
Sebuah lolipop terkulum di dalam mulut Naura. Dokter cantik yang mengenakan baju OK berwarna hijau itu sedang duduk termenung di depan sebuah ruangan.
Dia dalam ruangannya, Naura tidak berhenti memikirkan kelembutan sikap Julian saat berada di kediaman orang tua lelaki tampan itu. Naura sukses di buat baper oleh Julian. Bahkan sebelum tadi Naura masuk kedalam ruangan operasi, sejenak dokter cantik itu menenangkan diri untuk fokusnya tak pecah di dalam sana.
Kini, Naura kembali melamunkan hatinya yang terbawa kelembutan sikap Julian. Bahkan kecupan hangat di dahi dari Julian masih terus berputar - berputar di dalam. memori ingatannya.
"Arrrghhh! Aku sudah gila!" Tangan Naura mengacak - acak bayangan ingatan yang terus muncul.
"Sadar, Naura! Jangan terhipnotis oleh ketampanan paripurnanya itu. Ingat Naura, imanmu itu harus kuat demi sisa saham 10% itu." ucap Naura seorang diri sambil menepuk - nepuk wajahnya.
"Dokter Naura....?" sapa Dokter Bayu yang menghampiri.
Lolipop di dalam mulut Naura di tarik keluar. Dokter cantik itu langsung berdiri dari duduknya.
"Operasinya sudah selesai?" tanya Dokter Naura berbasa - basi.
"Sudah. Dokter Naura sedang apa di sini?" kedua kaki Dokter Bayu terhenti tak jauh dari hadapan Dokter Naura.
"Hmmm... duduk aja. Saya permisi pamit dulu ya Dokter Bayu? Masih ada yang harus saya kerjakan."
Naura teringat akan kalimat peringatan dari Dokter Julian yang melarangnya untuk berdekatan dengan Dokter Bayu. Rasional, Naura pun langsung menyepakati larangan dari Dokter Julian, di karenakan nama baiknya yang sempat tercoreng. Berdekatan dengan Dokter Bayu untuk saat ini tidak baik. Dari pada nanti semakin mengundang pembicaraan dari orang lain.
"Kenapa menghindari saya Dokter Naura? Apa karena masalah kemarin itu?" Tanya Dokter Bayu yang berusaha untuk menghentikan langkah kaki Dokter Naura.
"Ya! Saya memang menghindari Dokter Bayu. Karena saya...."
"Karena aku yang sudah melarangnya!" Sela Dokter Julian cepat yang datang tiba-tiba.
"Lian....? Atas hak apa kau melarang Dokter Naura?" Bayu terperangah.
Dokter tampan yang mengenakan pakaian yang sama dengan Naura berhenti tepat di hadapan Naura. Berdiri sejajar, menjadi penghalang bagi Naura dan juga Bayu.
"Karena Naura adalah pacarku. Kami sengaja merahasiakan hubungan kami karena profesional kami. Tapi-" Julian menggenggam tangan Naura dan berbalik badan menatap Bayu- "Karena gosip murahan yang merusak nama baik kekasihku, jadi akhirnya kami memutuskan untuk mempublikasikan hubungan kami."
__ADS_1
"A- apa?" Bayu terperangah. "Kau yang benar saja, Lian? Kalian tidak saling mengenal?"
"Siapa bilang? Kau itu tidak tahu apapun tentang kami. Jadi, jangan pernah lagi dekati Naura di luar dari pekerjaan. Tapi jika masih menyangkut dengan pekerjaan aku masih maklumi." peringatan keras dari Julian yang penuh penekanan.
Di dalam hati Naura terkejut luar biasa, pada keputusan Julian yang tanpa kompromi dengan dirinya terlebih dahulu. Naura hanya bisa terdiam dan mengikuti semua segala sandiwara dan keputusan yang Julian putuskan sendiri.
"Julian? Kau...."
