
Semilir angin pegunungan yang sejuk menghempas wajah cantik Kiran. Dan menghantarkan senyar dingin yang membuat kedua kelopak matanya mengerjap sejenak lalu kedua matanya refleks memeluk tubuhnya sendiri.
Bibir Kiran mulai menipis sebuah senyuman terulas dari kedua mata yang berbinar memandangi keindahan alam hasil ciptaan dari Tuhan.
Jiwanya tersentuh dan hatinya terjamah. Perasaan Kiran terselimuti suasana yang damai, jauh dari perasaan yang takut, dan juga dari perasaan yang selalu waspada. Semuanya telah lenyap dan menghilang. Suasana baru dari pemandangan yang baru di tambah lagi dengan udaranya yang sejuk yang menenangkan hati Kiran. Dan membuat Kiran sepertinya akan betah dalam memenuhi acara ulang tahun dari salah satu kenalannya.
"Baguskan?" tanya Bu Amanda yang membuyarkan ketenangan dari Kiran.
"Harusnya sudah dari dulu aku kesini, Bu Amanda. Kenapa nggak pernah recommended ke aku sih?" ada penyesalan yang terselip dari kata - kata Kiran.
"Maaf loh, dan lagi pula kemarin Arkana itu juga masih kecil," Amanda menyatakan rasa bersalahnya. "Pak Dokter keluar kota lagi?" sambungnya ingin tahu.
"Iya, Bu! Karena Julian ada urusan kerjaan di luar kota." dengan berat hati Kiran terpaksa berbohong.
"Jangan sedih kalau Pak Dokter enggak bisa temani kamu di sini! Karena masih ada saya dan yang lainnya yang menemani. Malam nanti kita juga bakal ngadain acara barbeque-an. So, enjoy this party! Jangan sungkan karena para tamu yang ada di sini adalah kerabat dekat kita semua!" Amanda mengulas senyuman yang ramah. Setelah membocorkan secuil rentetan acara.
"Aku pasti enjoy kok, Bu. Tempatnya menyenangkan dan acaranya pasti akan meriah." Senyuman manis pun terulas dari Kiran saat membalas ucapan dari Amanda.
"Syukurlah, kalau Kiran suka. Lain kali kita ke tempat ini lagi bareng dengan Pak Dokter ya?" ajak Amanda dengan ketulusan dan kepolosannya.
Kerabat dekat dari Kiran itu pergi meninggalkannya. Bersama dengan Arkana yang berada di dalam stroller dengan pengasuh Arkana, Mbak Dewi. Kiran pun masih ingin menikmati suasana pegunungan di taman dari Mikie Holiday Resort, penginapan yang menjadi tempat berlangsungnya acara.
Arkana yang berada di dalam stroller di ambil dan di gedong oleh Kiran. Sebuah kecupan hangat Kiran hadiahkan di pipi Arkana sebelum Mama cantik itu mau memamerkan keindahan alam pada bayi tampannya itu.
"Mbak Dewi langsung ke kamar saja. Karena saya masih mau di sini dulu bersama dengan Arkana," titah Kiran yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari pengasuh anaknya itu.
__ADS_1
Dari sudut lainnya dengan tatapan tajam yang terkunci dan tak teralih, ternyata ada seseorang yang sudah memperhatikan Kiran yang terlihat begitu bahagia dengan menggendong Arkana. Sebuah potret alami dari perempuan cantik yang mampu menghantarkan senyar hangat di hatinya.
"Anakku...! Sayangku...," lirih Bara penuh kerinduan dari sudut yang tidak terduga.
...***...
"Apa kau sudah benar-benar yakin kalau Om Bara pergi karena urusan bisnis?" tanya Alvaro terus menginterogasi Rafael yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Yang Rafael katakan hanyalah yang sesuai dengan penyelidikannya, Kak." Julian mulai membela Rafael yang sudah mulai lelah mendapatkan tekanan yang tiada hentinya dari Alvaro sejak tadi.
