Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Bujukan Marsha Dan Alasan Naura


__ADS_3

Alvaro beranjak dari bantal tidurnya lalu bergeser ke pangkuan Marsha. Meletakkan kepalanya di atas paha Marsha dengan tubuh memiring mencari posisi yang ternyaman untuk wajahnya agar bisa mengarah ke perut Marsha


"Nak...." ucap Alvaro dengan tangan mengelus lembut perut Marsha. "Marah sama Papa, ya? Goyangan Papa kemarin terlalu kencang ya? Sampai - sampai kamu menghukum Papa seperti ini?" sambung Alvaro berucap dengan janin yang ada di dalam rahim Marsha.


"Sayang....! Enggak ada hubungannya..."


"Nanti, kalau Papa sudah sembuh dan kuat. Papa janji nggak akan menggoyang terlalu kuat," sela Alvaro menghentikan ucapan Marsha. "Kamu suka mode yang mana, Nak? Slow mode? Middle? Atau....ahhh! Anak Papa ini pasti tak suka Faster mode! Karena Faster mode Papa jadi di hukum sama kamu, Nak! Baiklah, Papa sudah memutuskan untuk menggunakan middle mode! Deal, ya. Nak?"


Sedangkan Marsha hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya mendengar ucapan absurd dari Alvaro di depan perutnya. Mulut perempuan cantik itu bahkan menganga kecil dengan wajah yang terheran ketika bibir Alvaro menghujani perut Marsha dengan kecupan hangat dan penuh kasih sayang.


"Kita kerumah sakit ya, sayang? Aku tidak tega melihat kau terus seperti ini." Marsha kembali membujuk dengan tangan membelai kepala Alvaro.


"Kenapa? Kau sudah rindu? Karena sudah seminggu berpuasa dariku, hm?" Alvaro mengulas senyuman mengejek yang menjengkelkan .


Blush.


Seketika rona merah datang menghinggap di wajah Marsha, lalu perlahan mulai merayapi ke seluruh kulit wajah Marsha. Perempuan itu hilang akal sesaat, ketika mendengar ucapan Alvaro yang keluar dengan begitu lancarnya.


"S-Sayang....? Jangan bercanda!"



"Jawab iya! Lalu, aku akan menurut untuk pergi ke rumah sakit." dengan cerdasnya Alvaro langsung menarik Marsha untuk masuk kedalam perangkap.


"Untuk apa aku jawab iya! Tapi kenyataannya aku tidak berpikir seperti itu!" Marsha menolak.


"Ya sudah, kalau begitu aku nggak mau ke rumah sakit dan tetap akan....."


"Oke... oke!"Marsha menyela cepat. "Aku sudah rindu padamu." sambungnya dengan penuh keterpaksaan.


"Oke, deal!" Alvaro langsung bangun dari rebahannya. "Kalau begitu kita pergi ke rumah sakit sekarang." sambung Alvaro menuruti permintaan Marsha.

__ADS_1


Lelaki tampan itu merangkak turun dari ranjang tidur dengan mulut yang bersiul, bersenandung merdu dengan luapan kegembiraan yang ada di dalam hatinya. Kedua kaki yang menampaki lantai kamar langsung menuju ke arah kamar mandi untuk sejenak membersihkan diri.


"Aku harus minta obat terampuh pada Julian. Agar malam nanti aku bisa strong melayani istriku tercinta." ucap Alvaro agak kuat, agar terdengar oleh kedua telinga Marsha.


Seketika Marsha begitu menyadari, jika dirinya begitu menyesali keputusannya. Harusnya Marsha memahami sikap Alvaro yang penuh tipu muslihat dan lihai dalam menjebak mangsa.


Kini Marsha hanya bisa pasrah masuk kedalam perangkap Alvaro dan menerima kekalahannya dari suaminya yang cerdas seperti Alvaro.


"Sabar Marsha! Sabar! Untungnya kau itu tampan, sayang. Jadi, aku bisa memakluminya." kicau Marsha menerima nasib kekalahan.


