
Hugo yang merasa tersinggung dengan tindakan Anin segera angkat bicara " Ada apa Nona apa Anda baik-baik saja?" tanya Hugo dengan nada kesal karena tidak mengetahui identitas Anin sebagi Istri Kevin, Hugo segera menarik tangan Anin dan tidak sengaja tangan Anin memukul kepala tuan Hugo.
Semua orang berdiri tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang CEO Quen Grub yang mengelurkan produk perawatan rambut dan juga pengharum ruangan. Yang katanya pruduk nya bisa melebatkan dan mempertebal rambut, hanyalah kebohongan.
Di buktikan dari kenyataan yang telah semua orang lihat Tuan Hugo menipu mereka semua dengan memakai wig yang nyatanya berkepala botak.
Tuang Hugo merasa dirinya dipermalukan oleh seorang gadis kecil sangat geram dan juga marah "Apa yang kamu lakukan hah?" ucap Hugo membentak Anin dan melayangkan tangannya ke wajah Anin. Namun dengan cepat Kevin menepis tangan Tuan Hugo dan menyembunyikan Anin di belakannya.
"Apa yang Anda lakukan Tuan Kevin? gadis itu telah mempermalukan Saya di depan orang banyak, Saya ingin Dia meminta maaf dan menerima hukumannya" ucap Hugo marah.
"Tuan Hugo Saya tidak akan membiarkan Anda menyentuh, apa lagi memperlakukan orang saya dengan kasar, ingat itu" ucap Kevin tak kalah sinis nya.
"Pak Kevin biarkan Nona Anin meminta maaf pada Tuan Hugo agar semuanya berjalan lancar." ucap Elvan profesional.
"Apa yang dikatakan Elvan benar, Aku akan meminta maaf padanya," bisik Anin dan melangkahkan kakinya mendekati Hugo.
Kevin dengan segera mengenggam tangan Anin dan menariknya kembali kebelakang tubuhnya "Dia tidak bersalah, jadi buat apa Dia meminta maaf" ucap Kevin.
Hugo yang sudah sangat marah, tanpa pikir panjang segera membuka mulutnya "Jika Anda tidak bisa bersikap profesional sepeti ini, lebih baik kita batalkan saja kerjasama ini" ucap Hugo dengan nada sinis.
"Jika itu mau Anda, baiklah" ucap Kevin tak kalah sinisnya.
Kevin kembali melangkahkan kakinya menuju podium. "Sekali lagi mohon perhatiannya bapak ibu, saya membatalkan kerja sama kotrak ini, jadi mulai hari ini pabrik saya tutup" ucap Kevin dan menghampiri Anin. Mengengam tangan Anin dan melangkahkan kakinya meninggalkan gedung tersebut.
Anin mengembangkan senyumnya memandangi tangannya yang digengam erat oleh suaminya, lalu memandang wajah tampan suaminya.
Ada perasaan hangat menjalar Di hatinya karena Demi membela dirinya Ia rela membatalkan kerjasama dan juga menutup pabrik tersebut.
*****
Sepulangnya dari Bali, Kevin kembali bersibuk di kantornya, karena pembatalan kerja sama yang ia lakukan tambah membuat perusahaan dalam masalah.
"Bro, berhubung Istri kamu udah pulang kerumah, aku bisa dong pulang kerumah juga" ucap Ans santai.
__ADS_1
"Tidak, kamu tinggal saja disana, bagaimana jika Anin pergi lagi?" ucap Kevin.
"Jika aku tinggal lama-lama dengannya bisa-bisa aku gila, ini baru pertama kalinya bagiku bertemu dengan gadis bar-bar sepertinya, Aku tidak bisa hidup tenang satu rumah dengannya, Dia selalu saja bernyanyi mau itu saat mandi atau membersihkan rumah." keluh Ans
"Bukankah Kamu suka bernyanyi juga? jadi bagus dong Kamu ada temannya."
"Iya Aku memang suka bernyanyi, tapi kamu tidak tahu saja suaranya, bikin sakit telinga tau nggak."
"Sudahlah, Kamu harus tetap tinggal disana" ucap Kevin tak terbantahkan.
Ans hanya menghela nafas pasra, Ia juga tidak berani pulang ke apartemennya jika tidak ingin bosnya mengamuk.
