
Setelah lama menunggu, akhirnya, Dokter Sonya keluar dari ruangan itu dengan menggendong seorang bayi.
Raka, Rea dan Santi beranjak dari duduknya lalu menghampiri, Dokter Sonya secara bersamaan.
"Dokter ... ini?"
Rea mengarahkan tangannya kepada bayi mungil itu.
Dokter Sonya tersenyum bahagia. "Selamat ya, Raka, Rea anak kalian laki-laki," ucap Dokter Sonya sembari menyerahkan bayi itu kepada Raka.
Sedetik kemudian seorang suster datang dan memberikan satu bayi lagi kepada, Dokter Sonya!
"Dan ini ada bonus satu lagi. Dia perempuan," ucap, Dokter Sonya sembari memberikan bayi perempuan itu kepada, Rea!
Rea menerima bayi itu dengan air matanya yang masih mengalir.
"Dokter, Amanda? Bagaimana dengan, Amanda?" tanya Rea.
"Syukurlah dia selamat. Sebentar lagi kami akan memindahkannya ke ruang rawat," jelas Dokter Sonya.
Rea dan Raka menghela nafasnya, mereka merasa lega karena semuanya selamat.
"Terimakasih, ya Allah. Akhirnya semua bisa terselamatkan," ucap Santi.
"Ini, aku sedang tidak bermimpi kan? Kak, aku menggendong bayi, aku tidak mimpi kan?" ucap Rea.
"Tidak, sayang. Kamu tidak sedang bermimpi, ini nyata," sahut Raka.
Tika berlari menghampiri Rea dan keluarga besannya!
"Sayang, bayinya sudah lahir?" ucap Tika yang baru tiba di rumah sakit itu.
"Ini dia bayinya, Ma. Cantik dan ganteng," ucap Rea.
Rea masih saja meneteskan air matanya meski Amanda dan bayinya sudah selamat.
"Syukurlah kalau begitu, bagaimana dengan, Amanda?"
"Dia baru akan dipindahkan ke ruang rawat, Ma kita baru bisa menemui dia nanti kalau udah dipindahkan ke ruang rawat inap," jelas Raka.
Dua orang suster datang dan mengambil bayi mereka, karena bayi itu akan di tempatkan di ruangan khusus untuk bayi yang baru lahir!
"Sayang, kenapa kamu masih menangis? Amanda sudah melahirkan dengan selamat kan," ucap Tika.
__ADS_1
"Aku menangis karena aku bahagia, setelah penantian yang sangat lama akhirnya kalian bisa punya cucu dan kak Raka juga bisa memiliki anak lewat Amanda."
Raka menatap, Rea. Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rea tapi dirinya tidak tahu apa yang disembunyikan oleh istrinya itu.
"Kalian sudah bisa menemui, Amanda," ucap Dokter Sonya.
"Dimana ruangannya, Dok?" tanya Rea.
"Di nomor satu kosong lima. Kalian tinggal berjalan lurus dari sini lalu belok kanan."
"Baik, terimakasih ya, Soy," ucap Raka.
Mereka semua pun mulai berjalan mengikuti arahan dari Dokter Sonya!
Raka berjalan lebih dahulu dibandingkan dengan yang lainnya, Santi dan Tika mengekor dibelakang Raka sedangkan Rea, berjalan paling belakangan. Saat yang lain sudah setengah perjalanan, dirinya menghentikan langkahnya.
Rea terdiam sesaat, diusapnya air matanya agar tak membasahi pipinya. Dirinya berusaha untuk tidak menangis meski air matanya memaksa terus keluar dari pelupuknya.
"Apa pun yang terjadi, aku harus bisa. Rea kamu sendiri yang memulai ini semua dan sekarang kamu harus siap menerima segala kemungkinan terburuk," gumam Rea.
Rea kembali melanjutkan langkahnya untuk menemui Amanda di ruangan rawat inap!
