
Anna mengajak Kevin makan malam sekalian minum-minum dengan alasan untuk merayakan pertemanan meraka. Kevin tidak menolak ajakan Anna, karena Ia mengira Anna tulus mengikhlaskan dirinya.
"Pantas saja Kamu jatuh cinta pada Anin, Dia adalah sosok wanita yang sangat baik dan juga penyayang" puji Anna, namun Kevin tetap diam saja, memakan makanannya.
"Apa Kamu bahagia hidup dengannya?" tanya Anna setelah lama terdiam.
"Iya Kami bahagia, apa lagi Kami akan segera menjadi orang tua, sebisa mungkin Aku akan membahagiakan Anin." jawab Kevin tanpa sungkan mengekspresikan perasaannya pada Anna.
"Tapi Anin curhat padaku" Anna memulai aksinya. "Dia mengatakan bahwa Dia sangat bahagia di cintai olehmu, namun yang membuatnya gelisah adalah, karena surat perjanjian perceraian kalian, katanya Anin selalu khawatir akan hal itu, Anin takut Kamu akan meinggalkannya setelah Dia melahirkan nanti." Anna mulai mengarang cerita, padahal Anin tidak pernah mengatakan itu padanya.
"Kamu tahu tentang perjanjian itu?" Kevin menghentikan kegiatan makannya dan meyesap minumannya.
"Iya Aku tahu itu, Anin yang memberitahuku, Dia sangat jujur ya" ucap Anna lagi.
"Walaupun Aku dan Dia pernah menandatangani surat perjanjian itu, tapi Kami tidak akan berpisah, lagi pula Aku akan mengantinya" ucap Kevin lagi, membuat hati Anna begitu sakit.
"Apa sebegitu besar rasa cintamu padanya?" batin Anna.
Anna berusaha terlihat baik-baik saja. "Tapi Dia tetap gelisah akan hal itu, sebagai teman Aku sarankan Kamu menyelesaikan masalah ini sebelum perayaan ulang tahun Oma besok." permainan Anna mulai dalam dan Ia yakin rencananya kali ini berhasil.
"Maksudmu Aku harus mengubah perjanjian perceraian itu?" Kevin tertarik dengan pembicaraan Anna.
"Iya, jika Kamu tidak ingin Anin terus merasa khawatir, Kamu harus menyelesaikannya sebelum perayaan ulang tahun Oma besok" Anna mengulang perkatannya, dan kini hatinya tersenyum, Kevin mulai masuk kedalam perangkapnya.
"Baiklah tunggu sebentar" Kevin bangkit dari duduknya dan menjauh dari Anna, Ia lalu menghubungi pengacara Charles untuk mengubah surat perjanjian perceraiannya dengan Anin, dan menyuruh pak Charles mengirimkannya pada Anin besok pagi.
Tanpa Ia tahu bahwa Anna merekam pembicaraannya dengan pengacara Charles. Setelah Kevin menutup sambungan telfonnya Ia kembali duduk di hadapan Anna.
Anna mengembangkan senyumnya dan memberikan Kevin segelas minuman beralkohol, Kevin tanpa curiga meminum minuman yang di suguhkan Anna. Anna kembali memberikan Kevin minuman beralkohol hingga Kevin benar-benar mabuk.
Setelah Kevin mabuk, Anna membawa Kevin pulang, namun bukan ke rumah Kevin melainkan ke apartemen.
__ADS_1
"Ini bukan rumah ku, Aku mau pulang kerumah, Istriku sudah menungguku" rancau Kevin saat Anna berusaha membopongnya masuk ke gedung apartemen.
Kevin menepis rangkulan Anna pada tubuhnya "Ini bukan rumah ku Aku mau pulang" lagi-lagi Kevin merancau membuat Anna begitu geram, bahkan ketika Kevin mabuk Ia masih mengingat rumah dan juga Istrinya.
"Kamu bermalam di apartemen saja, Apa Kamu mau jika Oma dan juga Anin melihatmu mabuk seperti ini?" ucap Anna berusaha membawa tubuh kekar Kevin memasuki apartemennya.
Karena Kevin sudah sangat mabuk, Ia tidak mampu lagi untuk memberontak dan hanya mengikuti kemana Anna membawanya. Setelah sampai di apartemen, Anna membaringkan tubuh kekar Kevin di tempat tidur dan menyelimutinya.
