
Julian membanting tubuhnya di atas sofa.Punggung yang lelah di sandarkan pada penyandar sofa dengan menidurkan kepala di puncaknya. Lelaki tampan yang mengenakan setelan semi formal itu memejamkan kedua kelopak matanya sejenak.
Namun, ketenangan yang di raih terusik oleh seseorang yang datang menghampiri dirinya.
Kedua mata terbuka, langit - langit platform yang berwarna putih menjadi pemandangan pertama yang di dapatkan. Kepala yang di tidurkan perlahan terangkat lalu menoleh pada seseorang yang sudah mengusik ketenangannya saat ingin berisitirahat.
"Aku baru saja sampai, tapi anda sudah datang menghampiri. Tidak bisakah anda memberikan waktu sejenak untuk aku beristirahat?" Julian tak sungkan menunjukkan rasa tak sukanya pada kehadiran seseorang yang berdiri tidak jauh di hadapannya itu.
"Bagaimana dengan kabar Naura? Apa dia baik - baik saja?" tanya seorang itu begitu penasaran.
"Dia, sangat - sangat baik!" Jawab Julian dengan penekanan kata. "Kenapa tidak langsung menghubunginya saja? Anda punya handphone, kan?"
Julian beranjak dari tempat duduknya setelah berucap kurang sopan pada seseorang yang menyapa. Lelaki itu malah memilih melangkah menghampiri lemari pendingin dengan mencari sebotol air mineral di dalamnya.
"Naura pasti tidak akan mengangkat telepon dariku. Dia pasti akan marah dan kecewa padaku." Seseorang itu lambat menjawab pertanyaan dari Julian yang menyudutkan.
"Anda belum mencobanya, Pak Galang? Makanya anda langsung bilang begitu. Belum mencoba tapi anda sudah takut terlebih dahulu."
Ya! Seseorang yang mengusik ketenangan dan menghampiri Julian di hotel bintang lima di kota S adalah Galang Daehan Morris, Ayah kandung dari Naura. Seseorang yang dari kemarin intens menelpon Julian. Dan menyuruh Julian untuk bertemu dengan dia di kota S.
__ADS_1
"Aku dengar Evan pergi ke kota B untuk menghadiri acara pernikahan anak dari Tuan Raka dan Nyonya Adel. Apa saat Evan di sana dia menganggu Naura?" tanya Galang yang semakin ingin tahu.
Julian tersenyum. Botol air mineral yang telah terbuka penutupnya di tenggak isinya oleh Julian untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Sudah pasti dia tidak bisa untuk menyentuh Naura selama pacarku itu berada di dalam radius di dekatku." jawab Julian setelah puas membasahi tenggorokannya dengan air dari botol air mineral di genggaman tangannya.
"Pacar? Kalian sudah...."
"Aku bahkan sudah mengajaknya untuk tinggal seatap denganku.!" Sela Julian cepat.
"Julian! Jadi kau berniat...."
"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku!" Bentak Galang penuh dengan kemarahan.
"Apa? Putri? Anda bilang Naura adalah putrimu?"
"Ya! Karena aku punya cara sendiri untuk melindungi dan menyayangi putriku." jawab Galang yang berusaha untuk membela dirinya sendiri dengan memperjelas pernyataan yang sempat terlontar.
"Maksud anda dengan cara menyakiti dan tak mengakuinya? Hanya seorang pengecut yang melakukan hal seperti itu. Tadinya aku semakin berniat untuk menahan Naura di kota B. Karena aku mampu untuk memberikannya kebahagiaan yang tidak mampu kalian berikan padanya. Tapi, setelah aku sampai di sini rasanya menyenangkan jika aku membeli satu aset rumah sebagai cadangan kalau - kalau Naura tetap kekeuh untuk kembali ke kota S ini dan mengambil apa yang sudah menjadi haknya."
__ADS_1
Sorot mata tajam Julian bersirobok tajam dengan tatapan Galang yang lemah di selimuti rasa bersalah. Lelaki yang hampir menginjak usia pensiun itu tertunduk malu dengan kata - kata Julian yang sudah menusuk-nusuk jantungnya bagaikan hujan belati tajam nan beracun.
"Kau benar, aku memang seorang Ayah yang tidak pantas untuk putriku. Sedari Naura kecil aku hanya berdiri di belakang tanpa harus bisa berbuat banyak." Tatapan Galang terangkat, membalas tatapan Julian yang masih setia. "Bisakah aku percayakan putriku kepadamu, Tuan muda Julian? Hanya kau tumpuan terbesar untuk Naura mendapatkan sedari dulu yang seharusnya sudah dia dapatkan," sambung Galang memohon penuh harap.
"Jangan pergi dulu sebelum kau meminta maaf dan mengakui Naura adalah putri dari keluarga Morris," Julian menuntut lebih memaksa Galang agar tidak pesimis.
"Semua ada di tanganmu, Julian. Aku percayakan hidupku dan kebahagiaan untuk putriku. Setelah ini berhasil aku penuhi tanggung jawabku sebagai seorang Ayah." suara Galang bergetar di selimuti dengan penyesalan dan rasa bersalah.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.