Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Hasil Penelusuran Diam - Diam


__ADS_3

Sikap dingin tidak bisa menjamin sisi kejam menguasai jiwa seseorang. Tidak berperasaan, tidak bersimpatik, acuh tak acuh pada lingkaran kehidupan sosial di sekitar.


Sikap dingin seseorang bisa berarti tindakan defensif agar hati dan jiwanya tak di sambangi oleh luka. Atau bisa juga kenangan pahit di masa lalu menjadikan seseorang itu menghindar dari luka yang sama, menghindari trauma yang dapat menganggu psikis.


Lebih baik memasang tembok setinggi mungkin. Lebih baik menyendiri dan menjauhkan dari hal - hal yang bersifat menyakiti.


Naura merasakan jelas kehangatan bibir Julian yang menyapu bibirnya dengan lembut. Mencumbui bibir Naura tanpa ragu, hingga mengganggu sistem kerja dari organ vital di dalam tubuh Naura.


Tak usah di tanya lagi debaran jantung Naura saat ini. Sudah di pastikan berdebar lebih cepat seperti biasanya. Rongga di dada pun sesak akan taburan bunga - bunga yang bermekaran.


Julian begitu lancang menyentuh Naura tanpa meminta ijin. Namun Naura tidak mau munafik pada perasaannya. Lelaki yang ******* bibirnya itu memang menarik hati, memiliki visual sempurna idaman para kaum perempuan.


Naura memejamkan mata. Memilih tak menjadi munafik dan mengikuti kata hati yang sudah tersihir akan kelembutan dari sikap Julian.


Duar.. Duar.. Duar....


Kembang api yang menyala di langit malam kota B, membuat kedua kelopak mata Naura kembali terbuka. Perempuan cantik itu tersentak pada puncak acara resepsi romantis pernikahan Bara dan juga Kiran.


Cumbuan bibir Julian pun terhenti. Dengan gerakan perlahan, bibir dokter tampan itu melepaskan bibir Naura yang basah dan telah ranum, akan hisapan posesif Julian yang menyimpan rasa.


"Manis..." lirik Julian lembut. Ibu jarinya menyapu lembut tepian bibir bawah Naura.


"Dokter Julian mempermainkan saya?" Naura kembali mempertanyakan rasa penasarannya.


"Tidak ada yang mempermainkanmu." Julian menyangkal.


"Jangan bohongi saya, Dokter Julian."


"Bisakah kita berpindah tempat? Karena di sini agak bising," ajak Julian untuk berpindah tempat.


...***...


Naura membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran yang menyala. Wajah Naura terangkat, menatap wajah lembabnya dari pantulan cermin yang ada di depan mata. Kran air yang menyala Naura tutup untuk menghentikan hujanan air yang mengalir deras.


Perempuan cantik itu menarik handuk yang menggantung pada tempatnya, lalu membasuh wajah lembabnya. Helaan nafas kembali keluar kasar lewat bibirnya. Naura berkali - kali menenangkan diri akan memori cumbuan dari bibir Julian yang terus berputar di dalam kepalanya.


Kulit wajah Naura, kembali di rayapi oleh rona merah, saat fokusnya belum bisa teralihkan dari ******* bibir Julian yang sukses membuat perempuan cantik itu baper.

__ADS_1


"Naura..."


Suara Julian yang memanggil di ambang pintu yang terbuka. Tubuh perempuan cantik itu tersentak. Jantung Naura serasa ingin copot di detik Julian mengagetkan dirinya.


"Dokter Julian! Stop buat saya jantungan! Belum puas tadi, Dokter Julian sudah membuat saya terkejut terus?" Naura memarahi Julian.


"Kau sudah terlalu lama di dalam kamar mandi. Ayo keluar."


Julian menggeret paksa Naura untuk keluar dari kamar mandi. Kesabaran di dalam diri Julian mulai menipis, tak bisa lagi berkompromi dengan Naura yang terus mengulur waktu.


"Lepaskan saya!" Bentak Naura berusaha untuk melepaskan diri.


