Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Jangan Galak - Galak


__ADS_3

Kedua kaki Naura melangkah ringan menapaki lantai rumah sakit dengan arahan menuju pintu keluar rumah sakit swasta itu. Senyum bahagia pun terulas di wajah bibir Naura saat hati sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ranjang tidur kesayangannya.


Langkah Naura terhenti saat perhatiannya tercuri oleh sebuah perhiasan emas berupa gelang kaki terjatuh di atas lantai. Matanya tidak salah, saat menyaksikan sendiri gelang kaki emas itu terlepas dari kaki mungil bayi perempuan yang di gendong oleh seorang perempuan berumur dua puluhan mengenakkan seragam putih seperti seorang pengusaha.


"Bu...! Ini ada yang terjatuh," teriak Naura yang tak di dengar oleh perempuan itu. Seketika Naura mengejar perempuan itu yang berjalan di depan dan melangkah lebih cepat dari dirinya. Kedua kaki Naura terhenti saat mengetahui perempuan itu masuk kedalam ruangan Julian yang di jaga oleh beberapa lelaki yang berseragam.


"Maaf, anda mencari siapa?" tanya seorang pria yang berseragam itu kepada Naura.


"Ah..., ini tadi saya..."


"Apakah kalian melihat gelang kaki Miracle yang terjatuh?" tanya Marsha pada salah satu pria yang berseragam. Perempuan cantik itu baru saja keluar dari ruangan Julian.


"Maaf!" Naura menginterupsi hingga tercuri lah perhatian Marsha kepada dirinya.


"Ya?" sahut Marsha lembut.


"Tadi saya menemukan...."


"Sayang....! Apa sudah ketemu gelang Miracle?" tanya Alvaro pada Marsha yang membuat ucapan Naura terpotong.


Langkah kedua kaki Naura terhenti tak sanggup bergerak ketika pemilik ruangan itu juga ikut - ikutan keluar dari ruangannya.


Sia - sia semua usaha Naura seminggu penuh untuk menghindari Julian. Tatapan Naura tanpa sengaja bersirobok dengan Julian yang dingin nan menusuk jahat.


Dari tatapannya saja Naura sudah bisa membaca jika lelaki itu begitu membenci dirinya. Ada arogansi yang terkandung dalam sinaran mata Julian. Sampai - sampai Naura langsung memalingkan tak mau berlama-lama beradu tatap. Takut dirinya semakin tersakiti oleh sosok lelaki berlidah tajam itu.


"Ada keperluan apa, Dokter Naura di sini? Aku sudah katakan untuk tak datang jika tak berkeptingan, bukan?" begitu angkuhnya Julian berucap hingga menghentak jantung Naura.


"Saya... saya...."


"Kau tidak lihat aku sedang ada tamu?" Julian menyela kejam.


Tangan Naura mengepal kuat ketika dada di remas paksa oleh kata - kata kejam Julian. Saliva pun tertelan dalam - dalam untuk bisa membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering.


Rasa kantuknya yang tadi menyerang langsung hilang, tak lagi Naura rasakan. Kedua kelopak mata yang tadinya sungguh berat untuk terbuka kini segar kembali seperti tersiram air.


Bibir Naura tersenyum tipis. Kedua matanya teralihkan pada seorang lelaki yang berseragam setelan jas hitam di dekatnya.


"Tadi saya menemukan gelang kaki ini." Naura menyerahkan gelang kaki di tangannya pada lelaki berseragam. "Mungkin ini yang di cari - cari oleh Nyonya yang ada di sana."

__ADS_1


Marsha dan Alvaro langsung melirik ke arah Julian yang masih menatap tajam Naura. Lelaki itu diam, tak mengucapkan apapun setelah mengetahui keperluan Naura di dekat ruangannya.


"Saya permisi." pamit Naura dengan menundukkan kepalanya pada orang - orang yang ada di tempat itu.


"Maaf! Sebentar!" Ucap Marsha memanggil hingga menghentikkan langkah Naura.


"Ya, Nyonya?" sahut Naura cepat.


Marsha mengambil langkah cepat untuk bisa menghampiri Naura. Senyum ramahnya langsung terulas di wajah cantiknya hingga menyejukkan hati Naura yang menyesakkan.


"Terima kasih, karena sudah menemukan gelang kaki milik anakku. Sebagai balasannya, bisakah aku mentraktirmu?" tanya Marsha penuh harapan.


