Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Pengakuan Cinta


__ADS_3

"Rapat pembahasan aturan main antara "Dr. Julian Mallory Pratama Alvarendra Sp,B dan Dr. Alexandra Naura Morris Sp,B resmi di buka." Alexa mengetuk - ngetuk meja dengan telunjuknya layaknya seorang hakim yang sedang mengetuk palu pengadilan.


"Yang pertama, surat kontrak yang di ajukan oleh Dr. Julian Mallory Pratama Alvarendra Sp,B tidak di berlakukan atau tidak di anggap lagi sah di karenakan pihak kedua yang bernama Dr. Alexandra Naura Morris Sp, B menolak keras di detik ini." Naura menatap Julian dengan senyuman tipis dan mengejek.


"Deal!! Saya juga menyatakan surat persyaratan yang bermaterai 12000 yang di ajukan oleh dokter Naura tak lagi berlaku ataupun tak di anggap sah di detik ini." Julian tidak mau kalah.


"No!"


"Next!" Sela Julian cepat dengan acuh pada keberatan Naura.


"Kedua. Dilarang menyentuh tanpa meminta ijin seperti ciu....."


"No! Next!" Bantah Julian tegas dengan sorot mata yang tajam.


"Lian!"


"No! Next!" Julian lebih memilih untuk keras kepala.


Naura menelan saliva. Lalu memilih mengalah kepada sosok lelaki yang tidak mudah di luluhkan olehnya.


"Ketiga. Pembagian saham rumah sakit yang telah di rundingkan pada perjanjian yang sebelumnya tak lagi di anggap atau sudah di serahkan seutuhnya kepada Dr. Julian Mallory Pratama Alvarendra, Sp.B." ucap Naura dengan nada yang hati - hati.


"Naura....?"


"Yes, Baby...." sahut Naura cepat.

__ADS_1


"Kau memanfaatkan status di antara kita?" Julian terperangah menatap Naura.


"Oh, Next!" Naura acuh. "Yang keempat Dr. Naura meminta pengakuan resmi langsung dari mulut dari Dr. Julian akan status barunya yang telah di sandang detik ini."


Julian menyeringai. Lelaki itu takjub pada sosok Alexa yang berani tak seperti perempuan yang lemah pada umumnya Julian temui. Bukanlah sosok perempuan yang mudah di perdaya dan di luluhkan.


Julian kemudian beranjak dari duduknya. Lelaki itu berjalan menghampiri Naura yang menatapnya dengan penuh kebingungan.


"Perempuan cerdas," puji Julian dengan menyeringai.


"Aku bukanlah kelinci polos yang bisa-" ucapan Naura terhenti di karenakan bungkaman bibir Julian. Lelaki itu sudah tidak dapat lagi menahan hasrat di dalam diri akan tingkah Naura yang menggoda.


Naura sempat memberontak. Tangannya sempat mendorong dada bidang Julian untuk bisa menghentikan ******* bibir Julian yang agresif dan posesif. Namun, dengan cepat kedua tangan Julian menahan dan mencengkram tangan Naura hingga lumpuh tak mau lagi bergerak.


Julian berkahir meraup tubuh Naura, mengangkat tubuh ramping perempuan cantik itu dan mendudukkannya pada tepian meja di hadapan mereka tanpa melepaskan ******* bibir yang semakin menghanyutkan.


Julian pun sudah di mabukkan oleh kemanisan bibir dari Naura yang sudah melebihi madu. Seolah - olah bibir Naura sudah terkontaminasi oleh nikmatnya wine hingga memabukkan jiwa. Bibir Julian yang bersatu saling bersentuhan membuat jantung Julian sepenuhnya meleleh oleh kehangatan dan kemanisan dari bibir Naura.


Bibir Naura seolah memilki candu yang kuat, hingga membuat Julian tak ingin berpaling dari kesucian bibir Naura yang tak pernah di jamah oleh bibir lelaki lain manapun. Julian sepenuhnya telah luluh, telah jatuh cinta dengan sosok perempuan yang telah di rencanakan untuk dirinya.


Remasan kuat dari tangan Naura di kulit dada Julian menjadi pertanda bahwa perempuan itu mulai kewalahan akan keagresifan seorang Julian.


"Aku sangat mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku, dr. Alexa?" ungkap Julian dengan napas yang terengah setelah melepaskan ******* bibir di antara mereka.


"Mana mungkin aku menolaknya, jika kau sudah membuat aku hampir mati kehabisan napas seperti ini!" Jawab Naura kesal dengan dada yang naik turun akan napas yang tersengal.

__ADS_1


"Say yes!" Tuntut Julian memaksa.


"Yes! Aku mau menjadi kekasih dokter tampan pujaan para perempuan yang ada di rumah sakit kita bekerja," Naura mengulas senyum.


"I love you." ucap Julian lalu sekilas ******* bibir Naura.


"Jadi pembagian saham itu....."


"I love you." Julian membungkam bibir Naura dengan bibirnya.


"Lian...!"


"I love you..." ungkapan kata cinta itu kembali terulang dari bibir Julian.


"I love you too..." Naura menyerah dan membalas pernyataan hati Julian.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2