Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Kemarahan Kevin


__ADS_3

Setelah sarapan pagi, Kevin dan Anin berangkat kekantor bersama dengan Ans yang menjadi sopirnya, selama perjalanan Anin menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas yang belum Ia selesaikan tadi malam.


Sementara Kevin turus mencuri-curi kesempatan menatap Istrinya yang sedang sibuk dengan ekor matanya, bukan hanya Kevin bahkan Ans memperhatikan Anin di balik spion.


"Pantas saja Nona telihat beda hari ini, ternyata Nona tidak pakai kaca mata" ucap Ans memecah keheningan.


"Fokuslah mengemudi tidak usah memperhatikah hal-hal yang tidak seharusnya kau perhatikan" ucap Kevin dingin, etah mengapa Ia merasa kesal ketika mengetahui Ans memperhatikan penampilan Istrinya.


Anin segera mendongakkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya kearah Kevin, saat mendegar suara Kevin yang terdengar Kesal. Dan kin mata mereka bertemu, lama mereka terdiam hingga akhinya Kevin membuka suara.


"Cepatlah bersiap-siap Kita mampir ke kantor hukum dulu" ucap Kevin, mengalihkan pandangannya.


"Bukankah hari ini kita kekantor pusat?" tanya Anin.


"Kita mampir ke kantor hukum dulu untuk serah terima Kerena hari ini Kamu akan bekerja di kantor pusat" ucap Kevin.


"Eum....." Anin mengangukkan kepalanya tanda mengerti dan segera membereskan berkas-berkas lalu memasakukkannya kedalam tasnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Kevin menahan tawanya agar tidak pecah.


"Kamu bilang Kita ke kantor hukum dulu untuk serah terima" ucap Anin lirih dan merasa serba salah.


"Kita kesana bukan untuk itu, tapi Aku ada urusan dengan Pengacara Charles" ucap Kevin mengalihkan pandangannya keluar jendela, lalu mengembangkan senyumnya karena berhasil mengerjai Anin yang hanya menurut apapun yang ia katakan. Sementara Anin mengerucutkan bibirnya setelah mengetahui bahwa di dikerjai olah Suaminya.


****


"Maaf pak Saya tidak bisa menemukan berkas tersebut" ucap seorang wanita.


"Sebentar lagi pak Kevin dan juga sekretaris Direktur Utama datang, tapi Kamu belum menemukan berksa tersbut, jika saja Anin masih bekerja disini, pasti semuanya sudah beres" gerutu Tino pada asisten administrasi baru yang mengantikan Anin.


"Maafkan saya Pak" ucap asisten tersebut menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, cepat cari berkasnya!" bentak Tino.


"Pak kira-kira siapa ya sekretaris baru Direktur Utama ?" tanya Dewi.


"Saya juga tidak tahu, kita lihat saja nanti" ucap Tino.


"Anindira, Dia adalah sekreatris baru Direktur" ucap Tari yang baru saja muncul dengan tiba-tiba, setelah mengatakan itu Ia pun berlalu pergi karena masih ada urusan lain.


"Benarkah Dia? Dia tidak akan membalas kita kan?" tanya Dewi.

__ADS_1


Dewi segera berlari keluar saat mendengar seorang karyawan mempersilahkan Kevin masuk kedalam ruangan.


"Tuan Kevin silahkan" ucap Dewi mempersilahkan Kevin duduk. Namun Kevin hanya diam saja menatap tajam pada wanita yang ada dihadapannya. Dewi yang menyadari itu dengan segera membuka suara.


"Sekretaris Anin silahkan" ucap Dewi mengayungkan tangannya mempersilahkan Anin duduk, setelah Anin duduk Kevin pun ikut duduk.


Setelah menyelesaikan Pekerjaannya di kantor hukum, dengan segera Ans melajukan mobilnya, membawa Tuan dan Nyonya nya ke kantor pusat.


Tiga puluh menit telah berlalu akhirnya mereka sampai di kantor pusat, Ans segera mengumpulkan semua staf dan juga karyawan berjabatan tinggin, untuk memperkenalkan Anin sebagai sekretaris Direktur.


"Mulai hari ini jika ada hal penting apapun kalian langsung saja menemui Sekretaris Anin, karena hari ini Ia akan mengambil alih keputusan mengantikan Direktur utama." ucap Kevin.


"Baiklah, kalian bisa bubar dan kembali bekerja" perintah Kevin yang hanya dijawab anggukan oleh semua karyawan yang hadir, lalu membubarkan diri mereka.


