Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Kontrak Pacaran


__ADS_3

"Aku hanya memikirkan perkataan Ibuku saat aku kecil dulu, Ibuku pernah bilang jika Aku mendapatkan atau menemukan sesuatu di jalan. Maka Kita harus mengembalikannya pada pemiliknya, dan jangan pernah berniat untuk mengambilnya karena itu sama saja dengan mencuri." Anin diam sebentar. "Dan sekarang Aku merasa seperti pencuri, menikmati sesuatu yang jelas-jelas bukan milikku kebahagiaan dan juga mas Kevin seharusnya milik Anna. Namun Aku begitu jahat karena merebut itu darinya." Anin menundukkan kepalanya, merasa bersalah dan juga menyesal menerima pernikahan yang telah di jalaninya selama dua bulan belakangan ini.


"Itu semua bukan salahmu, ini sudah menjadi takdir" jelas Dilan "Aku jadi teringat dengan masa laluku, Aku mempunyai seorang adik perempuan yang selalu menempel padaku, dan itu membuatku sangat risih. Aku sempat berharap sekali saja Dia tidak menempel padaku, dan Tuhan mengabulkan keinginanku dengan sangat cepat, adikku menghilang di usianya 3 tahun. Aku selalu mencarinya kemana-mana keliling ke luar negeri hanya untuk mencarinya, namun tetap saja aku tidak menemukan petunjuk. Aku masih ingat dengan jelas wajah bulat nya dan juga mata bulatnya dia begitu menggemaskan. Ah ya ampun kenapa Aku jadi curhat padamu" ucap Dilan cengengesan.


"Tidak apa-apa, Aku malah senang mendengarmu bercerita." ucap Anin memeluk tubuhnya karena udara dingin semakin menusuk tubuhnya.


Dilan menyadari itu segera memperbaiki jas yang menempel di tubuh Anin agar membungkus tubuh mungil tersebut.


"Percayalah Allah tidak akan memberi Kita ujian diluar batas kemampuan Kita, semua masalah pasti ada jalan keluarnya, hanya saja Kita harus bersabar dan terus berusaha menunggu waktu itu tiba." ucap Dilan setelah lama terdiam.


"Kamu benar" Anin mengangukkan kepalanya membenarkan ucapan Dilan.


"Lihatlah barang yang Kamu curi sudah datang" ucap Dilan menunjuk seorang pria yang sedang berjalan ke arah mereka dengan tatapan tajamnya.


Anin mengalihkan pandangannya dan mendapati Kevin berdiri dihadapannya. "Ma...mas Kevin" ucap Anin gugup melihat tatapan tajam Kevin.


"Apa yang Kamu lakukan malam-malam begini berama pria ini?" tanya Kevin dingin, meraih jas yang masih setia menempel di tubuh Anin melepaskannya dan memberikannya pada Dilan.


"Istriku tidak membutuhkan jas mu" Kevin melepaskan jasnya dan memakaikannya di tubuh Anin, merangkul bahu Istrinya dan menyembunyikan kepalanya pada dada bidangnya agar Dilan tidak dapat melihat wajah Istrinya.


"Sampai jumpa" ucap Dilan senyum.


Anin ingin menoleh menatap Dilan namun lehernya tertahan dengan rangkulan Kevin yang semakin erat. "Tidak usah berbalik" ucap Kevin dingin.


Dalam perjalanan pulang Kevin mampir di sebuah restoran untuk makan malam.


"Kamu ke mana saja seharian ini?" tanya Kevin dingin dan penuh mengintimidasi.


"Ak.....Aku...."


"Kenapa Kamu tidak menjawab panggilanku?" tanya Kevin masih dalam mode ngambek.


"Aku tidak mendengarnya" jawab Anin.


"Aku tidak suka jika Kamu menghilang seperti ini, bagaimana jika terjadi apa-apa padamu ? Itu akan membuatku repot" ketus Kevin. "atau Kamu sengaja pergi hanya untuk menemui Dilan?" lanjut Kevin dengan tatapan mentelidik.


"lihat saja jika Kamu mengulanginya lagi" ucap Kevin menyuapkan makanan ke dalam mulutnya


Anin diam saja mendengarkan dan memperhatikan Kevin makan "Kenapa tidak makan?" tanya Kevin namun Anin masih diam.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda dan juga tidak marah" ucap Kevin senyum. "Makanlah Kamu dari tadi belum makan kasihan bayi Kita" Kevin mengambilkan beberapa makanan untuk Anin.


"Jika Kamu ingin kabur beritahu aku dulu" Kevin menyuapkan kembali makanan ke dalam mulutnya.