...***...


Luna sedang menunggu data pasien, yang memerlukan tanda tangan dari Dokter Naura. Perawat itu hanya mengikuti arah kepala Dokter Naura yang sudah beberapa kali bergerak seperti mematuk - matuk. Dan pena yang ada di tangannya belum bergerak. Pun tintanya belum mencoret ke kolom tanda tangan yang tersedia di data pasien.


Naura terlihat sedang mengantuk berat di hadapan Luna. Sampai - sampai perempuan cantik yang menenggelamkan diri dalam kesibukan pekerjaannya. Tak mampu lagi menahan kantuk dan tak mampu lagi untuk membuka kedua kelopak matanya.


Tubuh Naura yang sudah diprosir habis - habisan selama seminggu sudah tak lagi memiliki tenaga. Tubuh Naura benar - benar membutuhkan istirahat cukup untuk tubuhnya me-recharge tenaga.


Naura menangis ketika berlari dari ruangan Julian saat itu. Untuk melupakan rasa sakit di dalam hati dengan cara menenggelamkan


diri di dalam kamarnya mandi ruangannya. Bahkan perempuan cantik itu menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangan agar suara isakan tangisnya tak keluar dan tak dan tak terdengar oleh siapapun.


Setelah itu Naura bertekad untuk membuktikan diri jika fitnah kejam Yang Julian layangkan tak benar adanya. Dengan gosip kedekatan dirinya dan Bayu yang merebak pun Naura tak ambil pusing. Naura masih menjalin hubungan akrab dengan Bayu di karenakan lelaki itu mampu membuatnya tertawa dalam kesedihannya.


"Dokter Naura!" Teriak Luna yang membangunkan Naura dari tidur singkatnya.


"Ya! Ada apa?" Naura memaksa kedua matanya untuk terbuka lebar.


Naura yang kacau dengan rambut golden browny - nya berantakan membuat Luna iba dan merasakan kasihan pada sosok dokter baik seperti Naura.


"Sebaiknya Dokter Naura pulang, mandi dan istirahat. Jam dinas Dokter Naura sudah habis, kan?" saran dari Luna membujuk Naura yang sejak kemarin belum pulang ke Apartemennya.

__ADS_1


"Setelah ini aku akan pulang. Aku juga sudah rindu dengan ranjang tidurku."


"Jangan lupa juga untuk menyisir rambut Dokter, ya. Saya rasa sudah sejak kemarin Dokter Naura tidak menyisir rambut." Luna benar - benar mengingatkan Naura untuk merapikan dirinya yang kacau saat ini.


"Ah...! Rasanya aku ingin sekali creambath dengan kepalaku di pijit - pijit." Naura tersenyum saat bayangan pijatan kepala berputar di kepala. "Tapi, sepertinya aku ingin tidur. Malam nanti aku ada jadwal operasi lagi kan?" sambung Naura dengan menghapus paksa keinginannya.


"Tidakkah sebaiknya, Dokter Naura serahkan saja pada Dokter yang lain?"


"No, no, no! Besok pagi Dokter Julian dinas, pagi kan? Aku harus mengurangi intensitas pertemuan di antara kami." ucap Naura tak sengaja terang - terangan menghindar dari Julian.


"Belakangan Dokter Naura terus menghindar dari Dokter Julian, apa ada sesuatu antara Dokter Naura dan Dokter Julian?" tanya Luna menaruh curiga.


"No!" Naura menyanggah tegas. "Aku harus bisa berbaur dan mengambil ilmu dari dokter yang lainnya, kan? Tak harus melulu dengan Dokter Julian. Walaupun beliau adalah Dokter pembimbingku, aku tak boleh terus menempelkan?" begitu cerdasnya Naura memberanikan alasan yang membuat Luna langsung percaya.


"Ah...., Dokter Naura benar. Pantas saja, Dokter pintar." Luna percaya dan memuji kecerdasan Naura.


...*************...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2