
Kevin melangkahkan kakinya menuju dapur dan tidak sengaja mendengar notif pesan masuk di ponsel Anin, Kevin menghentikankan langkahnya dan melirik ponsel tersebut.
"Siapa yang mengirim pesan pagi-pagi begini?" gerutu Anin sembari berjalan kemeja makan memeriksa ponselnya.
Anin mengembangkan senyumnya setelah mengetahui sang pengirim pesan, lain halnya dengan Kevin yang mersa kesal, Dia juga tidak mengerti dengan perasaannya sendiri yang tiba-tiba kesal.
"Siapa kenapa Kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Kevin sembari melirik ponsel Anin dengan ekor matanya.
"Dilan, Dia mengirim gambar produk yang baru perusahaan luncurkan, ternyara produknya banya pengemarnya ya?" Kamu benar-benar hebat" puji Anin.
"Kamu baru tahu bahwa Aku sangat hebat?" ucap Kevin mulai menyombongkan diri dengan senyuman diwajahnya.
"Ya ya Aku baru tahu bahwa CEO Adhitama Grub sangat hebat dan juga suka pamer" canda Anin senyum.
"Elvan ayo sarapan dulu !" tawar Anin saat melihat Elvan berjalan melewati meja makan.
"Aku sarapan diluar saja kak" ucap Elvan melirik Kevin sebentar.
"Kakakmu menawarkanmu sarapan, jadi sarapanlah dulu sebelum kekantor" ucap Kevin dingin.
"......." Elvan menganggukkan kepalanya dan segera bergabung di meja makan.
"Lain kali jika mengambil keputusan jangan terlalu ngegabah" ucap Kevin tanpa menatap Elvan.
"Maafkan Aku kak, Aku hanya merasa kerja sama ini akan semakin mengembangkan perusahaan, namun Aku salah" ucap Elvan yang tidak berani menatap Kevin.
"Jadikan ini sebuah pelajaran buatmu" ucap Kevin.
"Sudah-sudah kalian bahas itu lain kali saja, sekarang waktunya makan" ucap Anin dan memberikan piring yang berisi makanan yang telah Ia siapkan untuk Kevin.
"Aku hanya memberimu saran, jika menjalani bisnis jangan terlalu mementingkan teori dan materi saja, tapi libatkan perasaan didalamnya. Aku tahu kamu pandai berbisnis karena belajar di luar negri, hanya saja Kamu selalu tergesa-gesa saat mengambil keputusan.
Setelah sarapan Kevin segera berangkat kekantor bersama Ans yang sedari tadi menunggunya, Ans tidak ikut sarapan karena moodnya pagi ini benar-benar hancur.
Bagaimana tidak, sebelum berangkat kekantor, seperti biasa Ia akan berdebar dengan teman serumahnya, siapa lagi kalau bukan Tari.
__ADS_1
" Tuan hari ini dan seterusnya banyak sekali permintaan pasar dan......"
Brak
Ans tidak melanjutkan perkataannya saat mendengar suara pintu di dorong begitu kuat.
"Tuan maafkan Saya, Saya sudah mencegahnya tapi Tuan Hugo tidak mendengarkan saya dan ngotot ingin bertemu Anda" ucap asisten sekretaris Ans dan gemetar.
Ans hanya mengibaskan tangannya tanda menyuruh asistennya keluar.
"Wah....wah pak Kevin Anda sudah merasa sangat hebat ya, sampai-sampai Saya harus membuat janji jika ingin bertemu Anda." ucap Hugo senyum sinis.
"Untuk apa Anda menemui Saya, bukankah kita tidak punya urusan lagi?" ucap Kevin dingin. "Ans antarkan oak Hugo keluar" lanjut Kevin.
"Saya datang kesini ingin mebicarakan biaya kompensasi pembatalan kotrak, Anda pasti tahu jika membatalkan kontrak pasti mengenai biaya." ucap Hugo.
"Saya tahu itu" ucap Kevin dingin.
"Anda pasti melewatkan satu hal pak Kevin, jika pihak B membatalkan kerja sama lebih dulu, maka pihak B harus menganti rugi dua kali lipat. Jika tidak percaya Anda bisa kembali kontraknya, dan Saya juga punya bukti bahwa Anda yang telah dulu membatalkan kontrak ini." ucap Hugo menyeringai licik.