"Memangnya bisa begitu" Anin melongo mendengar perkataan Kevin.


"Kamu percaya itu" Kevin tergelak karena berhasil mengerjai Anin.


...****************...


Anin hari ini menyempatkan diri untuk menemui Tari atas permintaan Tari. Mereka berdua bertemu di kafe favoritnya.


"Apa Kamu sudah gila ? menandatangani perjanjian saat malam pertama mu" Tari kesal saat mendapatkan penjelasan Anin.


"Kamu kan tahu sendiri Kevin terpaksa menikahi ku, Kevin menikahiku hanya untuk bayi yang ada dalam kandunganku" jelas Anin.


"Apa Kevin masih berhubungan dengan pacarnya ?" tanya Tari menyelidik.


"Hmm.." Anin menganggukkan kepalanya.


"Dan Kamu diam saja ?" Tari semakin geram mendengar pengakuan temannya.


"Kenapa Kamu jadi semakin bodoh sih? walaupun Anna adalah pacar Kevin, tapi Kamu adalah istri sah Kevin Kamu lebih berhak terhadapnya." Tari berusaha mengingatkan temannya yang selalu saja berpikir positif.


"Aku takut Kevin akan semakin membenciku jika melakukan hal-hal yang tidak Ia sukai, apalagi jika harus mengurus kehidupan pribadinya."


"Jadi sekarang Apa rencanamu ?"


"Dalam satu tahun ini Aku akan bersikap layaknya seorang istri, setidaknya sampai anakku lahir, setelah itu Aku akan pergi dari kehidupan Kevin seperti yang tertulis dalam perjanjian tersebut."


"Apa Kamu tidak ada rencana merebut hati Suamimu ? Aku bisa membantumu" goda Tari menaik turunkan alisnya.


"Sekeras apapun Aku berusaha itu akan sia-sia saja, Aku dan Anna bagai langit dan bumi, dan tidak mungkin jika Kevin memilih bumi saat Ia bisa memiliki langit"


"Wah... wah... peribahasa mu bagus sekali Anin" puji Tari dengan senyuman yang dipaksakan, bagaimana tidak, Ia sangat kesal dengan sikap temannya. "Tapi Aku tidak menyangka Kamu sebodoh ini" lanjut Tari.


"Bukankah sudah dari dulu Aku ini bodoh?" Anin senyum.


"Tidak, dulu Kamu sedikit pintar tapi setelah bertemu dengan Kevin dan juga mengandung anaknya kepintaranmu yang sedikit itu hilang menguap entah kemana." Tari menyentil kening Anin. "Mungkin itu efek dari jatuh cinta" goda Tari yang berhasil membuat wajah Anin memerah.

__ADS_1


Anin mengerucutkan bibirnya. "Memang benarkan orang yang jatuh cinta itu akan terlihat bodoh?" goda Tari lagi.


"Sudahlah, Aku pergi dulu" Anin bangkit dari duduknya.


"Cie ngambek, jangan lupa mampir ke kasir ya Nyonya Kevin" kekeh Tari.


"Kamu tuh ya selalu saja memanfaatkan situasi" Anin memutar bola matanya jengah.


"Kapan lagi bisa morotin Nyonya Kevin." tawa Tari.


Anin berjalan menuju kasir dan membayar tagihannya.


...****************...


Dengan penuh senyuman Tari keluar kamar dan menghampiri Ans yang sedang bersantai menonton TV setelah makan malam.


Tari mengambil remote dan mematikan TV tersebut. "Aku yang akan membayar tagihan listriknya." ucap Ana datar mencoba merebut remote di tangan Tari.


Tari menyembunyikan remote tersebut di belakangnya. "Kenapa Kamu senyum-senyum gitu sangat menakutkan" ucap Ans.


Masih dengan senyumannya Tari mendaratkan tubuhnya di sofa samping sofa yang ditempati Ans, melemparkan amplop coklat kehadapan Ans.


"Apa ini ?" tanya Ans meraih amplop tersebut.


"Bacalah !" perintah Tari.


Dengan raut wajah penasaran Ans membuka amplop tersebut dan membacanya. "Apa ini kontrak pacaran ?" Ans mengerutkan keningnya.


"Apa ini ? semuanya hanya tentangmu dan juga jadwal kencan Kita, tentang ku hanya dua lembar." protes Ans setelah melihat keseluruhan isi kontrak. "Dan apa ini ? ukuran sepatu, ukuran baju, tas kesukaan dan banyak lagi yang lainnya." protes Ans.


"Tentu saja kamu..........


-


-


-


TBC

__ADS_1


__ADS_2