Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Kemarahan Kevin ( 2 )


__ADS_3

"Kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Kevin sembari memeriksa data-data perusahaan.


"Saya juga tidak tahu tuan, tapi sepertinya ada seseorang yang membocorkan rahasia perusahaan pada saingan bisnis Kita" ucap Anton.


"Yang mengetahui sandi keamanan data-data hanya Direktur, dan selama dua hari ini, direktur tidak pernah mengunjungi pabrik, jadi tidak mungkin jika Direktur yang membukannya." ucap Kevin.


"Bukankah Direktur memiliki buku kecil untuk menyimpan sandi itu, jadi mungkin saja seseorang mengambilnya dari Direktur." ucap Ans.


"Lalu siapa yang melakukan ini semua?" tanya Anin.


"Saya tahu siapa pelakunya" ucap Kevin mengepalkan tangannya.


Setelah lama berdiskusi, Kevin mengabari Oma Jelita tentang pembocoran rahasia perusahaan, dan meminta Oma Jelita mengumpulkan semua anggota keluarga.


Sementara Kevin dan Anin tegah menuju kerumah, sesampainya dirumah Kevin belum mendapati Elvan, jadi Kevin memutuskan untuk menunggu kedatangan satu anggota keluarga lagi.


Selang beberapa menit akhirnya Elvan datang juga, dengan santainya Elvan melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga dimana sumua anggota keluarga telah berkumpul.


"Ada apa ini kenapa semua orang berkumpul?" tanya Elvan.


"Nak apa yang telah kamu lakukan?" tanya Ajeng.


"Apa yang Aku lakukan? Aku tidak melakukan apapun, bahkan Aku baru saja pulang dari pabrik." ucap Elvan.


"Jika kamu baru pulang dari pabrik? lalu siapa yang Aku lihat ditaman dekat perusahaan?" tanya Kevin mengintimidasi.


"Ayolah nak, katakan yang sejujurnya Ibu bisa bersujud didepan kakakmu untuk memohon, asalkan kau berkata jujur. pinta Ajeng khawatir.


"Apa yang kamu bicarakan dengan Hugo ? dan amplop itu, itu adalah bayaran yang Kau terima setelah membocorkan rahasia perusahaan kan, ? ayo jawab !" bentak Kevin sembari melayangkan jari telunjuknya kearah Elvan dengan tatapan penuh amarah.


"Ayo jawab! jika Kau mengatakan yang sejujurnya padaku sekarang, maka Aku tidak akan memperpanjang masalah ini" bentak Kevin lagi.


"Kenapa Kau diam saja,? baiklah Aku akan memberimu waktu satu menit untuk berfikir dan mengakui semua kesalahanmu." ucap Kevin lagi.


Satu menit telah berlalu namun Elvan belum juga membuka suara, dan itu membuat Kevin semakin geram, karena tidak mendengar pembelaan maupun pengakuan dari adiknya.


"Waktumu sudah habis, karena Kamu tidak juga mengakui kesalahanmmu, maka Aku akan membuat keputusanku." ucap Kevin dengan nada rendah namun penuh penekanan.


"Mulai hari ini Aku memecatmu, dan hari ini juga Kamu tidak ada lagi hubungannya dengan Adhitama Grub. ucap Kevin.

__ADS_1


" Kak apa yang kamu katakan, Aku bahkan tidak pernah berfikiran untuk menghianati keluarga kita apa lagi perusahaan" Elvan membuka suara dengan intonasi tinggi.


"Jika itu benar, apa kau bisa menjelaskan kenapa Kamu bertemu dengan Hugo di taman?" tanya Kevin mengintimidasi.


"Ak....aku......"


"Sudahlah semuanya sudah jelas" ucap Kevin bangkit dari duduknya.


"Aku tidak setuju dengan keputusanmu" ucap Anin dan lagi-lagi itu berhasil menghentikan langkah kaki Kevin.


"Apa lagi keputusan yang akan Kamu buat sekretaris Anin?" tanya Kevin dengan tatapan penuh amarah.


"Aku tidak setuju jika Kau memecat Elvan tanpa ada bukti apapun" protes Anin.


"Disini bukan pengadilan, dan Aku bukan hakim, jadi Aku tidak perlu bukti apapun untuk menuduhnya, karena dengan bertemu dengan Hugo tadi, sudah membuktikan keterlibatannya" ucap Kevin.


