Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Club


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang baik Anin maupun Kevin tidak ada yang membuka suara dan larut dengan pikiran masing-masing.


Lima belas menit telah berlalu akhirnya mereka sampai di gedung apartemen, Kevin memarkirkan mobilnya dengan aman dan turun mengelilingin mobil untuk membukakan pintu untuk istrinya. Kevin yang masih di liputi rasa cemburu dan juga marah, menarik tangan Anin keluar dari mobil dengan kasar dan menyeratnya masuk kedalam lift.


"Lepaskan aku! aku bisa jalan sendiri kau tidak perlu menyeretku seperti ini!" bentak Anin yang tidak kuat lagi menahan perlakuan kasar Kevin padanya, bahkan air mata Anin tidak mengalir lagi, dan hanya tatapan penuh amarah yang itu tujukan pada Kevin.


Anin terus meronta meminta di lepaskan namun Kevin seakan tuli, tidak mendengarkan teriakan Anin sama sekali, hingga mereka sampai di depan apartemen Kevin masih mencengkram tangan Anin dengan kuat dan itu membuat Anin meringis kesakitan.


"Kevin kau menyakitiku, lepaskan Aku!" bentak Anin.


Kevin tak mendegarkan Anin, dan malah menghempaskan tubuh Anin ke sofa "Kenapa kau begitu marah hah! apa kau sangat mencintainya sampai-sampai kau semarah ini karena Aku memukulnya!" bentak Kevin menghancurkan apa yang ada di hadapannya. namun itu tak membuat Anin takut, dan malah membuat Anin semakin emosi karena di tuduh macam-macam tanpa Kevin meminta penjelasannya


"Cukup Kevin!" tariak Anin bangkit dari duduknya.


"Semarah apapun kamu, kamu tidak boleh membentakku!" ucap Kevin dengan muka memerah karena Anin membentaknya, dan Kevin tidak suka itu.


"Kenapa? apa ada yang salah?" Anin senyum sinis dan menurunkan nada suaranya.


"Ya kau salah karena membentak suamimu!" teriak Kevin.


"Hah, suami kau bilang? suami macam apa yang tega membentak, menghina, dan bahkan menyakiti istrinya tanpa meminta penjelasan terlebih duhulu, apa itu pantas di anggap suami!" teriak Anin.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan, semuanya sudah jelas, kau terbiasan hidup bebas di luar negeri dan itu membuatmu tidak cukup hanya dengan satu pria saja." Kevin menatap Anin dengan tatapan jijik.


Plak


Anin menampar Kevin dengan begitu keras hingga meninggalkan bekas di wajah tampan Kevin.


"Tarik ucapan mu itu, sebelum kau menyesali semuanya." teriak Anin. Benteng pertahan Anin roboh, Ia tidak bisa lagi membendung air matanya agar tidak mengalir di hadapan Kevin. Hati Anin begitu sakit mendegar penghinaan Kevin yang kedua kalinya.


Anin menyambar tasnya dan melangkahkan kakinya Ke pintu apartemen. "Kau mau kemana lagi!" Kevin mencengkram kuat tangan Anin.


"Seperti perkataanmu tadi, aku tidak puas dengan satu laki-laki saja, jadi aku akan mencari laki-laki yang bisa memuaskan ku di luar sana" ucap Anin dan membanting pintu dengan kasar.

__ADS_1


"Sial" Kevin menendang pintu apartemen.


Kevin menguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menjernihkan pikirannya. Setelah mandi Kevin memakai pakaian lengkap ala rumahan, kaos oblong dan cela pendek, Kevin merebahkan tubunya di atas kasur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tari yang sedang bersantai di sofa sambil nonton drama korea, di kagetkan dengan suara bel yang tidak sabaran. Tari mendegus kesal membuka pintu rumah dan tertegung melihat siapa yang datang.


"Anin kau kenapa?" tanya Tari khawatir saat melihat penampilan sahabatnya acak-acakan dengan mata sembab.


"Apa aku boleh tidur di sini? Aku sangat lelah dan mengantuk" Anin tidak menjawab pertanyaan sahabatnya karena Ia sangat lelah dan juga mengantuk padahal hari masih sore.