Jam makan siang sudah berakhir, saatnya Ans bersikap profesional, Ans sedang menjelaskan agenda Kevin hari ini dan juga permasalah-permasalah diperusahaan akibat pembatal kotrak tersebut.
"Tuan lima belas menit lagi kita ada rapat dengan dewan direksi pemegang saham yang perpihak pada kita."
Kevin memasuki ruang rapat seperti biasa terlihat angkuh dan arogan. Didalam ruang tapat hanya dihari tiga orang saja diantaranya Elvan dan dua pemegang saham yang masih berpihak padanya.
"Tuan Kevin setelah Anda membatalkan kerja sama dengan Quen Grub dan membuat perusahaan dalam masalah, apa rencana Anda selanjutnya?" tanya salah satu dewan direksi.
"Saya tidak akan meminta maaf pada Tuan Hugo" ucap Kevin dingin.
"Lalu apa rencana Anda pak, jika Anda terus bersikap angkuh seperti ini, bisa-bisa perusahaan akan kena dampaknya." ucap Dewan Direksi satunya lagi.
"Tuan sepertinya Anda tidak bisa lagi mempimpin perusahan jika sikap anda seperti ini terus." ucap Dewan direksi lagi.
"Baiklah pak, jika begitu hanya ada dua pilihan yang harus Anda pilih" Elvan memberikan sebuah berkas kepada Kevin.
"Memecat semua karyawan yang bekerja di pabrik dan melakukan otomatisasi, atau meminta maaf pada tuan Hugo." ucap Elvan.
Kevin senyum sinis melihat tingkah adik sepupunya "Apa begini caramu memperlakukan orang-orang yang telah mempercayaimu dan memperlakukanmu dengan baik ?" tanya Kevin dengan tatapan tajamnya.
"Saya tidak akan pernah memecat karyawan dipabrik, lebih baik saya menutup pabrik tersebut, karena Direktur Utama pernah berjanji pada mereka. Direktur tidak akan memecat karyawan di pabrik satu orang pun!"
__ADS_1
"Bagaiman jika pak Elvan saja yang turun tangan untuk memecat para karyawan di pabrik" ucap Kevin dengan menyeringai licik.
Elvan menelan salivanya dengan susah, bagaimana ia bisa melakukan itu, padahal dimata orang-orang di pabrik Elvan adalah pria yang baik tidak seperti Kevin.
"Pak Kevin Anda benar-benar sudah hilang akal, mungkin lebih baik jika Pak Elvan yang menjadi pemimpin perusahaan" ucap Dewan direksi yang kecewa dengan keputusan Kevin.
Kevin melirik ponselnya "Kita akhiri rapat sampai disini saja" ucap Kevin dan berlalu pergi
Ia segera menuju rumah sakit karena hari ini jadwal pemeriksaan Anin.
"Aku pasti sudah gila, karena rela meninggalkan masalah diperusahaan hanya untuk menemani Anin untuk memeriksakan kandungannya." batin Kevin.
Bahkan Kevin juga tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri.
"Kevin kenapa kamu ada disini?" tanya Anin yang melihat Kevin di lobi.
"Oh Aku kesini karena ingin menemui Dokter Rangga" Kilah Kevin yang tidak ingin anin mengetahui niat sebenarnya Ia kerumah sakit.
"Oh sudah kuduga" ucap Anin mengangguk- anggukan kepalanya.
"Anin" panggil Rara yang baru saja sampai "Wah ternyata Kevin pria yang baik, bahkan Dia rela meningalkan pekerjaannya demi menemani Istrinya cek kandungan" ucap Rara senyum.
Rara datang ke ibu kota untuk menengkan hatinya yang sedang tidak enak, sehabis bertengkar dengan suaminya, karena permasalahan di pabrik, Jefri menyalahkan Anin penyebab kekacauan ini dan Rara tidak setuju jika adiknya dikatakan seperti itu.
"Kevin, Aku ingin berbelanja dengan Anin, apa Kamu mau menemani Kami?" tanya Rara.
"Tidak, Dia sedang sibuk, banyak pekerjaan yang harus Ia selesaikan" ucap Anin karena Ia tahu pasti Kevin tidak akan nyaman jika ikut berbelanja.
"Kebetulan............
-
-
__ADS_1
-
TBC