"Maksudku, apakah kalian itu tidak menaruh rasa curiga? Aku sangat takut jika dia benar - benar akan menemui Kiran." ucap Alvaro yang mulai menyatakan ketakutannya dari rasa khawatir yang sejak kemarin malam menghantui.
Pengusaha dan pebisnis muda itu sudah mengetahui absennya Bara dalam acara ulang tahun Lisa malam nanti lewat laporan sekretaris pribadinya, Rafael. Pikiran negatif langsung menghantui Alvaro saat mengetahui jika Paman Mudanya itu sudah melakukan penerbangan ke tempat dimana Alvaro telah menyembunyikan keberadaan Kiran.
Julian yang juga turut hadir di ruang kerja dari hunian tempat tinggal milik Alvaro pun terkesiap mendengar dari kabar Kakak sepupunya itu. Rasa menyesal langsung menggelayuti hati Julian karena tidak memaksa Kiran untuk ikut serta dengan dirinya.
"Sebaiknya aku akan menelepon Kiran untuk tetap berada di rumah," insiatif dari Julian dengan gerakkan tangan yang menyentuh - nyentuh layar handphone miliknya.
"Aku rasa tidak usah, Julian!" Sela Marsha menyuarakan pendapatnya, mencuri perhatian dari ketiga pria yang sejak tadi berdebat dengan perasaan mereka sendiri.
"Marsha, kenapa kau mengatakan seperti itu,Baby?" dahi Alvaro mengerut, heran dengan sikap istri tercintanya saat ini.
"Biarkan Om Bara untuk menebus kesalahannya," sikap Marsha bertolak belakang dengan keputusan dari Alvaro dan juga Julian.
"Kau itu sedang membela Om Bara?" tanya Alvaro yang menuduh.
__ADS_1
"Bisakah Kak Marsha memberikan alasan yang masuk akal dari ucapan Kak Marsha?" tanya Julian setengah mendesak.
"Tidakkah kau memahami perasaan Kiran, selama hampir dua tahun kau menemaninya, Julian?" Marsha malah balik bertanya.
Deg.
Jantung Julian tersentak. Kesadaran dan jiwa sensitifnya terketuk hingga terbangun dari tempatnya. Mulut Julian terkunci rapat. Pita suaranya seketika tidak berfungsi, sejalan dengan lidahnya yang kelu dan tidak mampu untuk merangkai kata.
Julian pastilah tahu dan memahami perasaan dari Kiran selama hampir dua tahun bersama. Dari kesedihan Kiran, kegalauan Kiran dan kepura - puraan Kiran yang selalu berusaha untuk selalu tegar di titik kerapuhannya sudah begitu Julian pahami dengan benar.
"Mungkin Kiran berusaha untuk menolak, berusaha untuk membenci dan berusaha untuk tegar. Tapi, apa kalian tahu perasaan yang ada di relung hatinya? Sebenci apapun mulut Kiran mengatakannya. Aku yakin, jika Kiran sebenarnya sangat merindukan sosok Ayah biologis dari putranya itu. Hingga sampai detik ini, kita semua juga tahu bagaimana rasa frustasinya Om Bara mencari - cari keberadaan Kiran. Hanya saja kalian itu terlalu pintar mengecohnya sampai - sampai dia memilih caranya sendiri dengan menyakiti hati Kiran lagi."
Marsha menjadi sosok bijak yang mengetuk kesadaran dari kedua lelaki yang ada di ruangan itu. Kedua lelaki yang bersikap egois hanya dari sudut pandang mereka tanpa ingin memahami perasaan Kiran yang sesungguhnya.
"Biarkan mereka bertemu dan saling bertatapan. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Karena masalah di antara mereka tidak akan pernah selesai jika terus berlari. Yang ada hanya akan ada kesalahpahaman yang tiada akhir, hingga membuatnya semakin tersakiti. Dan Kiran juga akan semakin membenci. Biarkan Om Bara untuk menebus kesalahannya kali ini. Ada Arkana yang membutuhkan kehangatan dari kedua orangtuanya." kalimat larangan tegas Marsha kepada Alvaro dan juga Julian agar tidak lagi bertindak lebih.
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.