
Perempuan cantik yang masih belum terlalu pulih itu tampak begitu tenang. Tidak bergerak sedikit pun dengan menatap tajam penuh dengan kebencian ke arah Garry. Sedangkan emosi dari Naura yang masih terkontrol demi keberhasilan rencananya untuk lari dari istana Gary, si musuh abadi keluarga Alvarendra dan Pratama.
"Kau ingin memeriksanya? Bagaimana jika kita pemanasan dulu?" ucap Naura dengan menantang.
"Pemanasan dulu." ucap Garry sambil terkekeh. "Tak aku sangka pacar Julian begitu murahan seperti ini." lanjutnya sambil bertepuk tangan senang.
"Bukankah itu yang kau inginkan? Sebelum kau mencabut nyawa kami, kau ingin menghancurkan nyawa kami terlebih dahulu. Aku benar, kan?" tebakan Naura tepat dengan sasaran.
"Kau ingin kita pemanasan dimana?" tanya Gary yang sudah terpancing nafsunya sudah tidak sabar dan ingin terpuaskan dengan segera.
"Tentunya di tempat yang istimewa dari kamar ini. Karena kamar ini kumuh dan pengap! Dan pemanasan yang ingin aku lakukan agak sedikit menantang dari biasanya." ucap Naura sedikit di bumbui dengan nada sensual dan di sempurnakan dengan kedipan sebelah mata untuk memancing serigala bodoh yang sedang kelaparan itu.
***
Dan kini sebuah mobil Range Rover Velar berhenti tepat di depan teras rumah sakit swasta milik Saga. Pintu mobil yang terbuka dengan kasar langsung menampakkan sepasang kaki dengan alas sepatu kets yang berwarna putih. Dan dengan langkah yang berlari menunjukkan begitu tak sabar pemiliknya untuk segera sampai pada tempat tujuan.
Dan kini langkah kaki itu sudah tepat berhenti pada tujuan dengan daun pintu yang masih tertutup dengan rapat. Dan para lelaki yang berseragam hitam itu langsung menyingkir memberikan izin pada Julian yang baru saja tiba di rumah sakit swasta milik adiknya itu.
Brak.
"Maaf, karena aku baru sampai!" Ucap Julian dengan napas yang tersengal saat masih di ambang pintu mencuri pandangan dari orang - orang yang ada di ruangan tersebut.
"Masuklah, kebetulan kami juga sedang membicarakan mereka." ucap Anton yang mempersilahkan putranya untuk masuk kedalam ruangan Saga.
"Bagaimana dengan keadaan Marsha?" tanya Julian penuh dengan perhatian.
"Marsha sudah baikan. Dan Bundaku sedang menemaninya." Alvaro langsung menyambar dengan cepat.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan Berlin dan Alexa? Bagaimana dengan mereka? Apakah mereka sudah ada perkembangan?" tanya Julian yang begitu panik dan cemas langsung menyerbu berbagai pertanyaan kepada Alvaro.
"Apakah yang kamu maksud Alexa itu Naura? Lalu, apakah kau sudah memecahkan isi kepala calon Kakak ipar tirimu itu?" tanya Alvaro ingin tahu.
"Iya, itu panggilan khususku untuknya. Dan untuk calon Kakak Ipar tiriku sudah aku pecahkan wajahnya! Karena, jika aku langsung memecahkan kepalanya, hanya akan meringankan Kakak ipar tiriku untuk menuju ke neraka. Untuk itu, dia juga harus merasakan kepedihan dan kesakitan saat masih berada di dunia." jawab Julian. Ya, emosi di dalam diri Julian mulai kembali menguasai akan amukan rasa amarahnya pada Evan. " Sekarang aku ingin tanya? Bagaimana dengan ibu tiri Naura?"
"Kau tenang saja. Kalau soal ibu tiri dari Naura. Aku sudah memberikan hukuman untuknya dengan memberikan penyiksaan yang berat karena dia sudah sangat berani menyentuh keluargaku. Kini dia sedang aku kurung ditempat biasa. Di tempat ruangan yang gelap dan berdebu adalah hal yang paling di takutinya kan? Aku akan mengurungnya hingga kematian datang jemputnya." ucap Alvaro yang begitu lancarnya memberitahukan siksaan yang sedang ada di hadapi ibu tiri Naura tanpa berkompromi dengan siapapun.