...****************...
"Bu Amanda melahirkan, jadi sekarang, Pak Raka sedang berada di rumah sakit," sahut Jhon.
"Melahirkan? Tapi ...." Arya menggantung ucapannya.
"Tapi apa? Orang sedang hamil ya pasti melahirkan lah."
"Iya, aku tahu," ucap Arya lalu melihat jam ditangannya.
"Udah waktunya pulang nih. Aku duluan ya, Jhon," sambung Arya.
"Aku juga mau pula, Mai sudah menungguku di rumah."
"Kamu enak ditungguin istri, lah aku mau cepat-cepat pulang bukan mau ketemu istri."
"Makanya nikah, Ar. Biar gak jadi jomblo akut," ledek Jhon dengan senyuman nakal yang terukir di bibirnya.
Jhon segera pergi sebelum Arya marah padanya.
"Hey!" Arya menatap kepergian Jhon.
__ADS_1
"Dasar anak itu. Lihat saja kalau aku kenalin pacar aku kamu pasti menyesal sudah mengatai aku seperti itu," gumam Arya.
Arya segera berjalan menyusul Jhon ke area parkiran! Dirinya hendak pulang karena malam nanti dirinya ada acara pribadi.
...****************...
"Amanda, kenapa kamu tidak jujur padaku tentang kesehatan kamu? Kamu tahu, aku sangat mengkhawatirkan kamu," ucap Raka.
Raka tak perduli dengan semua orang yang berada di ruangan itu, dia langsung mengucapkan apa yang ada didalam isi hatinya.
"Mas, aku tidak mau membuat kamu kecewa," sahut Amanda.
"Tapi yang kamu lakukan ini sangat berbahaya. Bagaimana jika kamu tidak selamat, bagaimana jika bayinya juga tidak bisa selamat?"
"Sekarang aku dan bayiku sudah selamat. Kamu tidak usah khawatir lagi, Mas aku tahu Dokter Sonya akan melakukan yang terbaik untuk pasiennya."
Semua orang hanya terdiam mendengarkan pembicaraan antara Raka dan Amanda. Tika menatap Rea yang kala itu masih berdiri di ambang pintu.
Tika tahu apa yang sedang dirasakan oleh putranya itu. Meskipun dirinya tidak mengalami tapi sebagai sesama wanita, dirinya ikut merasakan sesak yang Rea rasakan.
"Sayang, kamu terlihat sangat lelah. Pulanglah dan beristirahatlah biar kami yang di sini," ucap Tika.
Tika tak ingin Rea semakin sakit dengan melihat perhatian Raka kepada Amanda biar bagaimana pun juga Rea hanyalah wanita biasa yang pasti merasakan sakit saat melihat suaminya lebih perhatian kepada wanita lain.
"Tidak, Ma aku masih mau di sini," sahut Rea.
Rea berjalan menghampiri Amanda yang terbaring di atas ranjang rumah sakit!
"Amanda, kamu baik-baik saja?" tanya Rea.
"Mbak, aku baik-baik saja. Mbak pasti lelah yang dikatakan oleh, Mama Tika benar. Lebih baik, Mbak pulang saja," ucap Amanda.
"Aku masih mau di sini, menemani kamu."
Amanda menatap Raka yang saat itu berdiri di samping Rea.
"Mas, bawa Mbak Rea pulang. Dia sangat lelah, Mbak Rea perlu istirahat jangan sampai dia sakit karena kalau dia sakit, nanti siapa yang akan merawat bayi aku," ucap Amanda kepada Raka.
"Iya, Raka. Kalian berdua pulang saja, biar Mama sama Mama Tika yang di sini buat jagain Amanda," ucap Santi.
Raka menatap Rea, dia melihat ada kesedihan diwajah sang istri, Akhirnya dirinya mengajak Rea pulang menuruti permintaan Amanda.
Bersambung
__ADS_1