Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Sisi lemah Tari


__ADS_3

Kevin ngintilin kemanapun Oma Jelita berjalan hingga masuk kerungan melukis, padahal Kevin tidak pernah menginjakkan kakinya diruangan tersebut.


"Kenapa Oma membiarkan Dilan menemani Anin?" tanya Kevin kesal.


"Kamu kan mau pergi ke Eropa, jadi Oma meminta Dilan untuk menjaganya" jawab Oma Jelita acuh.


"Di perusahaan, ada Ans yang akan menemani Anin, terus kalau kerumah sakit kan ,ada bibi Ajeng atau Elvan yang menemani Anin, kenapa harus Dilan" Kevin merajuk.


"Sudah-sudah jika Kamu tidak ingin Anin pergi denga orang lain, ya sudah Kamu batalkan saja rencanamu ke Eropa, kan gampang" ucap Oma Jelita cuek.


"Oma" Kevin memelas.


"Kamu cemburu sama Dilan?" goda Oma Jelita.


"Buat apa Aku cemburu? Aku hanya tidak percaya pada Dilan" kilah Kevin.


"Jika Kamu tidak percaya, ya sudah tinggal saja" ucap Oma lagi.


*****


Sementara di tempat lain sepasang manusia sedang bertengkar hanya karena hal sepele.


"Ans bisa tidak kecilkan suaramu" pinta Tari ketus.


"Kenapa Aku harus menuruti perkataanmu? nonton bola tanpa mengelurkan suara itu tidak menyenangkan" jawab Ans.


"Tapi Kamu mengangguku bekerja" gerutu Tari.


"Di rumah itu tempatnya istirahat, bukan untuk bekerja," ucap Ans tanpa mengalihkan pandanganya dari layar tv.


Tari mendegus kesal berjalan memasuki kamarnya.


Brak


Tari membanting pinta kamar dengan sangat keras.


****


Kevin terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati Anin didalam kamarnya.


"Selamat pagi" tulis Anin pada kertas note yang tertempel di dalam kamar mandi.


Setelah membersihkan diri dan sudah rapi, Kevin turun ke lantai bawah mencari keberadaan Anin namun tidak menemukannya.


"Oma dimana Anin?" tanya Kevin pada Oma Jelita yang sedang duduk sarapan di meja makan.


"Anin sudah pergi bersama Dilan" ucap Oma Jelita melanjutkan sarapannya.


"Dilan ikut sarapan di rumah Ini? terus kenapa tidak menungguku? mana sarapanku?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Kevin.

__ADS_1


"Itu" Oma Jelita menunjuk kotak makan yang ada di atas meja.


Kevin mengambil kotak makan tersebut dan memeriksanya, namun tidak menemukan apa yang Ia cari. "Mana kertas note nya Oma?" tanya Kevin semakin kesal, tidak biasanya Anin bersikap seperti ini, bahkan Ia tidak menyiapkan pakaian kerjanya.


Kevin berangkat ke kantor dengan perasaan kesal, mondar-mandir di ruangannya menunggu kedatangan Anin untuk menanyakan soal pekerjaan, namun nihil jam sebelah siang, Anin belum muncul juga.


Kevin memutuskan mengunjungi ruangan Anin, namun juga tidak menemukan sang empunya ruangan, Kevin mendaratkan tubuhnya di kursi kebesaran Anin. Sesekali melirik jam tangannya yang menujukkan jam makan siang namun sang empunya ruangan tak kunjung datang.


Beberapa menit telah berlalu jam makan siang sudah selesai, akhirnya yang di tunggu datang juga.


"Dari mana saja Kamu?" tanya Kevin dengan tatapan menyelidik.


"Ak...Aku ada meeting diluar tadi, ada apa Kamu mencariku?" tanya Anin cuek.


"Aku ingin menyerahkan ini padamu" Kevin memberikan dokumen pada Anin.


Anin memeriksa dokumen itu dan mengerutkan keningnya "Bukankah dokumen ini Aku serahkan untuk ditandatangani, kenapa memberikannya padaku?" tanya Anin.


"Ak..Aku hanya memperlihatkan mu, ah lupakan saja itu" Kevin jadi salah tingkah di depan Anin. "Oh iya Kita ada meeting sebentar sore, jadi ayo Kita makan siang dulu" Kevin menarik tangan Anin.


"Aku sudah makan dengan Dilan, Kamu jangan Khawatir Aku tidak akan mengacaukan rapat kali ini"


"Kamu belum makan?" tanya Anin.


"........" Kevin mengangukkan kepalanya, berharap Anin akan menemaninya makan siang.


Kevin mendegus kesal mendegar jawaban Anin, Ia melangkahkan kakinya menuju ruangannya.


