
Kedua gadis yang kini sedang merias diri dengan make up cerah nan menggoda, kini masih dalam pengawasan buas kedua mata Garry dari layar iPadnya. Libido Garry sudah mulai meledak di dalam diri. Sudah mencuat naik di ubun - ubun hingga menegang di sekujur tubuh dengan hasrat berapi - api ingin melahap keduanya.
Kini, lipstik merah cerah sedang di pilih oleh Naura dan juga Berlin agar terpoles di bibir masing-masing dan kini, tatapan kedua mata hanya terfokus pada bayangan dari diri masing-masing saat sedang bercermin di depan meja rias.
"Berlin, apa kau bisa memanjat?" tanya Naura dengan nada lemah dan bibir sedikit merapat.
"Kak Bastian sering mengajakku pergi climbing, jika dia sedang tidak sibuk. Dan rumah ini hanya lantai dua kan?" jawab Berlin dengan tatapan acuh tak melirik ke arah Naura sedikitpun.
"Jadi, menurutmu itu tidak terlalu tinggi, bukan?" tanya Naura yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Berlin.
"Di dalam kamarnya, mungkin saja sudah tersimpan senjata api yang berada di di dalam laci. Dan aku akan mengambilnya, setelah kau berhasil mengalihkan dia. Kau mengertikan, Berlin?" ucap Naura memastikan rencananya harus berhasil.
"Wow! Bagaimana Kak Naura bisa mengetahui tentang hal seperti itu?" Berlin merasa takjub hingga membuat mulutnya menganga.
"Bukankah saat di dalam film - film action, selalu ada scene dimana pemainnya selalu menyimpan senjata api di dalam laci mereka." jawab Naura, dan sesaat keheningan terbentang di antara mereka. Akan Naura yang memperbaiki sikap dan menaikkan dagu dengan mengumpulkan rasa percaya diri "Are you ready, Berlin?"
"Yes, I am ready!" Sahut Berlin dengan cepat.
"Oke. Action!"
Kemudian, kedua wanita cantik itu mulai keluar dari dalam ruangan kamar tersebut dan saat keluar mereka berdua sudah di sambut oleh bodyguard Garry yang sudah menatap liar keduanya. Ingin sekali rasanya kedua gadis itu mencolok mata bodyguard itu dengan bara api. Namun, mereka berdua masih menahannya demi suksesnya drama yang sudah tersusun dengan rapi.
Dan keduanya kini sedang di tuntun menuju ke dalam kamar Garry yang sudah menunggunya dengan tidak sabaran. Dan tidak lupa juga, pengamanan sebelum masuk kedalam ruangan kamar Garry bodyguard itu memeriksa Naura dan juga Berlin untuk memastikan jika mereka berdua jauh dari benda-benda tajam.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, kemudian pintu itu langsung di tutup rapat saat kedua gadis itu sudah masuk kedalam kamar Garry.
"Welcome to my room, kedua perawanku yang sangat cantik." sambut Garry dengan kata - kata yang menjijikan.
__ADS_1
"Matikan Cctvnya!" Perintah Naura saat mendapati jika CCTV di ruangan Garry masih menyala.
"Ya ampun. Apakah kalian berdua tidak tahu, jika di tonton ramai - ramai itu sangatlah menyenangkan!" Jawab Garry yang menolak.
Kemudian, tak berapa lama lampu merah pada CCtv itu pun langsung padam. Dan Naura pun langsung memainkan dramanya. Ya, dia langsung berjalan menghampiri Garry yang terduduk di atas ranjang.Meskipun, ada rasa enggan dan rasa jijik harus bersentuhan dengan lelaki kurang ajar itu.
Namun, semuanya terpaksa Naura lakukan demi dirinya dan Berlin agar bisa segera terbebas dari penjara Garry. Karena tidak mungkin juga keduanya harus berdiam diri sampai menunggu bala bantuan datang untuk menyelamatkan mereka berdua.
Jadi, jika masih bisa untuk berusaha, kenapa tidak? Pikir Naura.
"Ayo, kemarilah gadis cantikku?" tatapan bernafsu Garry semakin memburu ketika Naura melangkah dengan sensual menghampiri ke arah Garry.
Cetar.