Anna memandangi wajah tampan Kevin yang kini menjadi milik orang lain, Anna mengangkat tangannya menyentuh dan mengusap pipi dan juga bibir Kevin, setelah puas memandangi Kevin, Anna melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar ponsel Kevin berdering, Anna membalikkan tubuhnya dan buru-buru mengambil ponsel Kevin setelah mengetahui pemilik Id penelfon.
Anna segera mengaktifkan mode silent pada ponsel Kevin, dan seakan-akan Kevin tidak menjawab panggilan dari Anin. Dan betapa geramnya Anna saat mendengar Kevin mengigau menyebut nama Anin berulang kali.
"Anin Aku mencintaimu" igauan Kevin berulang kali, membuat Anna tidak betah di dalam kamar, dan terpaksa Ia tidur di sofa ruang tamu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu di mana sih mas, sudah tengah malam belum pulang juga" gumam Anin mondar-mandir di dalam kamarnya.
Lama Anin menunggu Kevin, namun tak kunjung sang Suami datang, Anin melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, dan memasuki kamar calon anak mereka. Anin mengambil beberapa foto dan mengirimkannya pada Kevin.
"Mas lihat deh, Aku sudah mendekorasi kamar baby Kita, Kamu tinggal memasang kuda-kudaan yang mas beli" pesan Anin.
Anin meletakkan ponselnya di atas nakas lalu Ia mengelus perutnya saat merasakan tendangan sang buah hati. "Sayang Kamu percayakan sama ayah? Ayah pasti menepati janjinya kan? untuk mewujudkan impian Ibu yang ingin mempunyai keluarga yang bahagia." Anin terus mengelus perutnya dan tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anin terbangun dari tidur neyaknya saat ponselnya berdering, Ia mengedarkan pandangannya dan baru tersadar bahwa Ia tidur semalaman di kamar calon babynya. Anin mengernyitkan keningnya saat mengetahui Id penelfon.
"Ada apa Anna menghubungiku sepagi ini?" gumam Anin dan segera menjawab oanghilan tersebut.
__ADS_1
"Datanglah ke apartemen untuk menjemput suamimu" ucap Anna dan langsung memutuskan sambungan telfonnya.
Anin segera bersiap-siap untuk menemui Anna di apartemennya. Dua puluh menit telah berlalu akhirnya Anin sampai di apartemen Anna. Anna mengembangkan senyumnya dan menyambut kedatangan Anin.
"Duduklah dulu" ucap Anna mempersilahkan Anin duduk.
Anin menuruti perkataan Anna dan segara duduk, Anin memperhatikan buku bacaan yang berceceran di atas meja dengan berbagai judul tentang anak. Ya Anna sengaja menyimpan buku-buku tersebut di atas meja agar Anin melihatnya.
"Minumlah dulu" Anna memberikan teh hangat pada Anin dan ikut duduk di hadapannya. "Kevin bermalam di sini karena mabuk semalam" ucap Anna.
"Kalian berdua mabuk?" pikiran Anin sudah traveking kemana-mana.
"Jangan berfikiran macam-macam, Kami tidak malakukan apapun, hanya saja Kami bercerita banyak hal untuk mengenang masa lalu Kami." Anna mengembangkan senyumnya saat melihat ekspresi Anin.
"Kami bercerita banyak hal, Kevin mengatakan padaku bahwa Ia sangat gugup karena sebentar lagi Ia akan menjadi ayah, Ia tidak yakin akan menjadi ayah yang baik untuk anaknya. Jadi Aku mengatakan padanya, bahwa Aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya nanti, Ia begitu senang mendengar Aku mengatakannya" Anna bangkit dari duduknya dan mengambil tas di atas meja.
"Aku pergi dulu ya, sebentar lagi perayaan ulang tahun Oma, dan Aku belum menyiapkan hadiah apapun. Oh iya Kevin masih tidur, Dia ada di dalam kamar." setelah mengatakan itu, Anna pergi meninggalkan Anin dan juga Kevin di dalam apartemen tarsebut.
Kevin yang baru saja terbangun, segera mengedarkan pandangannya dan baru tersadar bahwa Ia tidak tidur di rumah, kepalanya begitu pusing. Kevin meregangkan otot-otonya, setelah itu Ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Kevin melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dan terkejut melihat Istrinya duduk di sofa dan memandanginya dengan tatapan yang begitu tajam.
-
-
-
-
TBC
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.