
"Ayah selalu diam dan tidak peduli apapun mengenai aku." suara Naura mengalun lemah penuh dengan kesedihan.
"Jangan sedih! Ada kami yang selalu ada untukmu." Marsha menenangkan Naura lewat genggaman tangan dan kata - katanya.
"Benar! Ada kami yang selalu ada untukmu, Naura. Pacar Julian juga bagian dari keluarga kita, kan?" Kiran menyambar cepat dan menimpali ucapan dari Marsha.
"Aku baru menjadi pacarnya saja, Kak. Dan belum menjadi istrinya, Julian." ucap Naura.
"Aku mengenal baik watak Julian. Sewaktu berpacaran dengan Keira pun, Julian tidak pernah mengenalkan Keira secara resmi kepada keluarga." Kiran langsung menyangkal pernyataan pesimis dari Naura yang mengesalkan hati.
"Bagaimana mau mengenalkan? Kak Julian dan Kak Keira sibuk terus di rumah sakit. Ya, maksudnya mereka itu sibuk pacaran di rumah sakit." ucap Berlin yang terpancing dan tidak sengaja menceritakan tentang masa lalu Julian dengan mantan pacarnya.
"Ssssshht!!'
"Ssssshht!!"
Kiran dan Viona serempak berdesis dengan bibir mengerucut ke arah Berlin. Memaksa si polos Berlin agar diam dan tidak lagi membicarakan hal-hal yang sensitif di masa lalu.
***
"Perempuan itu ribet!" Ucap Alvaro mengomentari para perempuan Alvarendra dan Pratama sambil menggerakkan kedua kaki.
"Itu karena dunia mereka tidak sesimpel dunia kita, Al." Bara membalas ucapan Alvaro
"Sama simpelnya jika saling mengerti dan saling memahami," Saga yang berjalan beriringan membantah komentar kedua lelaki itu.
"Aku rasa tidak. Begitu berusahanya aku untuk memahami, tapi tetap saja Marsha masih marah jika aku tidak memahami kode yang dia berikan." Alvaro kembali membantah.
"Itu karena kau tak peka! Bukankah kau lelaki yang tidak peka, Al?" Bara mengoreksi sikap Alvaro yang dengan penilaiannya
Kedua mata Alvaro tak sengaja bersirobok dengan seseorang yang sedang menatapnya tajam dari kejauhan. Namun, seseorang yang memata - matai dengan pakaian yang tertutup dan mencurigakan itu langsung lari ketika sorot mata intimidasi Alvaro terhantar dengan sempurna ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Saga membuyarkan fokus Alvaro.
"Lantai ini sudah kau sterilkan dari orang-orang yang tidak berkepentingan, kan?" tanya Alvaro tidak teralihkan dari titik yang mencurigakan.
"Sudah. Memangnya kenapa, Kak?" tanya Saga agak heran.
__ADS_1
"Lebih baik kita secepatnya susul para istri kita!" Ajak Alvaro dengan berjalan cepat lebih dulu.
Lelaki tampan bertubuh tinggi itu langsung menghampiri dua bodyguard yang berjaga di depan kamar Naura. Sejenak berbincang-bincang pada keduanya dan Alvaro akhirnya memberikan sebuah perintah yang mengundang tanya di benak Bara dan Saga.
"Memangnya ada apa, Alvaro? Kenapa tiba-tiba kau menambahkan jumlah personil untuk berjaga di depan kamar, Naura?" Bara langsung menanyakan rasa penasarannya.
"Sepertinya mereka sudah mulai bergerak. Saat aku dan Marsha ke Apartemen Naura. Aku melihat salah satu mobil milik mereka terparkir di basement milik Naura" Alvaro menjawab rasa penasaran Bara.
"Kenapa harus Naura? Lalu apa hubungannya dengan Naura?" Saga menyambar cepat.
"Entahlah. Mungkin saja mereka sudah tahu hubungan Julian dengan Naura. Lalu sengaja mengusik Naura saat Julian tidak ada di sini." Alvaro mengeluarkan pendapatnya.
