
Mentari pagi kembali menyapa. Sinaran hangatnya kembali menerangi bumi hingga ke tanah kota B. Kicauan burung merdu yang saling bersahutan menjadi backsound alami, untuk meramaikan suasana pagi di kota B yang sudah di sibukkan oleh rutinitas pagi.
Kiran masih menatap bayangan diri dari dalam cermin. Wajah cantiknya masihlah basah, belum di basuh setelah Kiran membasuhnya dari kran air yang di nyalakan.
Mama cantik itu melamun. Pikiran Kiran kini telah melayang pada kejadian kemarin malam bersama dengan Bara.
Sentuhan bibir Bara yang menghanyutkan hingga membuat kesadaran Kiran itu terlelap dalam keagresifan bibir lelaki tampan itu kembali berputar di ingatan Kiran.
Tatapan kosong, bibir kemarin yang di hisap sari patinya oleh Bara menganga kecil. Perlawanan wajah bening Kiran yang di rayapi oleh rona merah yang berakhir menyelimuti.
"Astaga! Apa yang aku pikirkan?" Kiran tersadar lalu menepuk - nepuk wajahnya.
"Sadar Kiran! Sadar!" Kiran berakhir kembali berucap seorang diri di dalam kamar mandi.
Kedua kelopak matanya terpejam. Dada Kiran terangkat oleh tarikan napas dalam - dalam yang di sengaja. Dada Kiran kemudian kembali turun ketika helaan nafas agak kasar keluar dari bibirnya yang membentuk huruf O.
"Rileks Kiran, buang jauh - jauh pikiran kotormu itu dari otak sucimu!" Kiran mensugesti dirinya sendiri.
Kiran kembali melakukan hal yang sama. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan agak kasar dari mulutnya.
Bibir Kiran menipis saat bayangan kejadian kemarin malam perlahan lenyap dari ingatan. Namun, usaha Kiran kini kembali sia - sia. Saat momen manis nan panas itu kembali dengan sendirinya.
"Arrrgh!" Kiran kembali menepuk wajahnya. "Bara si kurang ajar itu berani - beraninya menyentuhku!" Sambung Kiran kesal.
Kedua mata yang memiliki bola mata coklat tua itu kembali melihat kekacauan diri dari bayangan dalam cermin.
"Salahmu juga Kiran. Siapa juga yang menyuruhmu terpadaya begitu saja oleh lelaki itu?" Kiran berbicara pada bayangannya di dalam cermin. "Ah, entahlah! Bara sukses memecahkan konsentrasiku." sambungnya pasrah menerima keadaan diri yang masih di mabukkan oleh kehangatan dari Bara kemarin malam.
...***...
Tawa Arkana menjadi magnet kuat bagi Kiran yang baru saja keluar dari kamar tidurnya. Bayi tampan itu telah bersih, telah wangi, telah rapi dengan setelan santai yang Mbak Dewi kenakan.
__ADS_1
Kiran yang mengenakan hot pants berwarna hitam dengan kaos putih polos berlari mendekati ke arah Arkana yang sedang berjemur di balkon apartemen miliknya.
"Tutututu...., tayangannya Mami udah cakep udah mandi ya...." dengan aksen mencelat - celatkan Kiran yang menyapa Arkana.
Kedua tangan Kiran langsung mengambil alih Arkana dari gendongan pengasuhnya. Sudah tak sabar ingin melepasa rindu pada bayi tampan tercintanya yang mengulas tawa menggemaskan dengan memamerkan lesung pipinya itu.
"Harum banget anaknya Mami." komentar Kiran setelah mengecup - ngecup pipi Arkana.
Kiran lalu teralihkan pada Mbak Dewi yang masih berdiri di hadapannya sambil mengulas senyuman. Hati Kiran merasa tergelitik untuk menanyai sesuatu yang menganggu pikirannya sejak Bara menculik mereka berdua.
Mbak Dewi adalah saksi terkuat yang mungkin bisa jadi penggoyah terkuat keegoisan dari Kiran.
"Mbak Dewi, boleh aku menanyakan sesuatu?" Kiran mencuri perhatian dari Mbak Dewi.
"Ya, Bu. Memangnya Bu Kiran ingin bertanya apa?" sahut Mbak Dewi dengan santun.
"Selama Bara menyandera kalian, apakah Bara pernah menyiksa atau berbuat buruk pada kalian? Terutama pada Arkana?" tanya Kiran begitu penasaran.