"Sekarang, kita pecahkan masalah Naura dan Berlin lebih dulu" Elvano mengambil alih. Mencoba menghentikan amarah dari putra dan sepupunya yang memilki sisi kejamnya.
"Kalian tahu kan, jika Berlin tak memberikan sinyal peringatan apapun dari jam tangan miliknya. Namun dari sinyal GPS di jam tangan milik Berlin menunjukkan jika mereka masih berada di dalam rumah Garry." Elvano memberitahukan hasil penelusurannya pada jam tangan canggih yang di kenakan oleh Berlin.
"Apa kau benar - benar yakin, Kak El?" tanya Bara yang ikut - ikutan dalam rapat rahasia di ruangan milik Saga.
"Aku sangat tahu betul tingkah dari putriku. Berlin tidak akan pernah meminta bantuan jika dia memang belum membutuhkan itu. Dan itu juga sudah membuktikan jika cecunguk kutu busuk itu, belum melakukan apapun pada mereka." dengan geram kemarahan, Elvano memberitahukan sikap putrinya yang sangat di pahami olehnya luar dan dalam.
"Berlin itu putriku!" Sahut Elvano kesal dengan kedua mata yang menatap tajam pada Anton yang sedang duduk di hadapan.
"Meski Berlin adalah keponakanku, dia juga sudah aku anggap sebagai putriku!" Balas Anton yang tidak mau kalah.
"Tapi aku ini Papahnya!" Seru Elvano.
"Aku juga Pamannya yang bisa juga merangkap sebagai Ayahnya!" Seru Anton yang tidak mau kalah.
"Aku lebih tahu luar dalam tentang putriku!"
"Dan Berlin kecil juga sangat manja kepadaku! Kau kira, aku tidak tahu tentang karakter dari keponakan cantikku itu!"
__ADS_1
"Bisakah kita lebih serius sedikit?" ucap Bara yang menjadi penengah bagi kedua lelaki tua yang saling mengakui status Berlin.
"Hei Bara! Kau kira, sejak tadi kami itu tidak serius!" Seru Elvano dan Anton bersamaan.
Bara berakhir terkena semprotan kemarahan dari Elvano dan juga Anton yang membantah secara bersamaan. Ya, kedua lelaki yang memiliki ego tinggi tidak terkalahkan itu merasa tidak terima dengan nasihat bijak yang di berikan oleh Bara untuk menghentikan perdebatan diantara keduanya.
Sedangkan Alvaro kini sedang adu tatap dengan para sepupunya dan juga Paman mudanya, Bara. Isyarat pewaris tahta kerajaan Alvarendra itu seolah memberitahu untuk tidak memancing kemarahan kedua lelaki yang sudah memiliki ilmu yang lebih banyak dari mereka.
"Kalau begitu, aku akan standby di sekitar rumah Garry dengan beberapa pengamanan. Sehingga, jika Berlin mengirimkan sinyal pertolongan, aku akan bisa langsung bertindak." Julian kembali mengambil alih topik pembicaraan dan mengutarakan niatnya.
"Aku setuju. Tapi kau jangan mengenakan mobil yang biasa. Karena si Kutu busuk itu pasti akan tahu." Alvaro menasehati akan diri yang ikutan setuju dengan keputusan sepupunya, Julian.
***
Garry sudah mulai terpedaya, oleh pancingan kata - kata dari Naura. Dan Lelaki yang sudah berkabut nafsu itu, kini telah bersemangat menanti kehadiran Naura dan juga Berlin yang sedang mengganti pakaiannya di kamar penyekapan.
Kini kostum Catwoman sudah Naura kenakan. Sedangkan si bungsu Berlin, sudah berubah menjadi bidadari lengkap dengan sayap buatannya. Dan mini dress dengan tali yang tipis di kedua bahu menutupi sebagian tubuh Berlin hingga di ambang kedua paha.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....