
"Dimana Bara?!" Bentak Celina dengan penuh amarah pada Dani yang berusaha menghalang-halangi untuk bisa bertemu dengan Bara.
"Tuan Bara sedang tidak di bisa ganggu." Dani masih menjawab dengan santai.
"Aku ingin bertemu dengan Bara!" Celina kembali membentak. Tubuhnya sibuk mencari celah untuk dirinya bisa menerobos masuk kedalam ruangan Bara.
"Harap Nona Celina mendengarkan saya. Jika tidak, saya akan menggunakan cara kasar untuk mengeluarkan Nona Celina dari tempat ini." Dani terpaksa mengancam untuk menghentikan Celina yang mulai menyulut keributan.
Ternyata melumpuhkan Celina tak semudah melumpuhkan anak kecil yang bisa di gertak sambal. Celina tak takut dan nyalinya juga tidak menciut. Celina malah semakin bersemangat berteriak memanggil - manggil nama Bara dengan volume suara yang meninggi, agar bisa langsung terdengar oleh kedua telinga Bara.
"Bar! Bara! Aku itu mau bertemu denganmu!" Teriak Celina dengan lantang.
Daun pintu di depan mata terbuka. Menampakkan sosok Bara yang keluar bersama Kiran dari dalam.
Sontak saja kedua mata Celina terbelalak, membulat sempurna. Deruan napasnya menggebu dan tak berirama. Darahnya mendidih. Hatinya panas melihat perempuan cantik yang berdiri di sebelah Bara. Celina pastilah tahu siapa perempuan cantik yang berdiri di sebelah Bara.
"Jadi Karena dia Bara! Karena dia kau langsung memutuskan pertunangan kita?" amarah Celina meledak tak tertahankan.
"Kau harus tahu diri dengan siapa kau itu berbicara. Aku rasa kau juga tahu, perjanjian yang terjadi di antara kita." Bara masih tenang meladeni kemarahan dari Celina.
Celina terdiam. Mati kata oleh kalimat peringatan dari Bara yang sangat Celina pahami. Aktris cantik itu memejamkan kedua matanya sejenak. Mencoba mengambil kesadaran diri untuk bisa mengambil kembali hati Bara.
Tanpa terduga dengan kembali merendahkan diri Celina memeluk Bara. Kedua tangan Celina melingkar erat - erat di tubuh Bara.
"Bar, aku sangat mencintaimu. Dan akan selalu mencintaimu." suara parau Celina bergetar dalam membujuk Bara.
"Tcch! Dasar tidak tahu malu!" Cibir Kiran yang menyikapi drama kesedihan dari Celina.
"Pergi jauh - jauh dariku!" Dengan gerakan kasar, Bara menyingkirkan Celina dari tubuhnya.
"Bar, aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Bara!" Air mata Celina jatuh membasahi pipi ketika berusaha untuk meyakinkan Bara.
__ADS_1
"Kau Celina artis terkenal papan atas itu bukan? Harusnya kau itu menjaga reputasimu dan jangan berulah yang bisa mempermalukan diri sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Caramu untuk mencapai tingkat popularitas menggunakan cara kotor, sih. Jadi nggak abadi dan langsung terpuruk seperti ini."
Plak.
Ucapan Kiran langsung terhenti oleh tangan Celina yang melayang keras di wajah cantiknya. Darah Celina yang semakin mendidih karena mendengar ucapan dari Kiran kini tak bisa di tahan lagi untuk menahan amarah yang sudah memuncak di dalam diri.
Sisi wajah Kiran terasa panas, perih hingga menorehkan memar yang langsung jelas terlihat. Seketika Kiran langsung di dera rasa sakit yang luar biasa atas tamparan keras dari tangan Celina. Rasa sakitnya menjalar hingga sampai ke kepala lalu memberikan rasa pusing yang tak tertahankan.
"Kiran?" teriak Gita yang baru saja tiba di tempat kejadian. "Hei! Apa yang sudah kau lakukan pada Kiran?!" Gita yang kesal lalu langsung mendorong Celina.
"Kau pulanglah bersama dengan Gita. Tunggu aku malam nanti. Aku akan datang ke Apartemenmu." perintah Bara agar Kiran bisa pergi meninggalkan tempat itu.
"Bar, dia...."
"Jadilah perempuan yang baik." Bara langsung memotong cepat ucapan Celina. "Ingat, aku akan datang malam nanti. Jadi tunggu aku," sambung Bara dengan membelai lembut wajah Kiran yang masih terlihat memar dan memerah itu.
