Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Bab 147


__ADS_3

"Amanda, bayinya mau dikasih nama apa?" tanya Rea dengan senyum yang terus membingkai di bibirnya.


"Terserah, Mas Raka dan Mbak Rea saja," sahut Amanda.


"Kamu tidak mau memberi nama pada anak-anakmu?" tanya Raka pada Amanda.


Amanda tersenyum sembari mengusap kepala salah satu bayinya yang digendong oleh Rea.


"Kalian saja yang memberi nama pada mereka, aku tidak mengerti dan tidak tahu harus membuat nama seperti apa."


"Rea, kamu ada nama untuk mereka?" tanya Raka pada Rea.


"Tidak. Kakak saja yang memberi nama," ucap Rea.


"Baiklah, jadi kalian tidak punya nama yang cocok untuk anak kita ini," ucap Raka.


Raka menatap putranya yang sedang digendong olehnya.


"Biarkan, Papa yang ganteng ini yang membuat nama untuk kalian ya," ucapnya lagi.


Rea dan Amanda saling tatap lalu tertawa bersama.


"Kalian kenapa?" tanya Raka sembari menatap dua istrinya itu.


"Tidak, tidak apa-apa. Pikirkan saja nama anak-anak kita," ucap Rea.


"Mmm gimana kalau si ganteng ini kita kasih nama Reinanda?" ucap Raka.


"Reinanda?" Amanda menatap Raka dengan tatapan penuh tanya.


"Reinanda, gabungan antara Rea dan Amanda."


"Waw nama yang bagus, tapi kenapa harus ada nama aku pada anaknya, Amanda?" ucap Rea.


"Mereka anak kamu juga, Mbak," ucap Amanda sembari mengusap lengan Rea.


Rea tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca dan sedetik kemudian air mata itu jatuh juga dari pelupuk nya.


"Amanda, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak yakin kamu akan membagi anakmu denganku," ucap Rea.

__ADS_1


"Mbak, bayi-bayi ini anaknya, Mas Raka itu artinya anak kamu juga. Tidak ada alasan untuk aku melarang mu menyayangi mereka."


"Kenapa suasananya jadi gini ya? Padahal aku sedang bahagia ini," ucap Raka.


Rea mengusap air mata yang membasahi pipinya lalu dia tersenyum ke arah, Raka.


"Lalu siapa nama untuk bayi perempuan yang cantik ini?" tanya Rea.


"Dara. Dara gabungan antara nama Amanda dan Raka. Sudah ada nama Rea dan Amanda pada Reinanda apa salahnya aku masukan nama aku juga pada bayi perempuan kita kan."


"Nama yang bagus," ucap Amanda.


...****************...


Satu minggu kemudian.


Dikediaman Raka dan keluarganya.


Rea sedang sibuk bersama dua bayinya, dia begitu bahagia bersama mereka.


"Sayang, aku mau bicara sama, Amanda sebentar ya," ucap Raka pada Rea.


"Ya, silahkan. Kalian bersenang-senanglah setelah kemarin-kemarin kita dalam keadaan yang sangat genting," ucap Rea sembari terus memainkan tangan Dara.


Rea menatap Raka dalam waktu yang lumayan lama


"Boleh, kalian boleh pergi. Lakukan apa yang membuat kalian bahagia."


Raka mencium kening Rea lalu pergi dari kamar Rea!


Tok!


Tok!


Raka mengetuk pintu kamar Amanda lalu membukanya!


"Boleh aku masuk?" tanya Raka yang hanya menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Mas, Masuk," sahut Amanda.

__ADS_1


Raka berjalan menghampiri, Amanda yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Kamu mau bicara apa denganku?" tanya Raka.


"Tentang perjanjian kita," sahut Amanda tanpa basa-basi.


"Perjanjian ya. Amanda apa kamu tidak bisa mengubah perjanjian itu?"


"Tidak, Mas. Kita tidak saling mencintai kita tidak bisa hidup bersama dalam ikatan pernikahan."


Sebelum menikah, Raka dan Amanda memang membuat perjanjian. Saat Amanda sudah melahirkan anak Raka maka, Amanda akan menyerahkan bayinya kepada Rea dan Raka akan menceraikan, Amanda.


Perjanjian itu mereka buat atas persetujuan dari kedua belah pihak, bukan tanpa alasan mereka melakukan itu demi kebutuhan masing-masing.


Amanda butuh uang untuk biaya pengobatan Ibunya sedangkan Raka butuh seorang anak dalam hidupnya, akhirnya mereka membuat perjanjian tanpa sepengetahuan Rea dan keluarga Amanda. Hanya Raka dan Amanda saja yang mengetahui perjanjian yang dibuat sebelum mereka menikah.


"Kita akan berusaha untuk saling mencintai. Setelah ada anak dalam rumah tangga kita, mungkin cinta bisa tumbuh diantara kita," ucap Raka.


"Mas, aku bisa saja memiliki cinta untuk kamu tapi kamu belum tentu memiliki cinta untuk aku. Aku tahu bagaimana kamu mencintai, Mbak Rea, aku tahu Kamu sangat mencintai, Mbak Rea lebih dari apa pun. Aku ingin tetap berpisah dari kamu."


Raka terdiam sembari menundukkan kepalanya, sedetik kemudian dia mengangkat kepalanya lalu bicara pada Amanda.


"Kamu benar, Amanda aku memang tidak bisa berhenti untuk mencintai Rea bahkan aku tidak bisa menyentuhmu meski kita sering tidur dalam satu kamar yang sama," ucap Raka.


"Aku tahu itu, Mas. Karena itu lah aku tidak berani menyalakan api cinta di hatiku. Aku tetap pada pendirian ku, aku minta ceraikan aku secepatnya."


"Baiklah, aku akan mengurus perpisahan kita."


Amanda tersenyum lalu mengusap pundak, Raka!


"Mas, aku harap tidak ada orang lain yang tahu tentang perjanjian kita, biarlah hanya kita berdua yang tahu, tolong kubur dalam-dalam rahasia ini."


"Baiklah, Amanda aku tidak akan memberi tahu Rea atau siapapun."


"Pembicaraan kita sudah selesai, pergilah dan temui cinta sucimu itu."


Raka tersenyum lalu pergi dari kamar Amanda!


Setelah Raka pergi dari kamarnya, Amanda masih duduk dalam posisi semula.

__ADS_1


"Semoga setelah ini, aku bisa menemukan kebahagiaanku," ucap Amanda didalam hatinya.


Bersambung


__ADS_2