Setelah memperkenalkan Anin pada semua karyawan, Ans mengantarkan Anin keruangan Direktur utama. Yang didalamnya sudah banyak berkas yang harus di periksa dan ditanda tangani olah Nya.


Sementara Kevin tengah bersantai menikmati kopi sembari berdiri di sudut ruangan, memperhatikan taman dekat perusahaan. Dan tak sengaja matanya menangkap seseorang yang sedang berbicara serius dengan lawan bicaranya setelah itu menyerahkan sebuah Amplop.


Dert.....dert.....dert......


Bunyi ponsel Kevin membuatnya tersadar dari lamunanya, setelah mengetahui siapa sang penelfon dengan segara ia menjawab panggilan nya.


"Tidak, Aku sedang bersantai karena Ans meninggalkan ku untuk memberi laporan pada orang lain" ucap Kevin, entah mengapa Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri, biasanya jika kekasihnya menelfon wajahnya akan berbinar karena bahagia, namun kini tidak lagi perasaannya seperti biasa-biasa saja.


"Ternyata selain Aku ada juga yang berani meninggalkanmu?" ledek Ana disertai dengan tawanya. "Ans melaporkan tentang perusahaan kesiapa selain Kamu? apa pada Oma?" lanjut Ana.


"Eum itu....." Kevin tidak tahu harus menjelaskan apa pada Ana.


"Kapan Kamu menyusulku? Aku sudah sangat merindukanmu, sebentar lagi Aku akan tampil Kamu akan hadir kan?" tanya Ana.


"Kita lihat saja nanti, sakarang Aku masih banyak urusan, Aku akan menyuruh Ans mengatur jadwalku agar bisa segera menemui mu" ucap Kevin.


"Baiklah, Aku mandi dulu ya dah" ucap Ana dan memutuskan sambungan telfonnya.


"Kenapa Aku merasa Kevin akhir-kahir ini berubah ya? biasanya jika Aku mengatakan Aku merindukannya, Dia akan segera menyusulku tapi sekarang Dia mengatakan harus mengatur jadwal dulu, aneh" batin Ana.


"Tuan Nona Anin....."


"Kenapa dengan Anin?" tanya Kevin dengan ekspresi penasaran.


"Nona Anin membuat masalah" ucap Ans.

__ADS_1


Dengan segera Kevin meletakkan kopi yang dipegangnya, lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan Anin.


"Aku kira Kamu hanya ingin belajar, jadi Aku mengajarimu, tapi apa ini?" bentak Kevin melemparkan sebuah berkas kedepan meja Anin. "Kenapa kamu membuat keputusan tanpa memberitahuku?" lanjut Kevin.


"Kenapa kamu tidak memperpanjang kontrak dengan perusahaan tersebut? apa masalahnya hah" bentak Kevin lagi.


"Karena Aku tidak setuju jika perusahaan ini bekarja sama dengan perusahaan mereka, Aku pernah melihat berkas-berkas tentang perusahaan itu, mereka memperlakukan pegawainya dengan tidak wajar." jawab Anin.


"Kenapa Kamu malah mengurusi tentang bagaimana mereka memperlakukan karyawannya? itu urusan mereka bukan urusan Kita" ucap Kevin masih dengan nada yang sama.


"Tapi Aku....."


"Aku tidak mau tahu, segera ubah keputusan mu" ucap Kevin melangkahkan kakinya keluar ruangan diikuti Ans di belakangnya.


"Aku tidak mau" ucap Anin dan itu berhasil menghentikan langkah Kevin.


"Oh jadi Kamu sudah berani melawanku?" tanya Kevin dengan tatapan tajamnya.


"Iya, lagi pula Direktur sudah menyetujui keputusanku" ucap Anin dengan tegas, walau dalam hatinya Ia sangat takut melihat kemarahan Kevin, namun ini semua Dia lakukan demi memenuhi permintaan Omanya, agar Kevin bisa menghargai keputusannya.


"Wah...wah... bahkan sekarang kau sudah berani mengancamku dengan membawa-bawa Oma" ucap Kevin senyum sinis.


"Dengar Aku......."


Dert....dert....dert......


"Aku akan menjawab telpon dulu" potong Anin lalu menjawab panggilan dari telpon perusahaan.


"..........."


"Baiklah, Anda keruangan saya setelah makan siang" ucap Anin dan memutuskan sambungan telponnya.


Anin menjelaskan apa yang di katakan oleh sang penelpon, setelah mendengar penjelasan Anin, Kevin memutuskan untuk menunggu sang penelpon di ruangan Anin.


-


-


-


TBC

__ADS_1


__ADS_2