Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Surat Kontrak Kekasih


__ADS_3

Sebuah Map berisikan kertas lembar HVS tersaji di hadapan Naura. Dengan manner yang baik pula, pengacara itu membuka Map itu hingga tampaklah judul besar isi dari Map itu.


"A- apa ini?" Naura terkesiap dengan mata yang membulat membaca isi yang tertulis jelas.


"Kau tidak buta huruf kan?" tanya Julian mengejek.


"Jika saya buta huruf, saya tidak mungkin mendapatkan gelar SP, B dengan susah payah!" Sahut Naura kesal.


Julian menyeringai hatinya semakin terhibur melihat Naura yang terpancing kesal.


"Kalau begitu, aku dan pengacaraku tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan, bukan?"


"Memangnya feedback apa yang akan aku dapatkan?" tanya Naura menantang.


"Kau masih ingin meminta lebih?" Julian merasa keberatan.


Naura tertawa. Perempuan cantik berhidung mancung itu langsung memasang sikap. Naura melipat kedua tangannya lalu di letakkan di bawah dada, dagu yang sedikit terangkat semakin menunjukkan jual mahalnya seorang Naura.


"Saya sadar, akan posisi saya saat ini. Tapi saya-" Naura merentangkan telapak tangan di atas dada, menunjuk dirinya sendiri. "Telah membayar Dokter Julian." rentangan telapak tangan Naura terarahkan pada Julian. "Dan Dokter Julian harus membayar saya. Rentangan tangan itu kembali ke atas dada Naura.


"Disni sudah jelas tertulis kalau saya ini adalah kekasih kontrak Dokter Julian!" Lanjut Naura dengan telunjuk kanan menghentak - hentak kertas HVS yang berisikan perjanjian tertulis dari Julian.


Julian menyeringai. Sikap Naura yang tidak mudah untuk di kelabui ini sudah terbaca di otak cerdas dokter tampan itu.


"Kau mau apa?" Julian mencoba memancing.


"Aku juga akan tulis persyaratan resmi hitam di atas putih."


Naura menarik laci meja dan mengeluarkan selembar kertas HVS yang berwarna putih yang masih suci belum ternodai tinta. Sebuah materai bernilai dua belas ribu pun juga Naura ambil dari dalam laci meja kerja.


Ya! Perempuan cantik yang ada di hadapan Julian tidak bisa di anggap remeh begitu saja. Mungkin segala pelajaran hidup yang telah di lalui menjadikan Naura sosok yang lebih kuat, lebih teliti dan lebih cerdas mengahadapi orang - orang.


Tangan yang menggenggam pena telah bergoyang, menodai kesucian kertas HVS putih itu dengan ukiran huruf - huruf yang menyatu menjadi sebuah kalimat.


"Poin pertama. Selama enam bulan menjadi kekasih kontrak, pihak pertama yaitu Alexandra Naura Morris tidak boleh mendapatkan penindasan, kekerasan, dan

__ADS_1


pemaksaan dari pihak kedua yaitu


Julian Mallory Pratama Alvarendra. Poin pertama juga berlaku dalam ruang lingkup pekerjaan." Naura membacakan tulisan tangan yang ia tulis sendiri.


"Ini penyalahgunaan aturan namanya." Julian keberatan karena merasa di curangi.


"Oh, tentu saja tidak!" Naura menggeleng - gelengkan kepalanya dengan mata yang terpejam. "Apa Dokter Julian sudah lupa? Dokter Julian bahkan meminta bagian saham milik saya lebih dari setengah. Jadi, ijinkan saya juga untuk meminta lebih dari kontrak ini. Mengingat Dokter Julian selalu galak setiap kali menjadikan saya asisten dokter dalam setiap operasi yang....."


Ucapan Naura terhenti. Lidahnya hilang kendali, hingga tanpa sadar meloloskan sebuah kata yang tak seharusnya di ucapkan.


Bibir Naura merapat. Tak ada celah sedikitpun yang terlihat dari bibir merah muda yang teroleskan lipmatte yang berwarna sendu itu. Seolah memberikan hukuman tangan, menepuk - nepuk lembut bibirnya yang nakal.