"Ans" Panggil Kevin.


"Ada apa tuan?" tanya Ans sopan.


"Saya ingin bicara denganmu sebagai teman" ucap Kevin, Ans senyum karena kali ini Ia dapat menjahili Tuannya yang sangat arogan.


"Apa Aku harus tunda saja keberangkatanku ke Eropa?" tanya Kevin.


"Kenapa harus ditunda? bukankah ini momen yang kau tungu-tunggu selama ini.?"


"Jika Aku pergi ke Eropa bagaimana dengan Anin ? pasti Dia akan sendirian kerumah sakit, Dan akan kesusahan di perusahaan, belum lagi jika Aku tidak ada maka semua karyawan akan menyudutkannya." jelas Kevin.


"Kenapa Aku merasa kamu meyakinkan dirumu untuk tidak pergi? apa jangan Kau benar-benar sudah jatuh cinta dengan Anin?" goda Ans.


"Aku sedang tidak ingin bercanda Ans" ucap Kevin kesal dan bangkit dari duduknya. Dan kini gantian Ans yang duduk bersantai di kursi kebesaran Kevin.


"Bro pikirkan Anna yang sedang berjuang disana, Dia membutuhkanmu, dan jika Kamu menunda untuk menemuninya maka hubungan kalian akan semakin jauh. Namun sebaliknya hubunganmu dengan Anin akan semakin dekat, apa lagi Kau selalu menyempatkan waktu untuk menemaninya kemanapun" ucap Ans dengan ekspresi seriusnya.


"Baiklah Aku memutuskan untuk tetap pergi" ucap Kevin memantapkan hatinya.


"Apa ada lagi yang ingin Kamu bicarakan? jika tidak ada Aku akan pergi, lihatlah ini sudah jam tujuh malam," ucap Ans senyum penuh kemenangan karena berhasil memperlakukan Kevin seperti bawahannya.

__ADS_1


"Pergilah !" perintah Kevin.


"Aku akan pergi ke Eropa menemui Anna, dan aku akan menjelaskan semuanya, semoga dia bisa memafkanku" batin Kevin.


*****


Karena hari ini adalah hari minggu, Tari memutuskan menghadiri reuni SMA di sebuah restoran mewah.


Hari ini Tari tampil dengan menawan dan juga sangat cantik, bukan karena acara reuninya melainkan ingin membuktikan pada mantan pacarnya bahwa Dia bisa sukses dan bahagia tanpa dirinya.


Sesampainya di tempat reuni Ia meruntuki kebodahnnya karena terlalu fokus dengan penampilanya sampai-sampai Ia lupa membawa dompetnya.


Dengan menahan malu, Tari terpaksa menelfon Ans untuk meminta tolong. Berulang kali Tari menelfon Ans namun tak kunjung di jawab oleh sang empunya nomor.


Tari memutuskan untuk tidak menghubungi Ans lagi namun tiba-tiba ponselnya berdering, dengan wajah yang berbinar Ia menjawab telfon tersebut.


"Ada apa Kau menelfonku ? menganggu saja" ucap Ans ketus.


"Kak Ans yang tampan, bisa tidak Aku meminta tolong padamu" ucap Tari selembut mungkin, walau rasanya ingin muntah.


"Ada apa dengannya kenapa dia begitu lembut? apa Dia kesambet dijalan?" batin Ans.


"Kak Ans kenapa Kamu diam saja?" tanya Tari lagi karena tak kunjung mendengar jawaban Ans.


"Tergantung" jawab Ans singkat.


"Bisakah Kamu membawakan dompetku yang ada di atas meja makan?" pinta Tari.


Ans menyeringai licik mendengar permintaan Tari "Aku sedang sibuk banyak pekerjaan" kilah Ans yang nyatanya sedang duduk santai menonton tv namun suara tv nya sengaja dikecilin.


"Aku mohon, Aku akan menuruti semua permintaanmu" pinta Tari.


"Baiklah, kirimkan lokasinya" perinta Ans dan mematikan sambungan telfonnya.


Setelah memutuskan sambungan telfonnya Tari masuk kedalam restoran bergabung dengan teman-temannya.


Tiga puluh menit telah berlalu, akhirnya Ans sampai di restoran yang disebutkan Tari tadi, Ia melangkahkan kakinya memasuki restoran dan berhenti saat melihat pertengkaran.


"Ternyata Kau belum bisa ya muve on dariku, sampai-sampai selama tujuh tahun Kamu belum juga menikah maupun punya pacar." ejek mantan Tari.


"Oh Aku lupa Kau kan......


-


-


-


TBC

__ADS_1


__ADS_2