Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Panggeranku


__ADS_3

"Cepatlah pergi belikan Aku makan !" perintah Kevin.


"Tapi ini masih sore Tuan" protes Ans.


"Apa salah makan di luar jam waktu makan hah?" bentak Kevin.


"Baiklah Tuan." lagi-lagi Ans tergelak karena berhasil membuat Kevin kesal.


*


*


*


*


*


"Aku benar-benar makan dengan puas malam ini kak"


"Memangnya malam-malam sebelumnya tidak ?" Anin mengerutkan keningnya.


"Tidak, makan malam dengan Oma dan kak Kevin benar-benar membuatku canggung" jelas Elvan yang kini duduk di meja makan memperhatikan kakak iparnya cuci piring.


"Lah kenapa ?" Anin heran dengan jawaban Elvan.


" Kak Anin kan Tahu sendiri kak Kevin itu menakutkan jika tidak tersenyum. walau belakangan ini sudah tak sedingin dulu." jelas Elvan.


"Kak Anin mau kemana ?" tanya Elvan saat melihat Anin memasukkan makanan ke dalam kotak makan.


"Aku akan membawakan kakakmu makan malam, Dia kan lembur malam ini" jawab Anin yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Di mana Bibi?" lanjut Anin.


"Ah Ibu ke kamar setelah makan." jawab Elvan. "Apa perlu Aku antar kakak" tawar Elvan bangkit dari duduknya.


"Tidak usah Aku bisa sendiri" tolak Anin.


Dua puluh menit telah berlalu, Anin akhirnya sampai di perusahaan Kevin. Anin melangkahkan kakinya nya melewati lobi yang kebetulan sudah sunyi karena jam sudah menunjukkan pukul 18 30, Anin memasuki lift khusus menuju lantai 5 dimana ruangan sang pemilik gedung besar tersebut.


Anin menata makanan semenarik mungkin di atas meja sembari menunggu sang empunya ruangan yang pergi entah kemana. Anin mengembangkan senyumnya saat melihat kedatangan sang empunya ruangan.


"Kenapa Kamu ada disini?" Kevin melangkahkan kakinya mendekati Anin.


"Aku menyiapkan makan malam untuk mas Kevin, makanlah dulu !" Anin mempersilakan Kevin duduk.


Kevin senyum canggung dan mendaratkan tubuhnya di sofa, mengambil makanan yang telah disiapkan Istrinya walaupun Ia sudah sangat kenyang, karena baru kembali setelah makan dengan Ans.


"Kamu sudah makan?" Kevin terus mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Sudah Mas" jawab Anin.


"Kamu kesini sama siapa?"


"Sendiri Mas naik taksi, kenapa?"

__ADS_1


"Nanti pulangnya nya diantar Ans, Aku tidak bisa mengantarmu pulang soalnya ada rapat sampai tengah malam."


"Iya Aku tahu, Aku bisa pulang sendiri, kasihan Ans jika harus mengantarku pulang, terus balik lagi ke sini" jelas Anin.


"Baiklah hati-hati di jalan oke"


Setelah Kevin selesai makan, Anin pulang kerumah menggunakan taksi, sementara Kevin masih duduk termenung di kursi kebesarannya.


"Apa ini ? kenapa Aku begitu perhatian padanya? bahkan Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya." Kevin mengusap wajah nya dengan kasar, benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranya.


"Ah iya Aku lupa, Anin adalah keluargaku saat ini Jadi wajar jika Aku perhatian padanya, tidak lebih" batin Kevin bermonolog.


Rapat pun dimulai tanpa ada perasaan takut atau was-was bagi para karyawan, karena atasannya memimpin rapat dengan senyuman yang hampir tidak pernah di lihat sebelumnya. Bahkan Ans merasa aneh melihatnya.


*


*


*


*


*


Ans melangkahkan kakinya memasuki rumah yang telah dihuni nya selama beberapa bulan belakangan ini, tubuhnya sangat lelah, matanya sudah tidak bisa diajak kompromi yang terus ingin terpejam.


Ans berpapasan dengan Tari saat membuka pintu, karena tidak ingin berdebat Ans menyingkir dari pintu mempersilahkan Tari lewat.


"Tari...." panggil Ans.


"Ini ponselmu" Ans menyerahkan ponsel Tari yang ditemukannya di atas meja, mengernyitkan keningnya hingga alisnya saling bertautan saat melihat isi ponsel Tari.


Namun karena tidak ingin berdebat, Ans tidak bertanya dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.


*


*


*


*


"Bibi di mana Anin ?" tanya Kevin saat tidak mendapati istrinya di dalam kamar dan juga di tempat lain di dalam rumah besar tersebut.


