Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Tingkah Ke-tiga Lelaki


__ADS_3

Perempuan itu berlari menapaki lantai dari lorong hunian Apartemen dengan pintu-pintunya yang tertutup rapat. Marsha kalap melihat Alexa yang akan mendapatkan intimidasi dari laki-laki yang berbadan tegap berkali - kali lipat dari tubuh Naura.


"Hentikan!" Bentak Alvaro menggema seisi lorong.


Suara pelatuk dari senjata api di tangan pun saling bersahutan. Para bodyguard yang mengawal Tuan dan Nyonya besarnya mereka langsung bergerak cepat untuk menjadi tameng. Melindungi sekaligus mengeluarkan aura gelap yang mencekam pada orang - orang yang mengeroyok Naura.


"Berhenti. Atau aku bisa memecahkan kepala kalian saat ini juga," ucap Alvaro yang kini ikut mengarahkan senjata api yang diambil dari saku dalam jas yang di kenakannya


Ancaman dan sorot mata Alvaro yang begitu tajam menggetarkan seluruh tubuh para pengeroyok Naura. Menciutkan nyali hingga darahnya terperosok turun tak mampu bergerak naik ke kepala.


"Si- siapa kalian?" tanya Ibu tiri Naura memberanikan untuk bersuara dengan penuh penasaran.


"Kau masih berani bertanya siapa kami?" Marsha tak kalah menakutkannya dari sosok suami yang berdiri di samping.


"Jangan ikut campur urusan kami! Kalian...."


"Hei!" Sela Alvaro dengan mengarahkan senjata api di tangan ke arah Ibu tiri Naura. "Kau memang mau cari mati, ya?" ancam Alvaro dengan menggeram rapat.


Naura mengerang kesakitan. Perempuan yang terduduk di atas lantai itu memejamkan kedua matanya lalu tak sadarkan diri.


"Naura!" Teriak Marsha histeris lalu menangkap tubuh Naura agar tidak tertidur di atas lantai. "Alvaro, kita bawa dulu Naura ke rumah sakit." sambung Marsha panik dengan wajahnya menengadah pada suami yang berdiri menjulang di depan mata.


"Ingat. Urusan kita belum selesai! Setelah ini kalian akan menerima akibat dari perbuatan kalian ini!" Ancam Alvaro pada Ibu tiri Naura.


***


Naura terduduk di atas ranjang pasien. Tatapan kedua mata terfokus pada jemari yang saling bergesekan gelisah. Perempuan cantik yang saat ini berstatuskan pasien itu tak mampu untuk membalas tatapan satu persatu para saudara Julian yang datang ke kamar perawatannya.


Tak usah lagi tanya kehadiran Alvaro dan Marsha yang memang melarikan Naura ke rumah sakit.Kiran dan Bara pun langsung menuju ke rumah sakit ketika tak sengaja menghubungi Marsha. Viona pun langsung membawa serta Berlin yang saat itu sedang berkunjung ke rumah mereka saat Saga memberikan kabar perihal keadaan Naura. Hanya minus para orang yang memang tak di berikan kabar. Bastian dan Julian yang tidak hadir di karenakan keberadaannya yang masih di luar kota pun juga tidak di berikan kabar.


"Tulang belakangmu mengalami keretakan ringan. Sepertinya itu bukan kau dapatkan saat tadi mereka menyerangmu." ucap Saga memberitahukan hasil rontgen yang ia terima dari dokter yang menangani Naura.

__ADS_1


"Bisakah tidak usah memberitahu Julian tentang hal ini?" tanya Naura agak takut dalam tundukkannya.


"Naura? Kenapa kau ingin merahasiakan kejadian ini dari Julian? Setelah kekejaman yang sudah di lakukan oleh ibu tirimu?" Kiran langsung menyuarakan penolakannya atas keinginan Naura.


"Iya, Naura. Kenapa? Julian seharusnya tahu tentang masalah ini," suara Marsha mengalun lembut seolah membujuk lembut kerasnya hati Naura.