"Lebih baik untuk memperketat keamanan. Aku akan mencari tahu lebih mengenai masalah ini." ucap Bara yang ikut waspada dengan kedua mata yang mengawasi di depan kamar perawatan Naura.
***
"Kita pulang sekarang." suara bariton Alvaro mengalun penuh dengan keseriusan.
"Kenapa?" tanya Marsha seolah enggan untuk mengikuti.
"Karena...." seketika Alvaro kehilangan alasan untuk berkata jujur
Tatapan Saga teralih pada istri tercintanya yang menatap penuh tanya. "Satu bodyguard
akan mengemudikan mobilmu. Kau dan Berlin di ikuti oleh satu mobil yang lainnya sebagai pengamanan."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba..."
"Si kutu busuk itu sudah bergerak!" Sela Alvaro cepat ucapan Viona
"Kutu busuk?" Viona mengulangi.
"Maksudnya si Om - Om tua itu, Kak?" Berlin ikut - ikutan.
"Gary Sanjaya?"
"Gary Sanjaya?"
__ADS_1
Marsha dan Kiran bersahutan serempak. Keduanya saling tatap sejenak lalu kembali kepada ketiga lelaki yang berdiri menyimpan rahasia. Membaca baik - baik raut wajah serius bercampur dengan rasa ketegangan.
"Lebih baik Berlin tinggal di sini untuk menemani Kak Naura." suara lembut putri bungsu Alvarendra itu memecahkan keheningan yang sesaat menyapa.
"Papa pasti akan mencarimu, Berlin!" Alvaro merasa keberatan.
"Kak Naura bagian dari kita, Kan? Meninggalkan Kak Naura di sini aku tidak mau! Kak Marsha, Kak Viona dan Kak Kiran masih punya tanggung jawabnya masing-masing. Karena di sini Berlin yang terbebas dari tanggung jawab. Karena aku yang masih single. Jadi Berlin yang akan di sini untuk menemani Kak Naura." tatapan Berlin teralihkan pada Naura sambil mengulas senyuman yang manis. "Calon Kakak Iparku," sambung Berlin bersikeras dengan keinginannya.
"Lalu, jika Papa mencarimu bagaimana? Dan kau tau sendirikan jika Gary terobsesi padamu." sahut Alvaro cepat.
"Itu urusan Kak Alvaro. Sebagai Kakak tertua sudah menjadi tanggung jawab Kak Alvaro untuk melindungi adik - adiknya." Berlin menekan Alvaro dengan rasa tak berdosa
"It's oke, Berlin. Aku bisa sendiri di sini. Lagi pula aku sudah merasa baikan." ucap Naura yang merasa tidak enak di karenakan merepotkan banyak orang dari keluarga kekasih tercintanya.
"Kau masih harus istirahat sejenak, Naura. Retakan di tulang punggungmu memang ringan. Tapi bukan berarti kau tidak mengistirahatkan tubuh sejenak." Saga menasehati sekaligus memperingati Naura yang tampaknya menyepelekan kesehatannya sendiri.
"Maka dari itu, peranku sangat di butuhkan di sini. Aku bisa menggantikan peran Kak Julian untuk membaweli Kak Naura." Berlin menyambar cepat, seolah celah dari ucapan Saga menjadi pendukung terkuat atas keinginannya itu.
"Baiklah!" Alvaro menyerah. "Aku akan cerita pada Papa mengenai kondisi Naura dan si kutu busuk itu. Bagaimana pun Papa dan Bunda harus tahu."
"Tapi, Kak...."
"Orang tua kami akan lebih marah. Jika kami para anak-anaknya tidak jujur pada mereka, Naura." Alvaro menyela cepat ucapan Naura "Dan kau sudah menjadi bagian dari kami. Jadi, sudah menjadi tanggung jawabku juga untuk melindungimu karena kau bagian dari adik sepupuku."
Alvaro membuang tatapannya setelah berucap tulus pada Naura. Lelaki bertubuh tinggi yang mengenakan stelan casual itu menutupi sisi lembut yang tidak sengaja terpamerkan.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.