Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Perubahan Kevin


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Sesuai janji Kevin, hari ini Kevin akan mengajak Anin menemui Rara di Bali karena semua pekerjaan Kevin telah selesai.


"Mas cepat sana mandi keburu siang nanti!" perintah Anin pada Kevin yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Bentar lagi sayang" jawab Kevin masih sibuk memainkan ponselnya.


"Yaudah kalau mas Kevin sibuk, mending liburannya di tunda saja dulu" Anin mulai kesal melihat Kevin, Anin sudah melarang Kevin untuk tidak memaksakan diri untuk berlibur. Karena Anin tidak ingin liburannya di ganggu dengan pekerjaan Kevin. Dan belum pergi saja Kevin sudah sibuk dengan ponselnya.


Mendengar perkataan Anin yang terdengar sebal, membuat Kevin meletakkan ponselnya dan menghampiri Anin yang sedang duduk di meja rias. "Aku tidak sibuk kok, lihatlah Aku akan segera mandi, jadi jangan ngambek ya" Kevin mengacak-acak rambut Anin yang sudah rapi berharap itu dapat menenangkan Anin, namun perkiraannya salah, Anin malah tambah kesal padanya.


"Mas Kevin ih, lihat! rambutku jadi berantakan" gerutu Anin merapikan kembali rambutnya. "Mas Kevin mau sampai kapan berdiri disitu? apa mas Kevin tidak ikhlas menemaniku pergi? biasanya juga mas Kevin yang duluan rapi, tapi sekarang malah malas-malasan, bilang aja kalau mas Kevin nga mau, Aku nga apa-apa kok bisa pergi sendiri, sayang kalau di batalin rencananya." gerutu Anin yang sebal melihat tingkah Kevin pagi ini.


"Maaf sayang" Kevin mengecup pipi Istrinya dan masuk kedalam kamar mandi.


"Kenapa mas Kevin beda banget ya dari tadi malam? belakangan ini mas Kevin tidak banyak bicara, dan jarang menjahiliku lagi, apa mas Kevin ada masalah ya?" batin Anin memandangi punggung kekar suaminya masuk kedalam kamar mandi.


Dua puluh lima menit berlalu akhirnya Kevin selesai dengan setelan jasnya, Anin menghampiri Kevin dan memakaikan dasi pada Kevin. Kevin seperti biasa akan membungkukkan badannya agar Anin tidak kesusahan. Kevin menatap intens wajah Anin dalam-dalam mengabsen setiap inci wajah Anin.


"Mas Kevin ada masalah?" tanya Anin yang menyadari tatapan sendu sang Suami. "Maaf jika sikapku belakangan ini menyakiti mas Kevin" Anin menundukkan kepalanya, Anin takut sikapnya selama ini membuat Kevin marah.


"Sayang Kamu bilang apasih, Aku hanya ada sedikit masalah di perusahaan, jangan khawatir Ans sudah mengurus semuanya" Kevin mengelus lembut pipi Anin.


"Maafkan Aku sayang, Aku harus berbohong padamu, Aku takut Kamu akan salah paham jika memberitahumu" batin Kevin.


"Lain kali kalau ada masalah, jangan di pendam sendiri ya, cerita padaku, itulah gunanya istri mendengarkan setiap keluh kesah sang suami" Anin memeluk Kevin betujuan untuk menengkan hati suaminya.


"Terimakasih sayang" Kevin membalas pelukan Anin dan mencium puncuk kepala sang Istri.

__ADS_1


"Kenapa Aku merasa mas Kevin menyembunyikan sesuatu dariku? cukup Anin, jangan berfikiran yang aneh-aneh percayalah pada Suamimu." batin Anin menepis semua pikiran buruk yang menghinggapi pikirannya.


Anin melepaskan pelukannya dari tubuh sang Suami dan memperlihatkan senyuman indahnya. "Sudah jangan melo-melo terus deh, Kita kan mau liburan harusnya Kita heppy dong" Anin mencairkan suasana yang tiba-tiba menegang di antara mereka.


"Kamu benar sayang, ayo nanti Kita terlambat lagi" Kevin mengajak Anin untuk segera berangkat, Kevin mengandeng tangan Anin dan satu tangannya lagi menarik kopernya.


Mereka hanya membawa satu koper saja, karena Kevin berencana hanya tinggal 2-3 hari saja. Kevin tidak ingin melewatkan pemeriksaan sang istri dengan dokter yang baru saja Ia temui.


"Kami pamit dulu ya Oma" Anin menyalami Oma Jelita dan dan mencium tangan Oma Jelita dengan khusuk dan beralih juga pada bibi Ajeng, Kevin mengikuti apa yang di lakukan Anin.


