Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Keputusan Kiran


__ADS_3

Menu sarapan sudah tersaji di atas meja makan. Secangkir kopi untuk Bara nikmati yang sudah Kiran seduh dan terhidang di atas meja makan. Namun, Bara belum juga keluar dari ruang kamar tidur hingga Kiran bertanya - tanya.


Arkana yang sudah terlebih dulu bangun pun berada dalam pengasuhan Mbak Dewi setelah sebelumnya perempuan cantik itu sempat memberikan makan dan memandikan putra tampannya.


"Kenapa Bara belum bangun juga? Ini sudah jam tujuh. Apa dia tidak ingin berangkat kerja hari ini?" Kiran bertanya - tanya seorang diri.


Aprone berwarna biru Kiran lepaskan dari tubuhnya lalu di letakkan kembali pada tempatnya yang ada di dapur. Kedua kaki langsung melangkah menuju ke ruang kamar tidur dengan hati yang di landa penasaran.


Gerut kerut di hati Kiran tampak begitu jelas. Terlihat kedua mata berbola matakan cokelat tua itu masih mendapati Bara yang terbaring di atas ranjang tidur. Kedua mata Bara masih terpejam rapat menandakan Bara masih tertidur pulas.


Kiran langsung melangkah cepat untuk bisa membangunkan Bara secara paksa. Tangan Kiran sudah mencengkram lengan Bara. Niatan hati yang ingin menggoyangkan tubuh Bara pun pupus, saat kulit tangan Kiran merasakan suhu tubuh Bara yang tak normal.


"Bara demam?" gumaman yang keluar dari bibir Kiran.


Kiran yang panik langsung kembali melangkah keluar kamar untuk mengambil kompres hangat yang di gunakan untuk meredam tubuh Bara yang lebih hangat dari biasanya.


...***...


"Kau sudah bangun?" tanya Kiran saat Bara membuka kedua matanya.


"Aku masih disini?" suara lemah Bara mengalun penuh tanya.


Lelaki itu terheran ketika mendapati diri berada di kamar Kiran dengan keadaan bermandikan cahaya bohlam. Dari sela - sela ventilasi udara Bara bisa melihat sendiri jika malam telah tiba.


"Pagi tadi kau demam. Aku sudah mengompresmu tapi tak kunjung mereda. Aku terpaksa menelepon dokter untuk memeriksamu," jelas Kiran akan kegelisahan


yang tadi dia hadapi.


"Terima kasih, karena sudah repot - repot mau merawatku." Bara berucap penuh ketulusan.


"Kau bisa bangun? Aku membuatkan bubur untuk kau makan. Seharian kau belum memakan apapun karena kau tertidur."


"Bisa bantu aku bangun?" pinta Bara agak manja.

__ADS_1


"Asal jangan meminta aku untuk menggendongmu, aku masih sanggup dan bersedia." jawab Kiran cepat dengan nada yang bercanda.


"Termasuk meminta kau agar mau menjadi istriku? Apa kau juga bersedia?" tanya Bara menjebak.


"A - ayo bangun. Takutnya nanti buburnya akan dingin." Kiran terpaksa mendesak untuk mengalihkan pembicaraan.


...***...


Hati Bara terhenyak, luluh lantah dan hancur berkeping-keping saat Kiran menyodorkan kotak cincin yang ia berikan di atas meja. Bubur yang baru saja habis tertelan masih begitu terasa di tenggorokannya.


Kiran dengan kejamnya memberikan jawaban lebih cepat sebelum saatnya tiba. Pun kekejamannya lebih begitu menyayat hati ketika Bara masih belum pulih dari sakitnya.


"Kiran, bukankah masih tersisa satu hari lagi? Pikirkan baik-baik dan jangan gegabah." Bara membujuk halus.


"Aku sudah pikirkan matang-matang dan keputusanku sudah bulat." Kiran bersikeras.


"Tubuhku masih belum pulih, tapi kau begitu kejamnya melakukan ini padaku, Kiran!" Bara menyatakan rasa sakit hati yang mendera.


