Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Tidak Ingin Terlibat Lagi


__ADS_3

"Ibu bohong padaku! Ibu bilang jika Naura sengsara di kota B! Tapi, apa yang aku lihat tadi dengan kedua mataku sendiri! Dia malah terlihat bahagia dengan pacar konglomeratnya!"


Evan menumpahkan segala kekesalan pada ibu kandungannya melalui sambungan telepon. Tangan yang mencengkram kuat setir kemudi mobil. Mengundang tawa sinis dan gelengan kepala dari Bayu yang duduk di sebelahnya.


"Ibu memang tidak bisa aku andalkan! Yang ibu tahu hanya shoping, minta duit dan foya - foya. Sementara aku, sibuk merebut hak dari tangan Ayah!"


Evan memutuskan sambungnya secara sepihak tanpa ingin mendengar kembali penjelasan dari ibu kandungannya. Lelaki itu sudah di selimuti oleh rasa kesal dan malu. Mentalnya juga di paksa jatuh hingga menciutkan nyali akan ancaman putra konglomerat di negara I yang tidak bisa di pandang oleh sebelah mata.


Siapapun pasti tahu keluarga Alvarendra. Si konglomerat kelas kakap yang memiliki kuasa lebih di tangan. Jika dulu sang pelopor menguasai dunia bisnis dalam berbagai aspek, kini para penerusnya mengepakkan sayapnya ke bidang lain seperti medis dan IT.


Di tambah lagi dengan keluarga Pratama semakin menguatkan dan mengokohkan dua keluarga yang di segani dalam kalangan sosial high class. Sosok dari kedua keluarga itu semakin menciutkan nyali pada dunia sisi gelap yang tidak di ketahui oleh banyak orang.


"Harusnya kau percaya saat aku mengatakan jika Naura memiliki hubungan dengan Julian." Bayu sukses menambahkan rasa kesal dan amarah di diri Evan.


"Aku pikir pengakuannya hanya gertakan sambal saja! Bisa saja kan, mereka berdua itu pura - pura. Dan aku itu sangat mengenal Naura yang tidak pernah dekat dengan lelaki manapun!" Evan membantah dengan tegas pernyataan dari Bayu.


"And see? Kau lihat sendiri kan? Bagaimana mesranya Julian itu merangkul Naura? Yang lain saja bahkan segan untuk menyapa Julian! Kau tahu kenapa?"


"Karena sosoknya yang luar biasa!" Sahut Evan cepat.


"Dan kau tahu itu! So, aku tidak bisa membantumu lagi. Dari pada karir dan pekerjaanku hilang, lebih baik aku mundur dari sekarang. Aku itu sangat mengenal baik sosok Julian yang tak pernah main - main dalam berucap. Lelaki itu diam, dingin seolah tidak tersentuh walau sekuat apapun kau mendekatkan diri. Namun, kau jangan tanyakan lagi jika actionnya sudah bertindak."


Bayu mundur dari rencana ingin membantu Evan. Ancaman kemarin yang ia terima dari Julian sudah cukup menciutkan nyali hingga terpukul mundur tanpa bisa berkompromi.


"Jadi? Kau itu takut?" nyali Evan kembali menyatu."Hei, Man! Ini baru saja permulaan. Aku masih bisa meminta bantuan lain. Pemilik rumah sakit?" Evan tersenyum seolah mengejek status Julian. "Dan apa kau lupa aku juga seorang pemilik rumah sakit." lanjutnya.


"Kau saja yang hadapi dia. Jangan bawa - bawa aku lagi kedalam rencanamu itu!" Bayu kembali menolak dengan tegas.


"Kau yakin? Lalu hasratmu pada Naura bagaimana?"


"Lebih baik aku salurkan nafsuku pada perempuan lain, dari pada menyentuh perempuan yang sudah menjadi milik Julian! Itu sama saja aku menggali lubang kuburanku sendiri!"


Bayu kemudian turun dari mobil putih yang di miliki oleh Evan dengan gerakan kesal sedikit membanting pintu mobil. Lelaki itu lebih memilih untuk naik kedalam mobil miliknya yang terparkir tak jauh dari mobil Honda Civic milik Evan.