"Kau bilang aku galak?" Julian memasang wajah kejam.


"Koreksi! Saya koreksi." Naura meringis senyuman kecut. "Dokter Julian itu tegas!" Sambung Naura kemudian.


"Lanjut ke point yang kedua!" Naura langsung mengalihkan pembicaraan. "Tidak boleh sembarang menyentuh tanpa ijin!" Naura melirik tajam Julian. "Jika pihak kedua melanggar maka akan di kenai sanksi denda dari pihak yang di rugikan."


"Kau yakin?" Julian mengulas senyuman mengejek.


"Oke, semakin menarik! Lanjut ke poin ketiga!"


"Poin ketiga. Pihak kedua harus memenuhi segala kebutuhan finansial pihak pertama." Naura kembali membacakan tulisan tangannya sendiri.


"Hei Nona!" Telunjuk Julian mengetuk - ngetuk meja kerja Naura. "Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?"


"Dimana - mana yang namanya menjadi kekasih kontrak itu selalu mendapatkan biaya finansial. Di komik, novel, film, sinteron apalagi, selalu mendapatkan hal - hal yang seperti itu." ucap Naura dengan mengulas senyuman puas.


"Kau terlalu banyak menonton drama!" Julian mulai hilang kesabaran. "Kau sudah selesai kan? Sini, biar aku tanda tangani." sambungnya dengan merampas kertas di tangan Naura.


"Tunggu! Tapi aku belum selesai!"


"Hei Nona, kau harus sadar. Hargaku ini lebih tinggi daripada hargamu. Kau tahu, siapa aku kan?" Julian menyombongkan diri.


"Oke! Aku sudah cukup." Naura akhirnya mengalah, tidak mau berdebat lagi dengan lelaki angkuh yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Jika kau memasukkan lingkungan kerja dalam persyaratanmu, aku juga bisa memasukkan ruang lingkup kerja dalam kontrak yang aku buat." ucap Julian sambil menanda tangani miliknya pada kolom persyaratan yang Naura tulis. "Cepat tanda tangani kontrakku itu!" Julian mendesak.


"Tapi saya belum membaca habis. Mana boleh seperti itu, Dokter Julian."


"Tanda tangani atau aku tidak mau menolongmu!" Julian mengancam.


Naura sempat berdecak kesal, saat kedua mata menatap Lelaki yang ada di hadapannya. Ada rasa kesal bercampur yang menyatu melihat ketenangan dari Julian. Dan Naura yang tidak ada pilihan lain lagi langsung mendatangi kontrak dari Julian dan mau menjadi kekasih kontrak selama enam bulan. Lebih tepatnya sampai Naura berhasil mengambil saham kepemilikan dari Ayah kandungnya.


Julian tersenyum puas, saat melihat Naura sudah menanda tangani surat kontrak dari dirinya. Kemudian memastikan kembali tanda tangan dari Naura dan kembali membaca nama Naura yang tertulis di sana.


"Aku sudah membicarakan kasus kemarin dengan Pak Bimantara. Beliau menyerahkan kasus itu sepenuhnya kepadaku. Aku telah menyuruh seseorang untuk memeriksa kamera dashboard milik Dokter Bayu. Dan hasilnya kalian memang tidak terbukti melakukan hal yang tak bermoral itu." Julian memberitahukan hasil penelusurannya.


"Kenapa Dokter Julian percaya aku tidak melakukan hal seperti itu?" tanya Naura ingin tahu dengan kedua mata menatap tajam Julian.


"Botol minuman yang ada di tanganmu sudah menjadi jawabannya jika kamu tidak melakukan hal itu." tanpa berkedip Julian berucap.


"Hari ini kau dinas malam, kami?" Dokter Julian melirik arloji mewah yang melingkar di tangannya. "Aku juga dinas malam. Karena waktu masih panjang menginjak malam, lebih baik kita dalami peran kita dengan berkencan hingga malam nanti. Ayo, ikut denganku! Tenaga kita tak di butuhkan pagi ini."


Julian menarik pergelangan tangan Naura dengan paksa. Membawa pergi dokter cantik itu dari ruangan kerja yang menjadi saksi bisu atas perjanjian di antara mereka.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2