"Justru karena kau sedang sakit maka aku memberitahu keputusanku lebih cepat." Kiran menatap tajam ke arah Bara tanpa ekspresi.


"Justru karena aku memikirkan Arkana dan kau, jadi aku memutuskannya lebih cepat." jawab Kiran.


"Kiran...."


"Bara!" Kiran menyerobot cepat. Kedua tangannya melucuti dua kancing kemejanya sendiri. "Bisakah kau melihat sesuatu di bahuku? Sepertinya ada semut yang menggigit." Kiran meminta bantuan dengan menyibakkan sedikit kemeja yang di kenakannya hingga memamerkan kulit dada dan bahu sisi kirinya.


"Apa - apaan sih? Aku ini sedang serius Kiran. Tapi kau malah...."


Bara terdiam, ucapannya seketika terhenti. Kedua mata tak sengaja melirik benda yang tak asing menggantung bersama dengan kalung yang sedang Kiran kenakan. Sebuah benda yang tak asing menjadi pemanis hingga mencuri perhatian dari lelaki tampan berlesung pipi itu.


"Kiran? Kau..., kau?"


"Kenapa?" Kiran mengulum senyumannya. "Bisakah kau melihatnya, Bar?" sambung Kiran kemudian.

__ADS_1


"Kau sedang menjahili aku ya?" tanya Bara menuduh.


"Harusnya kau liat dulu isi di dalam kotak itu. Lalu setelahnya kau baru bisa berkomentar." Kiran mengulas senyuman yang mengejek.


"Kau hampir saja membuat jantungku copot, Kiran!" Seru Bara.


Kemudian Bara beranjak dari duduknya, lalu dengan cepat memeluk Kiran. Pelukannya sangat erat sejalan dengan ledakan kegembiraan di dalam hati yang menguasai. Wajah tampan yang masih pucat pasi Bara benamkan di kulit bahu Kiran. Bibirnya pun sudah berulang kali mengecup kulit bahu Kiran akan rasa kebahagiaan yang di raihnya.


"Kau tahu, pada akhirnya aku tidak bisa menjadi manusia yang munafik, Bar? Karena sejauh apapun aku berlari tetap kau yang menjadi tempat pelabuhanku. Hatiku begitu terikat padamu, Bara. Sosokmu di hatiku itu tidak akan pernah tergantikan. Kau itu segalanya bagiku, Bar. Kau adalah takdirku. Aku sangat mencintaimu, Bara Ady Pratama."


Air mata kebahagiaan jatuh membasahi kedua sisi pipi Kiran saat lidahnya berucap tulus, memberitahukan perasaan di dalam hati yang sudah lama terpendam kepada lelaki yang sedang memeluknya erat, kepada lelaki yang sangat ia cintai.


"Aku mau menjadi istrimu. Aku mau kau menjadi suamiku. Aku mau kita segera menikmati hidup berumah tangga dengan Arkana yang mewarnainya." suara parau Kiran yang bergetar saat mengatakan keinginannya.


"Aku juga. Aku juga mau melakukan semua hal yang indah bersama dengan kalian, Kiran. Terima kasih karena kau mau menikah denganku dan terima kasih karena kau mau menjadi istriku." Bara ikut menangis, hati lelaki itu meleleh hingga sisi tersensitifnya tersentuh lalu mendesak buliran air matanya memenuhi kedua mata lalu jatuh membasahi pipi tanpa bisa di tahan - tahan lagi.


Kiran akhirnya menerima lamaran dari Bara dengan caranya yang hampir membuat jantung Bara copot. Jika dimana - mana orang akan mengenakan cincin berlian di jari manisnya, namun berbeda dengan cara Kiran.


Perempuan cantik itu sengaja mengenakannya di kalung yang melingkar pada leher lalu menggantung dan membelah daerah dada. Menjadikannya mainan dari kalung yang ia kenakan, untuk mengecoh Bara dengan sengaja.


Cara yang berbeda namun berkahir indah dan penuh haru dari kedua insan yang tak lagi menutupi perasaannya satu sama lain.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2