Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Bangkit


__ADS_3

"Bagaimana Aku menjelaskannya? apa Aku harus mengatakan bahwa Dia terlalu berlebihan mengambil sikap dan mengakibatkan ini semua terjadi, dan Dia harus kehilangan anaknya? apa Aku harus mengatakan itu saat situasinya seperti itu?" rentenatan pertanyaan keluar dari mulut Tari.


Tari benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Anin, jika Dia salah bicara sedikit saja, maka sudah di pastikan Ia akan mendapatkan imbasnya.


"Kamu benar juga" Ans bukannya menjawab, Ia malah membenarkan pertanyaan Tari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anin yang sudah memutuskan keputusannya segera menghubungin Dilan. Ia teringat perkataan Dilan dulu, bahwa jika Anin ingin pergi dari kehidupan Kevin, Dilan meminta Anin untuk menghubunginya.


"Kamu sudah sadar?" tanya Dilan setelah sambungan telpon tersambung. Dilan tidak menjenguk Anin karena Ia sedang berada di luar negeri, tepatnya di Cina untuk mengurus cabang perusahaanya yang baru-baru ini di resmikan. Perusahaan Dilan bergerak di bidang kesenian.


"Iya Aku baru saja sadar" Anin diam ragu untuk mengutarakan keingiannya. "Eumm, apa Kamu sedang sibuk?" tanya Anin.


"Kenapa? apa Kamu memerlukan sesuatu?" tanya Dilan.


"Aku ingin pergi dari kehidupan Kevin, apa Kamu bisa membantuku?" Anin mulai mengutarakan keinginannya.


"Apa Kamu yakin dengan keputusanmu itu? Apa Kamu tidak ingin memperbaiki semua ini?" bujuk Dilan yang tidak mau Anin menyesal nantinya.


"Aku yakin dengan keputusanku Dilan, Aku ingin menenagkan diriku untuk sementara waktu. Jika Aku kembali pada Kevin, itu sama saja Aku akan membuka luka lama yang belum kering, Aku akan teringat dengan Anakku terus jika melihat Kevin" curhat Anin yang kini suaranya terdengar serak menandakan Ia sedang menangis. Mungkin Anin kembali mengingat Ananya.


"Apa Ibumu membiarkanmj pergi denganku?"


"Aku sudah mendiskusikannya dengan ibuku, dan Dia akan mendukung setiap keputusanku, Dia juga percaya padamu kok" ucap Anin membuat Dilan bernfas lega.

__ADS_1


Dilan tidak ingin munafik jika mengatakan Ia tidak bahagia jika Anin berpisah dengan suaminya, salah, Ia malah sangat bahagia Anin ikut dengannya, itu artinya Ia mempunyai kesempatan untuk merebut hati wanita yang selalu mengagu pikirannya.


"Bersiap-siap lah, Aku akan menjemputmu besok malam" ucap Dilan menutup sambungan telfonnya.


Dilan memutuskan berangkat malam itu juga ke indonesia, untuk menemui Anin dan membawanya pergi jauh dari kehidupan Kevin, agar Kevin tidak akan menemukan Anin sesuai dengan permintaan Anin sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


weekend Day Kevin menghabiskan waktunya di rumah untuk bermalas-malasan, Kevin benar-benar tidak punya semangat untuk bekerja, Kevin kehilangan semangatnya dan merindukan Anin Istrinya.


Kevin mengambil ponselnya dan memeriksa pesan Anin yang belum sempat Ia baca. Kevin baru tersadar saat membaca pesan Anin. "Aku benar-benar Ayah yang bodoh, bahkan Aku tidak membantu Anin untuk mendekorasi kamar calon Anak Kami, dan hanya sibuk bekerja saja" Kevin lagi-lagi menyalahkan dirinya.


Dengan langkah gontai Kevin memasuki kamar calon anak mereka, dengan menguatkan hati Kevin melangkahkan kakinya memasukir kamar tersebut, dan mengambil sebuah dus yang begitu besar di sudut ruangan, membuka dus tersebut dan mengikuti langkah-langkah yang telah di jelaskan di sebuah kertas untuk memasang kuda-kudaan kayu tersebut.


Kevin memeluk kuda-kudaan tersebut dengan sangat erat seakan-akan itu adalah anaknya. "Maafkan Ayah karena tidak bisa melindungimu, maaf kan ayah karena telah menyakiti ibumu, maafkan ayah, ini semua kesalahan ayah, bahkan ibumu tidak ingin bertemu dengan ayah" ucap Kevin masih memeluk kuda-kudaan tersebut dengan erat.


