan dari Dilan.


Sebelum menemui Dilan, Anin mengirimkan pesan pada suaminya untuk meminta izin bertemu dengan Dilan, namun Kevin tak kunjung membalas pesannya.


"Mungkin Mas Kevin masih meeting" batin Anin.


Dua luluh menit telah berlalu akhirnya Anin sampai juga di Kafe Batavia dan di sana sudah ada Dilan menunggunya.


"Aku terlambat ya" Anin duduk berhadapan dengan Dilan.


"Tidak, aku saja yang terlalu cepat datang. Minumlah dulu!" Dilan menawarkan jus jeruk pada Anin yang di pesannya tadi setelah sampai di kafe.


"Wah kau memang tahu kesukaanku" Anin menyesap jus jeruk pesanan Dilan karena memang sudah sangat haus.


"Elice!" panggil Dilan.

__ADS_1


"Hei jangan memanggilku Elice lagi, jika suamiku mendegarmu Dia akan marah!" tawa Anin meledak jika mengingat bagaimana ekspresi Kevin saat Dilan memanggilnya dengan sebutan Elice.


"Ya kau benar, suamimu itu sangat posesif. Tunggu, suamimu tahu kan bahwa kita bertemu? aku tidak ingin ada kesalahpahaman" ucap Dilan.


"Kau tenang saja, Aku sudah memberitahunya." Anin kembali menyesap minumannya dan sekali-kali melirik ponselnya namun belum ada balasan dari suaminya.


"Bagaimana keadaanmu? apa sudah ada perkembangan?" tanya Dilan.


"Alhamdulilah baik, belakangan ini penyakitku tidak pernah kambuh lagi setelah meminum obat dari dokter Rian." jelas Anin.


"Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya" batin Dilan terus menatap Anin, membuat Anin gerogi.


Dilan mengelurkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto pada Anin. Anin mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya saling bertautan melihat foto yang ada dalam ponsel Dilan.


"Dilan apa maksudmu memperlihatkan foto itu? di mana Kamu mendapatkannya?" Anin menatap Dilan dengan tatapan menyelidik.


"Waktu kamu pulang bersama Kevin, Aku ke apartemenmu dan tidak sengaja mendapatkan foto ini" jelas Dilan masih dengan senyumannya.


Dilan mengeser layar ponselnya dan memperlihatkan satu foto lagi pada Anin, dan Anin semakin di buat bingung saat melihat foto kedua yang di perlihatkan Dilan.


"Dilan apa lagi ini? siapa mereka? kenapa mereka bisa bersamaku? Dilan jangan membuatku bingung seperti ini! Aku tidak mengenal mereka bahkan baru kali ini aku melihat fotonya?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Anin karena sangat penasaran dengan foto-foto yang di perlihatkan Dilan padanya.


"Apa Kamu ingat apa yang pernah aku katakan di dermaga waktu itu?" tanya Dilan semakin membuat Anin penasaran.


"........." Anin mengelengkan kepalanya karena memang tidak ingat perkataan Dilan.


"Dela.............


-


-


-


-


-

__ADS_1


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up


__ADS_2