"Tentu saja, masuklah gunakan kamarku sesukamu" Tari mempersilahkan sahabatnya masuk, dan tidak banyak bertanya karena percuma mengajak Anin bicara dalam keadaan berantakan yang ada semua yang dikatakanya selalu salah.


Tari mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya pada Ans.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ans yang baru saja selesai bekerja memeriksa ponselnya dan melihat notif dari calon istrinya.


"Ngapain Anin bermalam di kontrakan Tari? apa mereka bertengkar? karena tidak mungkin jika Kevin membiarkan Anin begitu saja bermalam di tempat Tari." gumam Ans.


Ans merasakan ke janggalan dengan adanya Anin di rumah calon istrinya. Karena tidak ingin mengada-ada, Ans segera menghubungi sahabatnya Kevin.


"Kenapa kau menghubungiku? jika itu untuk bercanda aku sedang tidak mood." ucap Kevin di seberang telfon.


"Sepertinya mereka sedang bertengkar" batin Ans.


"Anin ada di tempat Tari, apa kalian sedang betengkar?" tanya Ans.


"Oh syukurlah jika dia ada di sana, setidaknya dia tidak membuktikan perkataannya." ucap Kevin dingin, walau dalam hatinya Ia merasa lega karena istrinya baik-baik saja.


"Bisa kau menjelaskan akar permasalahannya padaku? mungkin Aku bisa sedikit membantu?" tawar Ans yang tidak ingin pertengkaran mereka berlarut-larut karena itu akan mempengaruhi pernikahannya.

__ADS_1


"Huh, ini semua salahku, seharusnya aku bisa mengendalikan diriku saat itu. Tapi saat itu aku sungguh hilang kendali saat melihat Anin dan Dilan berpelukan di parkiran kafe." jelas Kevin. Ya setelah cukup tenang Kevin menyesali perbuatannya bahkan kata-katanya pada Anin, dan Kevin tahu Anin tidak akan memaafkannya dengan mudah.


"Apa Anin tidak menjelaskan apapun padamu?" tanya Ans.


"Itulah kesalahanku karena tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan dan langsung marah-marah bahkan aku sampai menjatuhkan harga dirinya, Aku tidak tahu apa dia bisa memaafkanku." jawab Kevin terdengar sendu.


"Datanglah ke Fable Club, kita bertemu disana!" pinta Ans dan memutuskan sambungan telfonnya tanpa menunggu jawaban Kevin.


"Sialan mentang-mentang dia tidak bekerja padaku lagi, dia sudah berani memutuskan telponnya sebelum menunggu jawabanku" Kevin melempar ponselnya keatas ranjang dan bersiap-siap untuk menemui Ans di Fable Club.


Tiga puluh menit telah berlalu akhirnya Kevin lebih dulu sampai di banding Ans. Seseorang pria berpenampialan rapi mengahmpirinya pria itu tak lain adalah manajer Club. "Silahkan Tuan, Tuan Ans sudah memesan meja di ujung sana" manajer itu menunjuk meja kosong di sudut ruangan yang sedikit privasi dari meja lainnya. Ya manajer itu mengetahui Ans dan Kevin karena memang Ia sering kesini hanya untuk menghabiskan waktu, tapi itu tiga tahu yang lalu, namun hanya sekedar minum tidak lebih.


Selang beberapa menit Kevin menunggu Ans namun yang di tunggu tak kunjung datang. "Sial apa dia sedang mengerjaiku? bahkan ponselnya tidak aktif." gumam Kevin.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Pria yang baru saja datang dan ikut bergabung dengan Kevin di meja yang di pesan Ans.


"Aku yang harusnya bertanya kenapa kau ada disini?" tanya Kevin dengan tatapan tajamnya.


"Kebetulan kita bertemu disini tuan Kevin yang terhormat!" ucap Pria itu penuh tekanan dan melangkah mendekati Kevin, menarik kerah kemeja Kevin.


Bukh


-


-


-


-


-


TBC

__ADS_1


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up


__ADS_2