"Sayang Aku sudah memasang kuda-kudaan anak Kita, maafkan Aku ya" isi pesan Kevin yang hanya di read oleh Anin.


"Sayang bagaimana keadaanmu? apa Kamu baik-baik saja." isi pesan kevin dan lagi-lagi hanya di read oleh Anin.


"Sayang Aku merindukanmu, tidak apa-apa jika sekarang Kamu tidak mau menemuiku, mungkin Kamu masih marah, tapi kabari Aku jika Kamu sudah mau pulang ya Aku akan menjemputmu." isi pesan Kevin dan lagi-lagi di read oleh Anin.


Anin kembali menangis membaca pesan dari Kevin, setiap mengingat Kevin dan juga perbuatannya membuat hatinya begitu sakit. Anin memutuskan memblokir no Kevin agar tidak mengingatkanya lagi pada dirinya.


Di sisi lain Kevin merasakan hal yang sama, apa lagi saat mengetahui nonya telah di blokir oleh Anin, namun Kevin tidak menyerah, terus mengirimkan beberapa pesan pada Anin, berharap Anin akan membuka blokirnya dan membaca semua pesannya.

__ADS_1


"Sayang bisa tidak balas pesanku sekali saja, setidaknya jika Kamu membalas pesanku, Aku bisa mengetahui apa Kamu baik-baik saja di sana, Aku minta maaf, Aku akui Aku salah, tapi jangan mendiamkanku seperti ini, lebih baik Kamu memukulku sepuas hatimu" isi pesan Kevin yang tidak mungkin dapat di baca olah Anin.


Kevin menampar dirinya sendiri, dan kembali menyalahkan dirinya "pukul Aku Anin, pukul jika itu bisa membuatmu memafkanku" Kevin terus memukul dirinya sendiri. Membuat Oma Jelita menagis melihat cucunya yang begitu menderita dan terus menyalahkan dirinya.


"Jika saja Aku tidak menyuruh pengacara Charles mengubahnya dan langsung merobek perjanjian tersebut, ini semua tidak akan terjadi, mungkin saat ini Aku akan sangat bahagia bersama Anin dan juga anakku" Kevin memeluk lututnya dan menegalamkan wajahnya.


Oma yang tidak sanggup lagi melihat kekacauan cucunya, menghampiri Kevin di dalam kamar calon cicitnya yang telah Ia dekor sedemikian rupa. "Apa dengan menyalahkan dirimu, keadaan akan kembali membaik?" tanya Oma Jelita berusaha kuat dan menahan air matanya agar tidak jatuh.


Kevin mengangkat wajahnya menatap wanita tua yang sedang duduk di hadapannya. "Apa dengan begini Anin akan kembali padamu? dan jika saja Anin ingin kembali padamu, apa mertuamu akan membiarkan itu? jawabannya tidak, Sandra tidak mungkin menyerahkan putrynya lagi padamu setelah apa yang Kamu lakukan padanya."


"Oma juga pernah merasakan apa yang Kamu rasakan Kevin, Oma sudah kehilangan kakekmu dan juga ayahmu, dan Kamu tahu itu sangat menyakitkan. Bahkan saat Oma kehilangan ayahmu, Oma di beri begitu banyak cobaan, setelah ayahmu meninggal, Ajeng dan juga Suaminya mengambil alih perusahaan dan membuat perusahaan menjadi kacau. Karena Oma tidak tahu harus mengandalkan siapa lagi, Oma mencoba bangkit walau itu tidak mudah, Oma menyibukkan diri dengan segala kesibukan di perusahaan dan itu berhasil membuat Oma melupakan rasa sakit yang Oma rasakan karena kehilangan Ayahmu."


Oma Jelita mengusap pundak Kevin yang sudah terlihat lebih tenang di banding tadi. "Oma tahu bagaimana perasaanmu, Oma tahu Kamu sangat mencintai Anin, tapi beri waktu Anin untuk menengkan dirinya, jangan karena masalah ini Kamu melupakan tanggung jawabmu sebagai pemimpin. Terkadang menyibukkan diri bisa membantu Kita untuk melupakan segala sakit hati yang Kita rasakan"


Oma Jelita tak sia-sia bercerita panjang lebar pada Kevin, saat melihat Kevin terlihat tenang. Oma Jelita bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar calon cicitnya, Ia tidak ingin Kevin melihatnya menangis dan begitu rapuh. Bagaimanapun Ia juga merasa kehilangan cicit dan cucu menantu kesayangannya pergi dari rumah, dan membuat rumah kembali dingin seperti dulu.


-


-


-


-


-

__ADS_1


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2