"Bara...., aku...aku..."
Bara tampak acuh, lelaki tampan itu sibuk menyibakkan tubuhnya dengan jemarinya. Seolah-olah sedang membersihkan diri dari noda kotor yang menjijikkan.
"Tapi aku sangat mencintaimu, Bar? Kenapa kau tega melakukan ini kepadaku?" tanya Celina yang masih keras kepala menyatakan tentang perasaannya.
"Setahuku, jika seseorang mencintai lawan jenisnya pastilah seseorang itu akan menjunjung tinggi kesetiaannya, kesuciannya. Cinta yang di miliki itu hanya di tujukan pada orang yang berada di hati. Dan tidak dengan mudahnya menjajakan tubuhnya kepada lelaki lain dengan mudahnya." Bara menyindir dengan lancar. "Dengar Celina! Kau kira dengan diamnya aku selama ini, tak mengetahui sebuah kebusukan mu dengan managermu itu?!" Sambungannya memincing tajam ke arah Celina.
"Tapi Bar, kau itu sudah salah paham!" Celina menyangkal dengan wajah yang memelas. "Itu semua karena Awan yang memaksaku dulu saat karirku masih berada di bawah."
"Sudah, sudahlah Celina! Kau itu sudah membodohi orang yang salah." ucap Bara yang mulai muak dengan berbagai alasan yang di karang - karang oleh Celina.
"Tapi, aku benar - benar mencintaimu, Bara. Bukankah kau sendiri yang mempublikasikan hubungan kita sebagai tunangan." Celina masih terus membujuk Bara.
"Ya! Dan kau yang sudah menggali lubang kuburan mu sendiri!" Teriak Bara langsung menyambar cepat.
__ADS_1
"Apa kau ini sudah mulai amnesia, Celina? Dengar, hubungan yang terjadi di antara kita itu karena saling memanfaatkan dan tidak lebih! Aku harap kau tidak lupa akan hal itu!" Bara mengulas senyuman yang menjengkelkan.
"Aku tak pernah sekalipun memanfaatkanmu, yang aku lakukan itu tulus sayang dan cinta padamu Bara." begitu gigihnya Celina terus memainkan sandiwaranya.
"Apa? Tak pernah memanfaatkanku? Wah, kau memang benar - benar sudah amnesia!" Bara tertawa mengejek dengan bertepuk tangan. "Hei! Apa kau itu sudah lupa dengan permintaanmu kepadaku? Apakah karirmu yang sudah berada di atas angin karena hasil dari usahamu? Ya, lebih tepatnya usahamu yang terus merayuku. Tapi aku sangat bersyukur pada akhirnya imanku tak goyah saat di goda perempuan murahan sepertimu. Perempuan yang sudah di celap - celup kesana sini hanya demi kepentingan pribadinya."
"Jaga ucapanmu Bara!" Bentak Celina marah.
"Dengar Celin, kau yang seharusnya jaga bicaramu dan sikapmu itu! Kau kira kau siapa? Bisa seenaknya menyentuh ibu dari anakku. Tanganmu itu sudah begitu kurang ajarnya menampar perempuan kesayanganku. Kau tahu? Rasanya aku ingin sekali memberikan balasan rasa sakit yang kau berikan kepada Kiranku. Tapi, aku tidak perlu untuk mengotori tanganku dengan perempuan yang kotor dan menjijikkan sepertimu."
Kata - kata yang sudah naik ke tenggorokan tak mampu lagi Bara tahan. Lidah tajamnya begitu lancar mengeluarkan kata - kata yang sangat menyakiti hati Celina.
"Jadi benar karena dia, kau mencampakkan aku Bara? Perempuan perebut lelaki orang lain!" emosi Celina terpancing hingga menggeram kesal.
"Dengar ya, Celina. Aku itu sudah malas apalagi berbicara dan berdebat denganmu seperti ini. Hanya akan membuang - buang waktu yang berhargaku saja. Kali ini kau yang meminta aku untuk bertindak tegas tanpa ampun kepadamu. Jadi, jangan pernah kau sesali dampak dari perbuatanmu tadi!" Ancaman yang tidak main - main Bara berikan hingga menghantarkan senyar ketakutan di jiwa Celina.
"Dani!" Teriak Bara memanggil asistennya dengan nada yang membentak. " Singkirkan perempuan ini dari sini! Kedatangan hanya mengundang lalat masuk hingga mencemari udara di kantorku ini!"
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1