"Ganti rugi apa yang putra Dirgantara bahas?" ucap seorang wanita tua berjalan memasuki ruangan kerja Kevin di ikuti tiga orang dibelakangnya.
"Pengacara Tino jelaskan pada pak Hugo tentang isi kontrak tersebut" perintah Oma Jelita.
Pengacara Tino melangkahkan kakinya mendekat pada Tuan Hugo, dan menjelaska isi kotrak yang sebenarnya.
"Tuan silahkan Anda dengarkan baik-baik isi kotrak yang akan Saya bacakan" pinta Tino sopan dam memberikan kartu namanya terlebih dahulu. "Isi kotrak, jika pihak A melangar dan membahayakan kesehatan konsumen maka pihak B berhak membatalkan kotrak tanpa menganti rugi apapun" jelas pengacara Tino dan kembali berdiri dibelakang Oma Jelita.
"Bagaimana mungkin? tanya Hugo heran karena Ia sendiri yang membuat kontrak tersebut.
"Silahkan Anda tanya sendiri pada teman baik Anda!" ucap Oma Jelita melirik Elvan dengan Ekor matanya.
"Sa...Saya lupan mengatakan pada Anda bahwa Direktur menambahkan poin tambahan pada didalam kotrak tersebut." ucap Elvan gugup.
"Kenapa Dirgantara mau menyerahkan perusahaannya pada Anaknya yang tidak becus ini" ucap Oma Jelita.
__ADS_1
Dengan perasaan kesal Hugo melangkahkan kakinya keluar ruangan namun sebelum itu Ia mengatakan sesuatu. "Elvan urusan Kita belum selesai" ucap Hugo dengan tatapan permusuhan.
"Direktur memang hebat, disaat koma saja dia bisa menyelesaikan masalah yang bahkan orang sehat saja sulit menyelesaikannya" puji Ans.
Kevin mengacungkan kedua jempolnya kedepan dan melemparkan senyumannya pada wanita tua kesayangannya.
"Kapan Oma sadar?" tanya Kevin.
"Ibu sudah lama sadar dan selama ini Dia hanya pura-pura tidur" ucap Ajeng yang setia menemani ibunya. Ajeng memang tidak pernah menjenguk Ibunya karena Ia sudah tahu bahwa Ibunya baik-baik saja dan hanya pura-pura koma.
"Tapi kenapa Oma?" tanya Kevin mengerutkan keningnya.
"Karena Oma suka jika Anin merawat Oma, bisa mendengarkan curhatanmu dan juga rencanamu selama ini, bahkan Oma menyaksikan momen-momen mengelikan kalian berdua" goda Oma Jelita, wajah Kevin jangan ditanya lagi, sudah berubah merah seperti tomat.
"Momen mengelikan apa yang Oma lihat?" tanya Ans yang juga ingin mengoda Kevin. "Apa itu...." Ans menghentikan perkataanya saat tatapan membunuh tertuju padanya, siapa lagi pelakunya jika bukan Kevin.
"Kenapa Oma sampai berpikiran sampai sejauh itu dan menambahkan satu poin penting tanpa diketahui paj Hugo?" tanya Kevin penasaran.
"Karena Oma tahu, cucu Oma yang satu ini selalu terburu-buru dalam melakukan sesuatu dan suka melupakan hal-hal penting." ucao Oma Jelita melirik Elvan dengan ekor matanya tang sedang berdiri disampingnya.
"Baiklah Oma, karena Kevin melakukan kesalahan, maka Kevin siap menerima hukumannya" ucap Kevin mantap.
"Oma sudah memikirkan hukan untukmu, karena tidak mungkin jika Oma memecatmu maka Oma akan menurunkan jabatanmu, Oma sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi atasanmu" ucap Oma Jelita senyum penuh arti.
Elvan dan Ibunya saling melempar pandangan dan senyum penuh arti, karena tidak ada irang lain yang akan menjabat posisi tertinggi di perusahaan jika bukan Kevin atau Elvan siapa lagi? dan kini satu-satunya harapan adalah dirinya.
"Orang itu adalah Anin" ucap Oma Jelita.
"Anin ?" ucap mereke bertiga serempak, siapa lagi kalau bukan Kevin, Elvan dan juga Ajeng.
"Jika bukan karena Anin yang selalu pusing dan juga mual, Oma tidak akan berinisiatif menguji keamanan produk Quen Grub." jelas Oma Jelita.
-
-
__ADS_1
-
TBC