"Maaf Nyonya, saat ini saya tidak bisa. Saya-"


"Dia tidak akan mau, Kak." Julian menyela cepat. "Dia orang yang sibuk. Atau bisa jadi dia itu mau berkencan saat ini dengan pacarnya." sambung Julian.


Julian sudah terlalu dalam memfitnah Naura. Darah Naura pun seketika mendidih. Rasa ingin mengalah sudah tidak ada lagi. Sejak kemarin sikap patuh dan hormat Naura pada sosok lelaki berkuasa di depan mata tak di pandang oleh Julian. Kini lidah Naura sudah gatal dan tidak bisa lagi menahan kata yang telah terangkai.


"Kalau iya, kenapa? Dokter Julian cemburu? Iri ya, Dok?" tanya Naura dengan lantang.


"Dokter Naura! Kau-"


Naura langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi setelah puas mengeluarkan unek-unek di dalam hati. Tak di pikirkan lagi imbas apa yang di dapatkan nanti. Saat ini, hati Naura menyambut damai sikap implusif yang baru saja ia lakukan.


"Kau sudah membangunkan singa betina, Lian!" Sindir Alvaro sambil menahan senyuman.


"Bukan singa betina. Tapi dia kelinci betina yang liar." sahut Julian dengan tatapan yang menatap lurus masih terarah pada Naura yang semakin jauh meninggalkan.


...***...


Naura tertunduk lemas di sebuah kursi ruangan tunggu yang berada tak jauh dari meja informasi. Kedua tangan menutup rapat-rapat wajahnya yang penuh dengan penyesalan.


Ketenangan Naura terusik saat telapak tangannya di sentuh oleh benda dingin yang menghentakkan tubuhnya.


"Dokter Bayu?" Naura terkesiap dengan kehadiran Bayu.


"Ayo, ambil!" Bayu menggoyang-goyangkan air mineral yang ada di tangannya


"Te- terima kasih Dokter Bayu." Naura langsung meraih botol air mineral yang Dokter Bayu sodorkan.

__ADS_1


"Kenapa belum pulang? Tadi sewaktu keruangan Dokter Naura, Luna bilang kalau anda telah pulang. Tahunya, masih berkeliaran di sini."


"Memangnya Dokter Bayu ada apa mencari saya?" tanya Naura yang penasaran.


"Mau ngajakin kamu pulang bareng. Ayo saya antar pulang."


Tanpa meminta izin, Bayu langsung menarik pergelangan tangan Naura lalu menggenggam tangan Naura. Lagi - lagi sikap lancang dari Bayu menjadi pusat perhatian pegawai rumah sakit. Keduanya langsung menjadi bahan gosip utama di group WhatsApp para pegawai penggosip.


Bahkan salah satu pegawai yang melihat keakraban Naura dan Bayu sempat mengabadikan momen hangat keduanya dalam bidikan kamera ponsel. Hasil potret keduanya langsung ter- share di group WhatsApp tersebut.


...***...


"Sebaiknya kau harus banyak beristirahat, Julian. Karena kamu kurang beristirahat, kau jadi sosok yang pemarah seperti Kakak sepupumu ini." Marsha memberi saran kepada Julian lalu menyama - nyamai sikap Julian dengan Alvaro.


"Aku bukan pemarah, Baby. Aku hanya tegas! Beda pemarah dan tegas." Alvaro membantah, tak terima di sebut pemarah oleh istri tercintanya.


"Terima kasih perhatiannya, Kak. Aku akan mendengarkan saran dari Kak Marsha." Julian mengiyakan, tak mau menolak perhatian dari Kakak sosok Iparnya.


"Kau juga jangan terlalu kejam kepada juniormu. Jangan galak - galak!" Alvaro ikut - ikutan memberikan saran.


"Ya! Aku dengar - dengar. Sudah, kalian pulanglah. Banyak - banyak beristirahat untuk siap tempur malam ini lagi."ejek Julian dengan sengaja. Untuk membuat Alvaro dan Marsha segera masuk kedalam mobil mereka yang telah menunggu.


Sejenak Julian merasa bersalah atas ucapan - ucapannya kasarnya pada Naura. Lelaki itu juga bingung akan hati yang memanas mendengar berita yang mengenai kedekatan Naura dengan Bayu. Seharusnya Julian tak menampung gosip murahan yang tak benar faktanya.


Julian pun. berakhir pergi meninggalkan teras depan rumah sakit, setelah menyaksikan sendiri mobil Alvaro telah melaju pergi.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2