"Kalian tidak sarapan dulu?" tawar Oma Jelita.


"Nanti sarapan di jalan saja Oma, takut nga keburu" jawab Kevin masih mengandeng tangan sang Istri.


"Gimana nga terlambat, bangunnya aja harus di kelonin dulu sama kak Anin" celoteh Elvan mengoda kakaknya.


"Makanya kalau mau di kelonin juga, sana cepat carikan ibu calon menantu, ibu sudah nga sabar niman cucu nih." ledek Ajeng pada anaknya yang susah banget membuka hati setelah kematian sang kekasih.


"Ini lagi di usahain kok, Ia nga mas?" canda Anin membuat semua orang tertawa kecuali Kevin.


Kevin menghela nafas kasar dan menarik tangan Anin keluar dari rumah. "Kami pamit ya" pamit Anin mengikuti langkah kaki Kevin yang lebar.


"Ini ketiga kalinya Mas Kevin bersikap dingin jika Aku membahas tentang anak, ada apa dengan mas Kevin? apa Mas Kevin tidak mengingikan anak dariku.?" batin Anin berkecamuk memikirkannya.


"Mas" panggil Anin karena semenjak Kevin meninggalkan rumah, Kevin beum juga mengajaknya bicara dan hanya fokus pada jalanan.


"Kenapa sayang" Kevin menatap Anin sekilas dan kembali fokus kedepan.


"Mas Kevin marah karena pembicaraanku dengan bibi Ajeng dan Elvan?" tanya Anin ingin memastiakan sesuatu.

__ADS_1


"Pembicaraan yang mana?"tanya Kevin yang belum ngeh dengan pertanyaan Anin.


"Itu yang tentang Anak." lirih Anin takut-takut menyebut kata Anak.


"Anin cukup jangan menyebut anak di hadapanku" bentak Kevin tanpa sadar karena frustasi mendengar kata Anak dari mulut wanitanya.


"Apa segitu tidak inginnya mas Kevin mempunyai Anak dariku? sampai-sampai mas Kevin tega membatakku seperti ini?" nada bicara Anin naik satu oktaf dan tidak ada kesedihan tepancar di matanya, Anin sepenuhnya di penuhi emosi. "Turunkan Aku mas!" Anin berusa membuka pintu mobil, namun usahanya hanya sia-sia saja karena hanya Kevin lah yang bisa membuka pintunya. Kevin menepikan mobilnya saat menyadari perubahan sifat Anin yang tiba.


Setelah mobil Kevin berhenti dengan aman, Kevin mengacak-acak rambutnya, Kevin benar-benar lupa bahwa istrinya tidak boleh tertekan, dan sekarang Kevin sangat menyesal dengan perbuatannya. "Sayang maafkan Aku" Kevin hendak memeluk Anin namun dengan segera Anin mendorong tubuh Kevin agar tidak memeluknya.


"Jangan menyentuhku, Aku sungguh membencimu" teriak Anin penuh emosi memukul-mukul tubuh kekar Kevin, namun Kevin hanya menikmati pukulan sang Istri berharap itu bisa menenangkan wanitanya.


Hati Kevin terlukan namun tak berdarah melihat wanitanya begitu hancur di hadapannya. Setelah di rasa pukulan Anin sudah melemah, Kevin segera memeluk tubuh istrinya dan tidak ada lagi penolakan. "Maafkan Aku sayang, maafkan Aku karena hilang kendali, Aku tidak bermaksud membentakmu tadi" Kevin tak bisa lagi menahan air matanya agar tidak jatuh. "Aku punya alasan mengapa Aku tidak suka jika Kamu menyinggung tentang anak di hadapanku, tapi Aku belum bisa memberitahumu alasanku sayang. Maafkan Aku" tubuh Kevin bergetar didalam pelukan Anin.


"Mas Kevin kenapa nangis?" tanya Anin saat merasakan tubuh Kevin bergetar, dan nada suaranya kembali normal dan tidak emosi lagi.


Kevin buru-buru menghapus air matanya dan melepaskan pelukannya dari sang Istri, saat mendegar perubahan suara Anin yang terdengar tidak emosi lagi. "Aku tidak menangis, Aku hanya merasa rindu padamu" kilah Kevin dan mengecup pipi dan hidung Istrinya dan kembali melajukan mobilnya.


-


-


-


-


-


TBC

__ADS_1


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


Kok sepi kayak kuburan? bikin nga semangat up nya😑😔


__ADS_2