Cambuk yang ada di genggaman tangan Naura kini sudah tercambuk dengan sempurna di badan Garry.Dan rasa perih langsung tertorehkan pada tubuh Garry yang masih terbalutkan sebuah bathrobe hitam di tubuhnya. Namun, fantasi liar yang berputar dari cambukan yang di berikan oleh Naura, malahan memberikan sensasi lain bagi Garry.
"Tunggu, Kak. Bukankah akan lebih seru, jika kedua matanya di tutup lebih dulu." ucap Berlin kemudian Garry pun mengangguk sebagai tanda jawaban jika dia juga setuju.
Kini Berlin mulai melangkah mendekat ke arah Garry untuk menutup mata Garry dengan menggunakan sapu tangan yang Berlin temukan.
"Wow! Aku sudah langsung menegang. Kalian berdua sungguh sangat luar biasa. Aku jadi tidak sabar ingin segera menikmati keperawanan kalian berdua." seru Garry, yang mulai terpedaya dengan mudahnya pada kedua gadis cantik itu.
Kini gantian si bungsu Berlin yang sedang memainkan perannya untuk menggoda Garry dengan cambuk milik Naura. Sementara Naura, kini sedang sibuk mencari senjata api di sekitar meja dan laci yang berada di kanan dan kiri namun, masih belum juga membuahkan hasil.
Perempuan cantik yang begitu seksi dengan baju cosplay slim fit itu kini mulai tertuju pada tumpukan bantal yang berada di atas ranjang dan tebakannya pun tepat sasaran.Jika senjata api yang mereka cari - cari berada di dalam tumpukan bantal tersebut.
Kemudian, Naura langsung menarik Garry setelah senjata api itu berhasil di amankan yang akan ia gunakan nanti untuk membela diri. Sedangkan Garry yang masih di tutup matanya itu pun menyeringai dan menurut pada Naura.
"Kau tahu, kau itu sangat bodoh! Dasar laki - laki otak kotor yang sangat mudah sekali untuk di bodohi!" Bisik Naura di depan wajah Garry.
__ADS_1
Satu kaki Naura terangkat lalu mengarah kuat pada sela - sela paha Garry dan dengan sekuat tenaga dan penuh dengan amarah, Naura langsung menendang aset masa depan milik Garry dengan sekali tendangan yang sangat keras.
Dan kini pecahlah telor yang sudah menegang itu karena tendangan keras yang di lakukan oleh Naura. Hingga membuat Garry langsung menjerit-jerit dengan kesakitan setelah itu lelaki itu langsung terjatuh dari atas ranjang dengan mata yang masih tertutup dengan rapat. Dan, sesegera mungkin Naura dan Berlin langsung melarikan diri dalam kamar Garry melalui jendela kamar. Mereka berdua turun dari lantai atas itu dengan uraian tali yang telah mereka sediakan.
***
"Tuan muda, lihatlah. Bukankah itu Nona Berlin dan juga Nona Naura?" tanya seorang bodyguard yang sedang berada di dalam mobil bersama dengan Julian, saat sedang meneropong kediaman milik Garry. Kemudian Julian pun langsung turun dari mobilnya tersebut.
Setelah itu, teropong yang sedang di pegang oleh bodyguard itu langsung di rampas dengan kasar oleh Julian untuknya memastikan sendiri bahwa yang di katakan oleh bodyguard yang sedang mengintai itu benar sepupu dan kekasihnya.
Kini hatinya sedikit lega, saat melihat adik dan kekasih hatinya ada di depan mata. Namun, rasa cemasnya belumlah hilang, di karenakan keduanya masih dalam zona sangat berbahaya. Apalagi saat melihat adik dan kekasihnya sedang turun dari lantai dua di bangunan megah milik Garry.
Di samping itu tiba - tiba saja handphone milik Julian berbunyi, kemudian Julian langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"Tuan, bagaimana kalau kita langsung menerobos untuk langsung masuk kedalam saja. Lagi pula kita sudah bersiap pada titik-titik yang sudah di tentukan." seseorang dengan suara yang berat langsung mengajukan pertanyaan tanpa ada menyapa terlebih dahulu melalui sambungan telepon.
"Laksanakan! Dan aku akan langsung masuk dari depan!" Sahut Julian mengiyakan dengan nada tegasnya lalu kembali masuk kedalam mobil untuk mengambil senjata api miliknya.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1