Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Episode 3: Sesuatu yang Tak Terhentikan


__ADS_3

Pukul 8.00 pagi, Doni masih terlelap di sofa. Sementara itu, Viana bangun dari tidur dan melihat sang lelaki. Viana segera mengambil sebuah bantal di kamarnya, lalu menghampiri tempat Doni sedang terlelap. Perempuan tersebut memukul wajah Doni menggunakan bantal guling dengan cukup keras.


"WOI! Bangun lo! Ini udah siang! Mana sarapan gue?!" pekik Viana seketika membuat Doni terhenyak dan bangkit.


Lelaki itu mengusap-usap kedua matanya, lalu melihat orang yang membangunkannya ternyata ialah Viana, istrinya sendiri.


"Ngapain, sih? Orang lagi tidur dibangunin. Nggak bisa pelan pula," tandas Doni bersungut-sungut.


"Eh! Ini udah jam berapa? Mana sarapan gue?"


Sialan, nih, cewek. Yang jadi suami, kan, gue. Masa, iya, gue yang harus masak buat dia? batin Doni sambil menampakkan wajah kesal.


"Kenapa lo? Kesel sama gue?" Viana menarik napas panjang. "Inget, ya! Kalau sampai elo nggak melaksanakan semua perintah gue, terima aja akibatnya." Viana tersenyum miring.


Doni pun terpaksa beranjak.


"Dua puluh menit, sarapan harus udah ada di meja makan! Gue nggak mau tahu!" teriak Viana agar sang lelaki yang telah berjalan ke kamar mandi mendengarnya.


"Seenak udel lo!" timpal Doni sedikit berteriak.


Setelah selesai membasuh wajah, Doni melangkah ke dapur dan mencari bahan makanan yang tersedia di lemari es. Sayangnya, ia hanya menemukan beberapa sayuran dan tempe berbentuk persegi panjang, terbungkus dengan kertas plastik.


Doni menghela napas gusar. Ia tidak bisa memasak, tetapi berusaha mencari apa yang bisa ia buat dengan beberapa sayuran dan tempe itu di internet.


"Lama lo! Gue udah laper! Cepetan!" teriak Viana dari ruang tamu, mengganggu konsentrasi Doni yang sedang fokus mengakali beberapa bahan makanan untuk dihidangkan.


Tak dipungkiri, lelaki tersebut sudah sangat geram. Ia rasanya ingin sekali mencincang-cincang tubuh Viana dengan pisau yang kini sedang ia pegang.


Cewek gila!


Doni melanjutkan aktivitasnya. Ia menemukan sebuah resep sederhana untuk mengolah tempe dan sayuran yang ada, yaitu Oseng Tempe. Sambil membaca cara masak di internet, Doni memotong tempe dengan bentuk kotak-kotak kecil.


Dua puluh menit berlalu, ternyata sarapan yang Doni masak belum juga siap. Hal ini membuat Viana terpaksa menemui sang lelaki di dapur.


"Eh, masak apaan, sih, lo?! Lama amat, deh. Gue udah laper, nih," protes Viana yang berdiri di antara pintu masuk dapur.


"Sabar! Gue juga lagi berusaha. Gue nggak bisa masak. Seharusnya ini tugas lo sebagai seorang istri."


"Istri?" Viana tertawa cekikikan. "Lo gila, ya? Udah gue bilang, kan, kalau kita ini terpaksa menikah. Udah, deh, lo nggak perlu nganggap gue ini istri elo. Elo anggap aja gue ini majikan lo!"


Dengan perasaan kesal, Doni menuangkan tempe yang sudah ia potong kecil-kecil ke penggorengan. "Terserah lo!"


Setelah cukup lama berkutat di dapur, Oseng Tempe yang dibuat oleh Doni untuk kali pertamanya telah siap dihidangkan. Meskipun masakannya tidak sama seperti gambar di internet tersebut, tetapi untuk ukuran seorang lelaki yang kerjanya hanya berfoya-foya, cukup menjadi prestasi tersendiri.