"Aku hanya tidak ingin merepotkan Julian lebih jauh." alasan yang standar yang terucap dari bibir Naura.


"Bisakah para lelaki keluar sebentar?" Viona pun langsung mengalihkan pembicaraan dengan tatapan yang tertuju kepada ketiga lelaki yang berdiri saling berdekatan. "Kami ingin berbicara dari hati ke hati," sambung Viona dengan tatapan yang serius.


Ketiganya pun saling bertatapan seolah tersimpan tanya yang sama di dalam benak. Alis yang saling terangkat seolah mengajak satu sama lain berbicara.


"Mau ke ruanganku atau ke kantin?" tanya Saga kepada Alvaro dan juga Bara.


"Ruanganmu itu kecil! Tak sebesar ruanganku!" Ucap Alvaro dengan keangkuhannya langsung menolak tawaran dari Saga.


"Di dekat sini ada kedai kopi kan? Katanya ice mochacino di sana sangat enak?" Bara pun ikut - ikutan menolak dengan merekomendasikan kedai kopi di daerah sekitar rumah sakit itu.


"Benar, Al. Lebih baik kita ke kedai kopi di dekat sini saja." Bara merangkul dengan tangan mencengkram bahu Alvaro dan mengajaknya untuk keluar dari ruangan perawatan Naura.


Sedangkan Saga hanya tersenyum tipis penuh paksaan mendengar sindiran - sindiran tak ada akhlak dari Kakak sepupunya dan Paman mudanya. Dari arah belakang keduanya Saga mengekori dengan menabahkan hatinya.


"Dasar para Bos sombong!" Cibir Kiran yang melihat tingkah angkuh suami dan keponakan Iparnya.


"Aku sangat beruntung memiliki suami yang berhati seperti malaikat." sahut Viona yang memuji sosok Saga yang jauh dari mata angkuh dan kesombongan.


"Seketika aku malu memiliki Kakak dan Paman seperti mereka berdua." Berlin jugaikut - ikutan menyuarakan suara hati yang muak melihat tingkah Alvaro dan Bara.


Sementara Marsha seperti biasa menjadi sosok yang lembut nan bijak. Perempuan cantik itu hanya tertawa lalu menghampiri Naura yang terhibur oleh tingkah ketiga laki-laki tadi.


"Harap maklum dengan tingkah mereka. Watak mereka memang seperti itu. Tapi jika masalah hati...."

__ADS_1


"Tidak sama dengan ucapan mereka."sela Naura cepat memotong ucapan dari Marsha. "Julian sudah memberitahukan hal - hal seperti ini padaku, Kak."


"Kelihatannya kalian sudah semakin dekat. Lalu, kenapa kau memilih untuk menyembunyikan masalah ini dari Julian, Naura?" Marsha pun langsung bertanya akan rasa penasaran yang mendera jiwa.


"Sepertinya Julian sedang sibuk dengan urusannya di luar kota. Dari kemarin Julian tidak menghubungiku apalagi membaca pesan WhatsAppku. Aku hanya tidak ingin merepotkannya lebih jauh." dengan lancar Naura menyeruakan suara kegelisahannya yang menghantui jiwanya.


"Julian memang tidak pernah berubah! Haruskah dia lebih mencintai pekerjaannya ketimbang mencintai pacarnya sendiri?" Kiran berucap kesal.


"Apakah kalian berdua sedang bertengkar, Kak?" sing bungsu Berlin mencoba untuk menebak.


"Tidak! Kami berdua dalam hubungan yang baik-baik saja," jawab Naura cepat.


"By the way, mengenai tulang punggungmu..."


"Aku dapatkan saat berada di kota S." Naura menyahuti cepat ucapan dari Viona. "Aku sudah biasa mendapatkan perlakuan kasar dari Ibu dan Kakak tiriku."


"Lalu? Apakah selama ini Ayahmu mengetahuinya?" tanya Viona lebih lanjut.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2