"Di sandera?" dahi Mbak Dewi mengerut dalam. "Menurut saya, Pak Bara tidak menyandera saya, Bu. Melainkan melepas rindu pada Arkana. Setelah kejadian malam itu, hingga berada di rumah Pak Bara kami tidak pernah mendapatkan tekanan sedikitpun. Terutama pada Arkana. Pak Bara selalu menyempatkan diri untuk meluangkan waktu lebih. Bahkan Pak Bara sampai melibatkan diri sendiri untuk mengurus Arkana, jika berada di dalam rumah. Dari memberikan makan, memberi susu, dan menidurkan Arkana semua Pak Bara yang lakukan. Pak Bara bahkan meminta saya untuk mengajari beliau bagaimana caranya memandikan Arkana dengan benar. Selama berada di bawah pengawasan Pak Bara, beliau tidak pernah melakukan seperti yang Bu Kiran katakan tadi. Pak Bara benar - benar sangat menyayangi Arkana, Bu." Mbak Dewi begitu lancar memberitahukan sikap tersembunyi dari Bara yang tak terduga. Bahkan Mbak Dewi sempat mengulas senyuman kagum saat lidahnya mengadukan apa yang terekam di dalam memori ingatannya.
"Mbak Dewi di bayar berapa oleh Bara hingga bisa berucap baik - baik mengenai dia?" tanya Kiran yang menuduh tanpa ragu, tatapannya memincing tajam ke arah Mbak Dewi yang terperangah mendengar tuduhan dari dirinya.
Mbak Dewi tertawa kecil. "Saya itu lebih dulu mengenal Bu Kiran dibandingkan dengan Pak Bara. Bu Kiran juga menjadi penolong pertama saya di masa - masa tersulit saya dalam menyambung hidup. Jadi, mana mungkin saya akan mengkhianati Bu Kiran. Yang saya katakan adalah kebenarannya, Bu. Saya jujur mengucapkan apa yang saya rasakan dan saya lihat."
Wajah Kiran seketika terselimuti rona merah akan tersipu malu. Kini Kiran di dera rasa yang tidak enak hati setelah sembarangan menuduh Mbak Dewi.
Sejatinya Kiran sangat tahu dan paham pada sosok Mbak Dewi yang di temuinya saat menginjakkan kaki di kota M. Dan Kiran tahu betul latar belakang Mbak Dewi hingga akhirnya Mama cantik itu mempekerjakan Mbak Dewi sebagai pengasuh dari Arkana.
"Maaf Mbak, aku hanya bertanya saja. Jangan di masukkan ke hati, ya?"ucap Kiran yang merasa bersalah.
"Saya juga paham perasaan Bu Kiran saat ini." balas Mbak Dewi tak mempermasalahkannya.
__ADS_1
...***...
Kini Kiran sedang menatap lekat cincin berlian yang berada di dalam kotaknya. Duduk di kursi dari meja riasnya, pikiran Kiran pun kini mulai melayang pada permintaan dari Bara untuk menjadikannya istri. Bahkan di telinganya saat ini masih terngiang-ngiang kata - kata manis dari Bara sewaktu mengantarkannya pulang.
"Mimpi indah, Ratu hatiku. Aku mencintaimu."
Kiran menutup kedua kelopak mata. Helaan nafas lembut keluar dari lubang hidung kecil yang menyempit ke atas. Kini Kiran masih di dera kebimbangan akan lamaran dari Bara.
Ketukan pintu menghentakkan tubuh Kiran hingga membuka kedua kelopak matanya. Cepat - cepat Kiran tutup kotak cincin itu lalu memasukkannya kedalam laci dari meja rias.
"Kiran? Kau sudah siap?" tanya Gita yang barada di ambang pintu.
"Kita mau kemana?" Kiran malah balik bertanya.
"Aku sudah bilang kan, kita itu akan pergi ke kantor Bara untuk pembicaraan kontrak ambassador yang kau inginkan itu!" Dengan ketus Gita menjawab ucapan dari Kiran.
"Ba- Bara...? jadi ki - ki.... kita mau ke kantor Bara?" Kiran tergagap, matanya mengerjap - ngerjap.
"Kenapa?" Gita berdiri di belakang Kiran dengan tangan yang terlipat di dada. "Kenapa kau jadi salah tingkah seperti itu, Kiran?" lanjut Gita dengan memincing tajam.
"Mana ada!" Kiran menyangkal tegas.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.