Kedua bola mata mengawasi keadaan ruangan yang benar - benar asing, menciutkan nyali di dalam diri Naura. Sinyal waspada menyala. Saliva di telan dalam - dalam di detik ruangan tersebut, begitu menyesakkan dada dan mencengkam jiwa.


"Naura, aku...."


"Saya mau pulang!" Sela Naura cepat.


"Kita tidak akan pulang!" Bantah Julian tegas.


"Kau tidak boleh pulang. Dan tidak akan kemana - mana. Malam ini kita akan menginap di hotel ini." dengan tenang namun memberi penekanan, Julian menolak tegas keinginan Naura.


"Saya tidak bisa. Saya perempuan baik-baik. Bukan seperti perempuan sembarangan yang dokter pikirkan. Saya....."


"Aku tahu! Aku sudah tahu semuanya tentangmu!'


Julian kembali menarik lengan Naura dengan paksa. Lalu dengan cara yang sama juga, Naura di paksa untuk duduk di sofa empuk dari kamar hotel kelas atas yang di sediakan oleh pemilik acara resepsi pernikahan.


"Lihat ini."


Julian menyerahkan tablet PC miliknya pada Naura. Memperlihatkan hasil penelusuran diam - diam yang di lakukan oleh Julian.


"Ini... Ini Kak..."


"Kakak tirimu itu ternyata berteman baik dengan Dokter Bayu." sela Julian cepat.


"Jadi karena ini yang membuat Dokter Julian...."

__ADS_1


"Melarangmu untuk dekat dengan Bayu! Kakakmu meminta Bayu untuk dekat denganmu dan memicu skandal negatif tentangmu di mata orang-orang. Tujuan Kakak tirimu hanya satu, yaitu membuat Ayahmu krisis kepercayaan dan tidak memasukkanmu kedalam saham kepemilikan rumah sakit."


"Dan Ayahku langsung percaya begitu saja, hingga sampai datang ke rumah sakit." suara parau Naura bergetar.


Naura terkesiap dengan tindakan Kakak tirinya yang tak terduga. Ambisi Kakak tirinya yang ingin menguasai seluruh harta milik Ayah mereka membuat lagi dan lagi Naura tersakiti.


Cara keji yang sama dulu pernah Naura rasakan saat berada di kota S. Naura di fitnah, di hina, di tuding tidak berkompeten dalam profesinya dan sudah seribu cara dilakukan untuk menggeser bahkan ingin melenyapkan Naura dari kehidupan dunia. Menghilangkan sosok Naura untuk tak lagi nampak di kedua mata Galang Morris.


Naura tertunduk, perempuan cantik itu menutupi wajah murungnya dari kedua mata Julian yang lekat mengawasi. Jemari yang mencengkram tablet PC di tangan mulai bergetar di karenakan remasan kesakitan di dadanya yang tak tertahankan.


Dada Naura sesak, akan serbuan rasa sakit yang menghujam tanpa ampun. Wajah Naura di selimuti oleh rona merah, bukan karena tersipu malu. Melainkan berusaha untuk menahan genangan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


"Naura..." ucap Julian yang memanggil dengan lembut nama perempuan yang hening di hadapannya.


Dokter tampan yang sudah melepaskan jas hitam itu berlutut di hadapan Naura. Tangannya dengan sigap mengambil alih tablet PC dari tangan Naura yang bergetar.


Malam ini, Julian begitu lembut memperlakukan Naura. Rasa nyaman dan tak tega melihat perempuan cantik di hadapannya terus di hujami kesakitan membuat Julian lepas kontrol pada perasaannya.


Julian membelai lembut wajah Naura. Sementara tangan yang satu menggenggam tangan Naura yang bergerak gelisah. Mengusap - usap dengan lembut. Menghantarkan senyar kehangatan di hati Naura yang mendung.


"Apakah Dokter Julian, juga termasuk salah satu dari orang-orangnya? Saham 20 % yang saya jaminkan, apakah menjadi boomerang dari keputusan saya saat ini?" Naura mengungkapkan kecurigaan yang ada di benaknya.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2