"Kau tidak tahu apapun tentang aku. Tapi, aku tahu apapun tentang dirimu." sorot mata Julian menajam. "Sebelumnya aku sudah memperingatkanmu untuk tak mendekati Naura, kan? Inilah alasan di balik laranganku padamu waktu itu."
Julian langsung menarik Naura untuk pergi dari lorong dengan pintu - pintu ruangannya tertutup. Menggeret paksa Naura untuk pergi meninggalkan Bayu seorang diri.
Tuas pintu ruangan Julian di tarik kasar. Daun pintunya pun juga di buka kasar. Naura di paksa masuk kedalam ruangan dengan tubuhnya tersentak akibat suara bantingan daun pintu ruangan.
"Dokter Julian! Apa yang anda lakukan?" Naura sedikit membentak.
"Kalau aku katakan aku cemburu apakah kau percaya?"
"A- apa? Tapi di dalam kontrak perjanjian kita tidak ada larangan dalam kehidupan pribadi, Dokter? Yang ada Dokter Julian...."
"Dokter Julian! Tapi itu nggak adil!"
"Adil! Sangat adil, dan kau akan tahu sanksi yang aku tentukan sendiri atas perbuatanku tadi."
Dokter Julian kemudian melangkah pergi dari ruangannya itu. Sementara Naura masih terperangah akan keegoisan dari Julian yang tidak memberinya kesempatan untuk berkata - kata.
"Sabar Naura! Sabar. Demi saham 10% dan menendang nenek sihir dari Ayah. Anggap saja ini ujian yang indah."
Naura menabahkan hati untuk lapang menerima segala sikap pendukung terkuatnya demi meraih kembali hak miliknya dari tangan Galang, Ayahnya. Sekaligus membuktikan jika Naura layak untuk menjadi salah satu pewaris rumah swasta yang ada di kota S.
...***...
"Ada apa? Aku tidak punya banyak waktu?"
__ADS_1
Julian membanting tubuhnya di atas sofa empuk dari ruangan Dokter Bimantara. Lelaki tampan yang baru saja keluar dari ruangan operasi itu tampak kelelahan. Ibu jari dan telunjuknya memijat - mijat dahi hingga menorehkan gurat mengerut di sana.
"Kau ada operasi dadakan? Bukankah kau telah selesai dari dua jam pagi tadi?" Bimantara begitu penasaran.
"Aku ambil jadwalnya. Kasihan dia sudah satu Minggu kurang tidur."
Mata Julian terpejam. Kepalanya sengaja di tidurkan pada penyandar sofa. Lelaki itu begitu acuh tampak tak tertarik oleh ucapan Bimantara.
"Ini masih Dokter Julian, kan?" tanya Bimantara seolah tak percaya.
"Jika tidak ada yang penting, aku mau pulang. Aku ini orang sibuk!" Balas Julian ketus.
"Mengenai yang kemarin, dia puas melihatmu yang bertanggung jawab. Tak salah keputusannya mengirimkan jauh - jauh sampai di sini." Bimantara memberitahukan maksud tujuannya meminta Julian datang ke ruangannya.
"Haruskah sampai enam bulan? Apa tidak kasihan melihatnya terus salah paham selama itu?" Julian agak merasa keberatan.
"Enam bulan di rasanya pantas untuk menyelesaikan masalah di sana. Kau tahu sendiri, kan? Dia bahkan bertindak sampai ingin merusak mental adiknya. Maka dari itu, kami minta bantuanmu. Lagi pula kau juga...."
"Iya, iya! Jangan di perjelas!" Sela Julian cepat. "Aku jaga dia di sini. Tapi, aku tak janji bisa bersikap biasa-biasa saja dengannya."
"Lebih baik kau pulang sana. Mandi sana! Kau kelihatan jelek jika kusam seperti ini." ejek Bimantara dengan sengaja. "Sampaikan salamku pada Papamu!" Sambungnya mengalihkan kemarahan Julian.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.