"Ini, Tuan Putri!" Doni meletakkan hidangan di atas meja makan, termasuk juga nasi putih hangat yang baru ia ambil dari rice cooker.

__ADS_1


"Apaan, nih?! Dari tampilannya aja udah nggak enak." Dengan sangat hati-hati, Viana mencicipi potongan kecil tempe. "Uwek! Nggak enak!"


Lantas, Doni mengernyitkan giginya sebagai tanda kekesalan sudah naik ke ubun-ubun.


"Gue nggak mau makanan yang lo masak. Beliin gue sarapan di luar," perintah Viana sambil menyedekapkan tangannya, berlagak seperti bos besar di rumah tersebut.


"Lo bener-bener keterlaluan, deh, Vi--"


"Ssst!" desis Viana memotong. "Nggak ada yang namanya keterlaluan. Lo harus ingat, dong, peraturan yang gue buat. Awas lo nggak mau--"


Seketika kalimat Viana terpotong karena Doni tiba-tiba meraih tangannya dan memaksa Viana berdiri. Sang lelaki menatap Viana dengan cukup lamat. Ada sebuah makna yang tersirat di matanya. Entahlah makna apa. Yang pasti, tangan Viana masih digenggam oleh Doni. Semakin lama, semakin didekatkan wajahnya pada Viana.


Sang perempuan menarik dirinya dari pesona Doni yang bisa saja membuatnya terjerumus. Kemudian, perempuan tersebut menendang selangkangan sang suami hingga memekik kesakitan.


"Aduh! Sialan!" umpat Doni sembari berposisi menahan sakit di selangkangan.


"Sekarang juga, elo keluar dan belikan gue sarapan!"


Viana menjejak ke kamar, yang artinya ia tidak mau tahu tentang alasan Doni.


Tak bisa mengelak dari perintah Viana, Doni terpaksa mencari sesuatu yang bisa dimakan oleh Viana. Dikeluarkannya sebuah mobil CR-V dari garasi. Setelah membuka gerbang depan, lelaki tersebut melesat ke restoran terdekat.


------


"Burger?! Nggak mau! Gue nggak mau makan Burger pagi-pagi gini!"


"Eh! Terus lo maunya apa?! Apa mau lo?! Udah dua kali, ya, elo nolak apa yang gue bawain buat lo."


"Gue mau ayam. Cepet! Sana beliin gue ayam goreng!"


Dengan wajah kesal yang ditahan, Doni kembali melangkah ke halaman rumah, masuk ke mobil dan mencari makanan yang diinginkan oleh Viana.


Kebetulan sebuah restoran yang tidak jauh dari komplek perumahannya baru saja buka. Doni bisa memesan ayam goreng sesuai dengan permintaan Viana di tempat tersebut.


"Saya mau ayam goreng. Bungkus aja, ya," pesan Doni yang kemudian duduk menanti di salah satu meja restoran yang berderet rapi di bagian luar.


Sembari menunggu, Doni mengedarkan matanya ke sekeliling restoran, lalu bergerak ke jalanan melihat lalu lalang kendaraan yang melintas.


Sebuah mobil berwarna putih memarkir di depan restoran. Mata Doni fokus menatap mobil tersebut seakan tak asing di netranya. Setelah akhirnya seorang lelaki dan perempuan keluar dari kendaraan itu, Doni semringah.


Dua muda-mudi itu juga menyadari keberadaan Doni yang sedang duduk sendirian. Mereka mulai menghampiri.


"Eh, Don. Ngapain di sini sendirian?" tanya lelaki berambut gondrong yang tengah bergandengan dengan perempuan bertubuh tinggi dengan dress berwarna biru muda.


"Eh, Van. Gue ... lagi nunggu pesanan gue," jawab Doni singkat.