"Tapi setidaknya beri dia waktu untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah" ucap Anin.


"Sudah kubilng aku tidak butuh bukti untuk semua ini" bentak Kevin membut Anin terlonjak kaget" dan....."


"Sudah diam !! Apa yang kau lakukan Kevin? Kau tidak sepantasnya membentak Istrimu seperti itu" Oma Jelita angkat bicara.


"Anin kenapa kamu membeka Elvan?" tanya Oma Jelita.


"Baiklah, Aku akan memberi Elvan kesempatan, Dia akan tetap bekerja sampai bukti Kita temukan" ucap Oma Jelita membuat keputusan.


"Apa yang Oma lakukan? wah bahkan Oma sudah mulai dikendalikan oleh Anin hebat" ucap Kevin senyum sinis.


"Kevin cukup, tidak ada bantahan lagi, Aku sebagai Direktur sudah membuat keputusan, jadi tidak ada yang bisa merubahnya".


"Shit..." umpat Kevin melempar berkas yang Ia pegang keatas meja dan berlalu pergi dengan persaan marah.


Sesampainya didalam kamar Kevin mendaratkan tubuhnya kesofa dekat jendela, memandangi halaman rumah yang begitu luas dan sangat hijau dengan tanaman yang sangat indah. Namun itu belum mampu meredam emosi dan kemarahan yang dirasakannya saat ini, Ia berharap seseorang akan membelanya namun tidak. Bahkan malah sebaliknya, semua orang malah membela Elvan.


Anin memberanikan diri melangkahkan kakinya mendakt pada seamuniya, "Maafkan Aku" ucap Anin, hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.


"Kau tidak perlu meminta maaf, dan seharusnya Kau tidak datang kekamarku, pergilah dan rayakan kemenanganmu" ucap Kevin dingin.


"Apa maksudmu?" tanya Anin binggung.

__ADS_1


"Kau sudah berhasil mengendalikan Oma yang selalu berpihak padamu, jadi pergilah rayakan pencapaianmu itu" lanjut Kevin.


Anin diam saja ditempatnya, membuat Kevin kembali membuka suara" baiklah jika Kau tidak ingin keluar, biar Aku saja yang keluar" ucap Kevin melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


brak


Kevin membanting pintu dengan keras dan berhasil membuat Anin terlonjak kaget.


*****


Kevin berangkat kekantor pagi-pagi sekali, karena Ia tidak ingin bertemu salah satu anggota keluarganya untuk saat ini.


"Jadi apa yang harus Kita lakukan?" tanya Ans.


"Saya juga tidak tahu" jawab Kevin masih dengan ekspresi datarnya.


"Baiklah, Saya akan menemui Pak Hugo untuk membahas masalah ini" ucap Ans melangkahkan kakinya keluar ruangan kerja Kevin.


"Tidak, ini urusan pribadi Saya, jadi Saya yang akan menuminya" ucap Kevin melangkahkan kakinya mendahului Ans.


"Kenapa ini bisa menjadi urusan pribadinya? bukankah ini hanyalah masalah perusahaan" gumam Ans yang masih tidak bergeming didalam ruang kerja Kevin.


Tiga puluh menit telah berlalu, Kevin akhirnya sampai di perusahaan Quen Grub, dengan langkah lebarnya Kevin memasuki lobi dan menghampiri resepsionis.


Setelah mengatakan apa maksud kedatangannya, resepsionis mengantarkan Kevin keruangan pak Hugo atas oerintah Hugo sendiri.


Tanpa permisi Kevin mendaratkan tubunhya di sofa setelah sampai di ruangan Hugo. Hugo segera menghampiri Kevin dan menawarkan minum padanya "Minumlah dulu" ucap Hugo memberikan sebol minuman pada Kevin, namun Kevin tidak menaggapinya.


"Ada masalah apa ini? sehingga membuat Tuan Kevin yang terhormat mengunjungi perusahaan Kami" ucap Hugo senyum penuh makna, karena sudah menduga Kevin akan menemui nya.


"Ini masalah saya dengan Anda jadi jangan coba-coba Anda melibatkan Elvan didalamnya, apalagi sampai memanfaatkan Elvan dalam mencapai tujuan Anda.


"Saya tidak menyangka, seorang Kevin juga mempunyai hati dan sangat menyayangi adiknya." ucap Hugo senyum sinis.


"Saya tidak ingin.........


"


"

__ADS_1


"


TBC


__ADS_2