Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Keraguan


__ADS_3

"Kamu tidak boleh seperti itu Tari, bukankah kalian saling mencintai, dan telah bersama selama kurang lebih tiga tahun lamanya" Anin mengengam tangan Tari untuk menenangkan hati Tari yang mungkin sedang bimbang dengan keputusannya.


"Tapi Aku merasa hanya Aku yang senang dengan pernikahan ini, Ans tampak biasa-biasa saja." Tari cemberut saat kembali mengingat beberapa hari yang lalu, sejak mereka merencanakan pernikahan, Ans tidak pernah turun tangan untuk menyiapkan apapun dan hanya Tari yang mengurus semuanya.


"Ans mempercayakan semuanya padamu itu artinya Dia menghargai keputusanmu, seharusnya Kamu senang mendapatkan pria yang bisa menghargai setiap keputusanmu." Anin terus membujuk Tari. "Dan jangan sekali-kali meragukan pasanganmu jika Kamu tidak ingin menyesal di kemudian hari, Ans adalah pria baik-baik dan Dia sangat mencintaimu, jadi jangan pernah mengatakan Kamu ragu dengan pernikahan ini, Kamu pasti lebih mengerti itu di bandingkan Aku."


"Kalian pasti akan bahagia karena menikah atas dasar cinta" ucap Anin.


Tari tetap diam saja mendegarkan setiap perkataan Anin yang menurutnya masuk akal. "Anin benar, harusnya Aku tidak meragukan Ans, Dia bahkan menjagaku dan tidak ingin menyentuhku padahal bisa saja Dia mengambil kesempatan itu karena Kami satu rumah, Ah Aku sangat bodoh karena meragukanmu" batin Tari.


"Terimakasih beby, Kau sungguh sahabatku, Kau menyelamatkanku dari penyesalan di kemudian hari. Aku jadi bersemangat untuk mempersiapkan pernikahanku, bagaimana kalau Kita fitting gaun hari ini." ucap Tari penuh semangat. "Aku rapi-rapi dulu ya" Tari hendak bangkit dari duduknya namun segera di cegat oleh Anin.


"Tunggu dulu, sebelum Kau fitting gaun, Kau harus menentukan lokasinya dulu, Kau harus tahu mau melakukannya outdoor atau indoor" Anin memperingatkan Tari.


"Astaga Aku lupa dengan itu." Tari sedikit berpikir mempertimbangkan lokasi untuk pernikahnnya. "Sepertinya lebih menyengkan jika pestanya outdoor saja deh" Tari mengungkapkan keputusannya.


"Kau mau mengadakannya di tempat yang bagaimana? agar Kita bisa mentukan gaun yang pas untuk Kau pakai" ucap Anin lagi membuat Tari stress.


"Oh ya ampun, Aku lupa bahwa Kau sekarang seorang desainer makanya Kau terlalu cerewet saat membahas gaun, dan Aku tidak salah memanggilmu kesini, Aku tidak bisa memutuskan dimana tempat yang bagus. Bagaimana Kalau hari ini Kita meninjau lokasi bersama Wo yang akan menangani pesta pernikahanku." Tari memberikan usul.


"Ide bagus, bersiap-siaplah" perintah Anin.


Tari berlari memasuki kamarnya dan segera bersiapa-siap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan Anda membutuhkan sesuatu?" Ans heran dengan Kevin, yang terlihat gelisa, sebentar duduk, sebentar berdiri dan itu membuat Ans pusing karena Kevin tidak mengerjakan pekerjaanya dengan benar.


"Ini semua gara-gara calon Istrimu itu" Kevin melampiaskan kekesalannya pada Ans.


"Bagamaiana Aku bisa tenang jika Anin berkeliaran di luaran sana, ah Aku tidak bisa membayangkan jika di di goda oleh Pria di luar sana, bagaimana jika Anin berpaling diriku? Walau Anin sudah menjadi milikku, tapi Aku tidak tahu hatinya, saat dalam keadaan tidak sadar, Dia terus saja membentakku dan mengatakan membeciku." batin Kevin.


"Tuan kenapa Anda membawa-bawa calon istriku?" protes Ans yang tidak suka jika Tari di salahkan dalam hal ini.

__ADS_1


"Karena calon istrimu itu, Aku jadi tidak bisa menemani istriku kemana pun" ucap Kevin dingjn.


Ans menyeringai mendegar penuturan Kevin. "Sepertinya ini kesempatan yang bagus untuk menghabiskan waktuku dengan Tari." batin Ans.


