
"Dimana Bara?'
"Tuan Bara tidak ada tempat."
"Kau masih bilang jika dia masih di kediaman Kakaknya lagi?" Celina menuduh Dani dengan tatapan marah.
Kesabaran aktris cantik itu telah menipis. Amarahnya yang terpendam selama hampir seminggu sudah menumpuk hingga tak memiliki ruang lagi.
Celina terus di bohongi oleh Dani sesuai perintah dari Bara. Kini aktris cantik itu mulai menaruh rasa curiga ketika jemarinya tak lagi bisa menyentuh Bara. Tak bisa lagi menjamah Bara dengan bebas seperti dulu Celina biasa datang ke Apartemen Bara.
"Tuan Bara sedang ada rapat penting dengan klien?" Dani tetap mencari alasan yang masuk akal untuk meyakinkan Celina.
"Bara sudah pindahkan? Dia tak lagi menempati Apartemennya, kan?" tebak Celina dengan tepat hingga membuat Dani terdiam sejenak.
...***...
Sudut bibir Bara tertarik. Bibirnya menipis mengulas senyuman dengan memamerkan lesung pipi. Binaran kebahagiaan terpancar jelas dari kedua mata Bara. Seketika perhatiannya terlalihkan oleh getaran handphone miliknya yang berada di dalam saku celananya.
Helaan nafas lembut terdengar samar - samar. Dengan berat hati Bara terpaksa untuk berhenti dari kebahagiaannya.
"Ada apa?" tanya Bara tanpa berbasa-basi saat menjawab sambungan telepon.
"Celina datang ke kantor dan dia juga sudah curiga kalau kau itu sudah tidak lagi tinggal di apartemenmu?" Dani mengadu megenai Celina yang mengamuk mencari dirinya.
"Biarkan saja. Nanti aku yang akan menemuinya. Pastikan dia tidak tahu rumahku saat ini. Aku tidak mau di usik lagi. Apalagi dia menodai rumahku," titah tegas dari Bara yang tidak ingin ada bantahan.
"Oke, Papi. Perintah Papi akan segera di laksanakan." dengan nada bercanda Dani menjawab perintah dari Bara. "Bagaimana dengan Arkana? Apakah anakmu yang menggemaskan itu sedang tidur?" sambungnya kemudian.
Seolah di berikan penyejuk yang ampuh, amarah Bara langsung lenyap dari jiwanya. Cara Dani mengalihkan pembicaraan sungguh cerdas hingga membuat bibir Bara kembali menipis akan senyuman manis yang terulas.
"Sejak tadi aku sudah menggendongnya dan dia sedang tertidur pulas. Tapi, semuanya berubah setelah kau meneleponku dan membicarakan hal yang tidak penting!" Geram kesal Bara di akhir kalimatnya.
"Apa Arkana terbangun karena aku menelepon mu?" tanya Dani menebak.
"Tidak! Arkana tidak bangun. Hanya saja, aku kesal karena kau mengusik waktu berhargaku dengan anakku!" Bara kembali menggeram, meluapkan isi hatinya yang kesal.
__ADS_1
"Maaf, Maaf! Om Dani tidak akan menganggu Arkana dan Papi Bara lagi," Dani kembali menjawab pertanyaan Bara dengan nada yang bercanda dan memanggil Bara dengan statusnya yang baru.
...***...
Blouse hitam dengan aksen yang berjaring di daerah dada, memamerkan samar - samar kulit putih dan tulang selangka yang tegas. Rok mini yang berwarna senada membuat proyeksi tubuh langsing dan proporsional terlihat nyata. Kelegaan dari seseorang dari Kiran semakin sempurna dengan sepasang wedges berwana yang sama di kenakan olehnya. Belum lagi kacamata hitam yang di kenakannya menambahkan kesempurnaan outfit dari Kiran yang baru saja memijakkan kakinya di terminal kedatangan bandara kota B.
Dagu Kiran terangkat. Memamerkan sisi angkuhnya dengan dada yang naik menghirup udara sejuk Kota B siang hari yang di selimuti oleh awan mendung. Lalu dadanya kembali turun akan helaan nafas yang lembut.
"Hah.....!" Helaan nafas Kiran. "Awan mendung menyambut kedatanganku di kota B," sambungnya mengomentari.
"Pakaianmu seperti sedang berkabung! Serba hitam! Kamu mau mendatangi pemakaman untuk siapa?" tanya Julian yang berdiri di sisi sebelahnya.
"Pemakaman Pamanmu!" Jawab Kiran ketus.