__ADS_1


"Arrrghhh! Bayu pengecut! Baru mendapatkan peringatan dari Julian saja dia sudah takut!" Ujar Evan kesal dengan kembali memukul setir mobil.


***


"Bisakah kau cubit aku, Lian?" pinta Alexa yang memaksa dengan tatapan serius di hadapan Julian.


Bukannya mencubit, tetapi Julian malah melabuhkan bibirnya sekilas ke bibir Naura.


"Lian....!" Teriak Naura setengah membentak.


"Nyata atau tidak...?" Julian malah balik bertanya.


Naura menelan salivanya. Tangannya lalu terangkat dengan jemarinya berlabuh di permukaan bibirnya, meraba permukaan kulit yang tadi terjamah sekilas oleh bibir hangat Julian yang mendebarkan jantung Naura.


"Nyata atau tidak?" Julian mengulang pertanyaanya.


"Nyata," suara Naura terdengar lemah akan diri yang di hampiri tersipu malu.


"Tadi itu kau agak keren. Jadi, aku hanya masih kagum dan...."


"Agak keren?" Julian menyela sembari mengoreksi ucapan dari Naura tadi.


Naura meringis "Maksudku sangat keren."


Telunjuk Julian mengarah tepat di wajah Naura, lalu berayun-ayun seperti memberikan sebuah peringatan pada Naura yang terkesiap.


"Kau harus ingat itu! Aku itu sangat keren!" Tuntut Julian memaksa.


"Pacarku ini memang keren." Naura langsung menurut dan memuji lelaki tampan yang ada di hadapannya. "Tapi, apa yang kau ucapkan dengan Kak Evan tadi, apakah itu benar, Lian? Apakah kau akan benar-benar membalaskan semua perbuatan kejam yang mereka perbuat padaku?"


"Naura, apakah aku itu pernah main-main dengan ucapanku?" tanya Julian dengan menatap serius Naura.


Naura pun berpikir sejenak. Kedua bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan saat otak cerdasnya mulai bekerja.

__ADS_1


"Ada! Dan kau itu sudah ingkar janji mengenai mobil yang sudah kau janjikan itu!" Ucap Naura antusias. Setelah berhasil mengoreksi janji Julian yang belum di tepati.


"Kau itu matre atau apa?" Julian mengulas senyuman seringai.


"Bukan seperti itu. Kau tahu sendiri, kan? Kalau mobilku itu sudah di ambil dan setiap kali aku berangkat ke rumah sakit. Aku harus naik Taksi online. Dan ongkos untuk pulang - pergi dari apartemennya ke rumah sakit sudah berapa banyak uang yang harus aku keluarkan? Belum lagi biaya kebutuhanku. Aku itu masih missqueeen karena Ayahku masih pelit kepadaku. Jadi aku harus berhemat selama saham 30% itu belum aku dapatkan."


Hati Julian tergelitik mendengarkan ocehan dari Naura hingga menarik unjung bibirnya dengan bibirnya yang menepi mengulas senyuman. Tatapan serius nan tajam kini berganti menjadi lembut penuh binaran kebahagiaan.


"Harusnya aku tidak membicarakan pembatalan kontrak yang kemarin itu," gumam Naura lemah dengan wajahnya yang tertunduk malu.


"Jadi? Kau menyesal?" tanya Julian ingin memastikan.


"Sedikit." Naura meringis senyuman kecut. "Tapi aku bukan wanita mata duitan yang kau pikirkan. Aku hanya......"


Julian langsung menjejakkan bibir hangatnya ke bibirnya Naura. Membungkam mulut Naura dengan gerakan yang agresif hingga Naura tak mampu lagi untuk mengeluarkan kata-kata. Bibir Julian menekan merubah jamahan bibirnya dengan ******* panas sepanas api yang membara sengaja ingin membakar hasrat Naura.


Pada akhirnya Naura pun tak kuasa untuk menolak. Jantungnya telah melumer dengan kesadaran yang mulai luluh oleh pergulatan bibir dari Julian yang lihai menjelajah permukaan kulit bibirnya.


"Kau mau minta apapun akan aku berikan? Tapi berjanji satu hal padaku.Percayalah padaku dan semua keputusanku, hm?" Julian memaksa Naura untuk menurutinya setelah melepaskan tautan bibir mereka yang menyatu tadi.


****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2