"Apa Dia tidak memberitahumu?" bibi Ajeng fokus pada apa yang Ia kerjakan tanpa menoleh ke arah Kevin.


"Memberitahu apa ?" Kevin mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti dengan pertanyaan bibinya.


"Anin baru saja pergi dua puluh menit yang lalu" kini bibi Ajeng menatap keponakannya dan tersenyum melihat ekspresi bingung Kevin. "Anin ke Bali untuk menjenguk anak sepupunya, sekalian menemui ibu mertuamu.


"Oh..." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Kevin.


Karena tidak ada kegiatan di rumah, Kevin memutuskan pergi ke kantor setelah istirahat dengan cukup, sengaja tidak mengabari Ans, membiarkan sekretarisnya istirahat hingga siang nanti.


Ya Kevin menjadi lebih baik setelah mengenal Anin itu yang dirasakan orang-orang terdekatnya, sifat angkuh dan dinginnya hampir tak terlihat lagi, namun itu masih mampu membuatnya terlihat berwibawa.

__ADS_1


*


*


*


*


Anin berencana tinggal lebih lama di Bali, makanya Ia membawa keperluannya satu tas travelling.


Anin mengembangkan senyumnya saat memasuki Resort yang terdapat di pinggir pantai milik kakak sepupunya Rara.


Anin berlari ke halaman belakang "Kak Rara"


"Kenapa Kamu ada di sini?" Rara memeluk Anin dengan pelukan yang begitu erat karena sangat merindukannya.


"Tentu saja untuk menemui pangeranku" Anin melepaskan pelukannya dan bersujud di depan kereta baby, menikmati pemandangan yang sangat indah baginya. Tubuh mungil dengan pipi gembul nya itu sangat menggemaskan.


"Jack minum ASI atau susu formula?" tanya Anin sembari menggendong baby Jack.


"Dia minum susu formula, kenapa?"


"Kalau begitu nikmatilah kebebasanmu, hari ini Aku yang akan menjaga Jack seharian."


"Benarkah?" Rara begitu bahagia mendengar perkataan adik sepupunya bagaimana tidak, selama Ia melahirkan tak sedikitpun Ia bisa keluar Resort.


Anin hanya mengembangkan senyumnya melihat tingkah kakak sepupunya yang berlari masuk kedalam rumah. Anin sengaja menjenguk Jack dan juga ingin tinggal lama di Bali untuk membantu kakaknya.


*


*


*


*


Karena hari ini Anin tidak menyiapkan makan siang untuk Kevin, Kevin makan siang di luar dengan sekretarisnya. Kevin makan tanpa mengeluarkan suara berbeda dengan Ans yang mulutnya seperti ibu-ibu penggosip.


"Tuan tadi pagi Aku melihat ponsel Tari" Ans memulai pembicaraan setelah selesai makan.


"Terus?" Kevin masih fokus pada ponselnya.


"Jangan dipotong dulu !" Ans kesal pada Kevin karena memotong pembicaraannya. "Sepertinya Tari mulai tertarik dengan kehidupan Dilan, tadi Aku melihat Dia mencari tentang Dilan, dan......."


"Terus apa urusannya dengan ku?" tanya Kevin Ketus masih menatap ponselnya berharap akan ada pesan masuk dari seseorang. Setidaknya untuk pamit dan memberi tahukan keberadaannya, namun nihil tidak ada satu pesan pun dari wanita yang ditunggunya.


"Wah....wah... Anda benar-benar membuatku kesal, bisa tidak dengarkan saya bicara dulu!" ucap Ana kesal.


"Sekarang Kamu sudah berani padaku hah?" Kevin menatap tajam Ans.


"Bu...bukan itu Saya hanya ingin membicarakan tentang nona Anin" ucap Ans yang berhasil membuat Kevin meletakkan ponselnya di atas meja dan bersiap mendengarkannya.


"Wah Saya tidak menyangka secepat itu Anda jatuh cinta pada Nona Anin" goda Ans, membuat Kevin begitu geram.


"Baiklah" Ans berdehem untuk membasahi tenggorokannya. "karena Tari sudah mengetahui kontrak pernikahan Tuan dengan Nona Anin, Tari mulai mencari informasi tentang Dilan. Untuk berjaga-jaga suatu saat nanti ketika Anda meninggalkan Nona Anin" gkel, Ans menyesal memberitahukan berita itu pada Kevin, lihatlah kini ekspresi Tuannya sangat menakutkan.

__ADS_1


"Tu....Tuan.........


__ADS_2