__ADS_1


"Kenapa muka lo? Bukannya kemarin elo baru nikah?" Lelaki bernama Vano tersebut tersenyum lebar ke arah Doni.


"Ya ... iya, bener. Emangnya kenapa kalau kemarin gue nikah?" Doni mengerutkan dahi.


"Seharusnya elo bahagia, dong, karena tadi malam itu ... malam pertama elo." Vano memelankan suaranya di kata "malam pertama" sambil berkedip-kedip penuh makna pada Doni.


"Oh," balasnya sambil memalingkan wajah, "Iya. Gue bahagia, kok."


"Ya, baguslah. Eh, kalau gitu, gue ke sana dulu, ya. Ibu negara udah lapar katanya."


Tanpa perlu menunggu Doni menyetujui, Vano melangkah ke meja di bagian dalam restoran.


Bahagia apanya. Yang ada, gue malah ketiban sial, batin Doni.


------


"Nih, pesanan lo." Diberikannya satu porsi Ayam Goreng kepada Viana.


"Gitu, dong. Ini baru gue mau makan."


"Ya. Makan yang kenyang!"


Setelah berucap dengan begitu lemas, Doni melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya.


------


Doni keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Di saat itu juga, ia berpapasan dengan Viana. Mereka bertukar pandangan. Ada yang aneh memang dengan tatapan Viana, bahwa perempuan tersebut seolah terpesona dengan tubuh seksi suaminya itu. Begitu juga dengan Doni yang melihat Viana hanya terbalut sehelai handuk.


Doni menelan saliva setelah cukup lama bertatapan dengan Viana yang kemudian begitu saja melewati tubuh suaminya.


Ketika Viana akan menjejakkan kakinya untuk memasuki kamar mandi, Doni berujar, "Kecoak!"


Secara spontan Viana terpekik dan berlari ke arah Doni, juga refleks ia memeluk sang suami yang katanya tidak ia inginkan.


Dada sang perempuan menempel di dada sang lelaki. Begitu erat Viana mendekap Doni karena saking takutnya dengan serangga bernama kecoak tersebut. Oleh sebab itu, sebuah debaran itu kembali menghantam relung hati mereka. Kembali berdebar dan meronta-ronta jantung keduanya.


Tampak bahwa dada Viana kembang kempis. Napasnya menderu dikarenakan cukup lama keduanya saling berpandangan.


Doni lagi-lagi menelan saliva, juga menahan nafsu yang ternyata telah menggedor-gedor sedari tadi ingin diluapkan. Padahal, ia hanya harus menyingkap sehelai handuk yang menempel di tubuh Viana, maka akan tampak liang kenikmatan istrinya itu.


Perlahan-lahan tangan Doni mulai bermain, terangkat, lalu terhenti di leher Viana. Wajahnya bergerak maju untuk menyentuhkan bibirnya dengan milik sang istri yang menurutnya telah ingin dicumbu.


Dengan sedikit keberanian, maka bibir keduanya menyatu dalam pergolakan nafsu yang membuncah. Semalam boleh saja Viana menolak perlakuan suami yang tak dianggapnya itu, tetapi kini sang perempuan malah tidak dapat menahan gejolak yang hadir. Ia membalas kecupan demi kecupan Doni, bahwa ia ternyata telah tenggelam sepenuhnya dengan pesona lelaki tersebut.


Doni dengan brutal menjilat-jilat pipi Viana hingga turun ke leher, turun lagi ke dada. Namun, ketika Doni akan mulai melepaskan kain yang menyembunyikan payudara istrinya tersebut, Viana meraih tangan Doni dengan kilat. Ia telah sadar sepenuhnya dari pengaruh pesona sang Doni. Ditatapnya lelaki tersebut dengan penuh kebencian, lalu ia tinggalkan masuk ke kamar mandi tanpa berucap kata.

__ADS_1


-----


__ADS_2