Ya Ans selama ini bukan tidak senang dengan pernikahannya, Ia hanya tidak punya waktu untuk mempersiapkan semuanya, Ia terlalu sibuk di perusahaan bersama Elvan, karena CEO perusahaan sedang di mabuk asmara.


"Tuan solusinya sangatlah mudah, berikanlah Saya cuti hari ini dan Aku akan menemani istriku kemanapun dan otomatis nyonya Anin kembali pada anda" Ans senyum penuh kemenangan.


"Baiklah Aku akan mengurus semua pekerjaan hari ini, kabarilah calon Istrimu bahwa Kamu akan mengajaknya kencan hari ini" Kevin mengembangkan senyumnya, karena hari ini Anin tidak akan kemana-mana dan hanya akan ada di ruangannya.


Ans begitu sangat bahagia mendapatkan izin cuti hari ini, Ans segera mengirimkan pesan pada Tari.


"Sayang hari ini Aku akan menemanimu untuk mempersiapkan pernikahan Kita, jadi bersiap-siaplah Aku akan menjemputmu" isi pesan.


"Baiklah Aku akan menunggumu." balas Tari.


Setelah membalas pesan dari Ans, Tari menemui Anin di ruang tamu dengan wajah bahagianya. "Anin Kita tunggu Ans dulu ya, Dia akan menemani Kita." ucap Tari. "Kenapa Apa Kamu tidak suka jika Kita pergi dengan Ans?" tanya Tari saat melihat Anin cemberut.


"Maaf Aku tidak bisa menemanimu, mas Kevin menyuruhku makan siang di kantornya." Anin tidak enak hati pada Tari.


"Sepertinya ini semua sudah direncanakan?" batin Tari sedikit mencurigai Ans yang tiba-tiba cuti.


"Seandainya Ans tidak menemaniku hari ini, Aku tidak akan membiarkanmu pergi." Tari cemberut membuat Anin semakin tidak tega.


"Tunggu apa lagi ayo pergi, lihatlah di depan sudah ada yang menjemputmu" Tari menunjuk dua mobil yang sedang terparkir rapi di depan kontrakannya.


"Kau marah?" tanya Anin.


"Tidak ayolah" Tari menarik tangan Anin keluar dari kontaraknya dan menyambut Ans bersama dengan seorang sopir di belakangnya dan tentu saja sopir itu datang untuk menjemput Anin.


"Nona" sapa Ans.


"Jangan memanggilku seperti itu, aku tidak suka jika calon suami temanku bersikap formal padaku" Anin mengembangkan senyumnya. Sementara Tari menatap tajam calon suaminya.

__ADS_1


"Aku pamit dulu ya" Anin cipika-cipiki dengan Tari dan berlalu pergi.


Tiga puluh menit telah berlalu akhirnya Anin sampai di kantor Kevin, Anin membalas sapaan para keryawan dengan senyumanya yang begitu manis dan mengoda pada siapapun yang melihatnya. Dengan balutan dress selutut berwarna hitam di padadukan high heels dengan warna yang senada, dan juga make up yang begitu manatural membuatnya begitu anggun.



Anin yang hendak menyapa sang suami segera di urungkan saat melihat Kevin sedang sibuk bekerja, Anin bejalan perlahan agar tidak menimbulkan suara namun itu sia-sia saja.


"Sayang Kamu sudah datang?" Kevin bangkit dari duduknya lalu mencium kening istrinya dan megapit pingganya menuju sofa di mana makanan kesuakaan Anin tertata rapi di atas meja.


"Ais mas Kevin menyebalkan tau nga" Anin cemberut dan duduk di sofa.


"Aku salah apa lagi sayang hem?" Kevin mencium tangan Anin yang sedari tadi di gengammnya.


"Aku itu ingin mengagetkan mas Kevin, tapi mas Kevin malah menyadari kedatanganku." gerutu Anin.


Tawa Kevin lepas mendegar penuturan sang istri, Kevin mengecup pipi Anin. "Sayang apa Kamu tahu? bahkan cara pernafasmu saja Aku bisa membedakannya." Kevin menghujani wajah Anin ciuman bertubi-tubi. "Sayang apa Kamu sudah selesai?" bisik Kevin di telinga Anin membuat Anin merinding mendegar deru nafas Kevin.


"Mas...........


-


-


-


-


-


-


TBC

__ADS_1


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2