"Apa hatimu benar - benar sedih, Kiran?" tanya Julian meragu. "Outfit mu hari ini sungguh tak seperti...,"
"Sshhh!" Kiran berdesis, berusaha menahan kesabarannya dari mulut bawel Julian. "Kenapa dari kemarin kau itu bawel sekali, Lian? Kau tahu? Bagaimana pun keadaannya, aku itu harus tampil sempurna. Pihak lawan akan menertawakanku, jika tampil seperti gembel kelas keset. Seorang Kiran Aurelia Geovan tidak boleh seperti itu. Walau sedang dalam keadaan kacau sekali pun di hadapan lawan. Karena itu adalah point utama dalam menaklukkan lawan! Kau harus pelajari itu, Lian!" Ucap Kiran sambil memetikkan jari setelah panjang lebar berbicara penuh percaya diri.
Julian meringis senyuman. "Ya! Akhirnya Kiran penuh percaya diri dan otaknya yang sedikit agak miring kembali!" Julian mencibir tanpa ragu. "Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Julian seolah belum percaya.
"Siapa yang akan menjemput kita?" tanya Kiran acuh. "Aku sudah tak sabar ingin melepas rindu pada Tante Lisa."
"Ya! Mama memang sangat merindukanmu. Caramu cukup sempurna untuk membalaskan perbuatan Pamanku itu!" Julian menyahuti tenang. Kacamata yang sempat terlepas kembali Julian kenakan, menambahkan kesan perfect dari dokter tampan itu.
...***...
Lisa memeluk erat Kiran. Jemarinya sudah tidak bisa diam membelai rambut kepala Kiran yang di tumbuhi rambut hitam panjang nan lembut.
Air mata yang tertahan di kedua mata yang sudah tidak sanggup lagi tertahan di sana. Sudah tumpah membasahi wajah perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Kemana saja kau selama ini? Kami semua itu mencarimu, Kiran?" kedua mata sembab Lisa menatap lekat Kiran yang juga menitihkan air matanya.
"Kiran hanya sedang butuh waktu sendiri, Tante?" alasan Kiran dengan suara paraunya.
"Tapi bukan seperti itu caranya, Kiran! Kau tahu? Kami semua di landa cemas, saat mengetahui bagaimana menderitanya kau melewati masa kehamilanmu." Lisa sedikit memarahi Kiran, meluapkan kekecewaan yang ada di dalam diri.
__ADS_1
"Ada Julian yang menemaniku, Tante." senyum tipis terukir di bibir Kiran yang di landa dengan rasa bersalah.
"Harusnya bukan Julian yang menemanimu, Kiran!" Serobot Anton cepat. "Bara.... arrrghhh!! Tendanganku seharusnya lebih kuat! Kalau saja Elvano tak melarangku, sudah habis anak itu di tanganku!" Sambung Anton yang kesal.
"Terima kasih, Om. Sudah mau mewakilkan untuk melampiaskannya sebagai kekesalanku," gurau Kiran yang a mendinginkan hati Anton yang mulai memanas.
"Kenapa panggil Om? Panggil aku Kakak Ipar!" Pinta Anton yang tidak ingin di bantah. "Sekarang kau adalah adik Iparku, kan? Sudah seharusnya kau memanggilku dengan sebutan Kakak Ipar. Ah, atau kau bisa memanggilku dengan sebutan Papi saja." sambung Anton sambil bercanda.
Adik Ipar? Kiran menjadi adik ipar dari keluarga Pratama? Sudah pasti di mata Anton dan Lisa, Kiran adalah istri dari adik mereka, Bara.
Namun, hubungan di antara mereka berdua masih mengambang, masih belum jelas, masih ada problematika yang menjadi pemisah di antara kedua insan yang mementingkan ego. Belum lagi status Celina Anastasya yang sudah terpublikasi secara resmi sebagai tunangan resmi dari Bara Ady Pratama.
Bibir Kiran menipis, mengulas sebuah senyuman yang terkesan di paksa. Ada getir yang terselip pada senyuman Kiran dengan wajahnya yang tertunduk.
"Hanya karena Kiran melahirkan anak dari Bara Ady Pratama, apakah Kiran layak di nyatakan sebagai adik ipar dari keluarga ini? Status kekasih Bara saat ini lebih layak dari pada di katakan sebagai adik ipar untuk keluarga ini?" suara parau Kiran bergetar ketika mengungkapkan keberatan hatinya.
"Dimata kami hanya kaulah yang pantas untuk menjadi Adik Ipar di keluarga ini, Kiran." tangan Lisa menggenggam lembut telapak tangan Kiran untuk meyakinkan perempuan cantik itu.
"Kami tak pernah memberikan restu untuk hubungan Bara dengan tunangannya itu." Anton menimpali pernyataan istri tercintanya.
"Apa? Om Bara dan Tante Lisa tak pernah menyetujui hubungan Bara dan Celina? Yes, bagus! Pendukung terkuatku berpihak kepadaku!" Batin Kiran yang kegirangan.
"Kalau begitu, bisakah Kakak Ipar membantuku untuk mengambil Arkana, keponakan Kakak Ipar dari tangan Bara? Karena Bara sudah menculik Arkana saat kami sedang berada di kota M. Dan Kiran sudah mendengar sendiri suara tangisan dari Arkana melalui sambungan telepon."
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.