Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Wanita Penggoda


__ADS_3

"Kamu yang mengadakan ini?" tanya Anin antusias dan mengabaikan Kevin yang kini duduk di hadapannya di samping Dilan.


"Iya, ini untuk di sumbangkan pada panti asuhan, agar anak-anak seperti adikku dapat hidup dengan layak" jelas Dilan dengan senyuman yang tak pernah surut dari bibirnya.


"Oh iya Aku ingin memberimu sesuatu" Anin melangkahkan kakinya mendekati lemari dan mengambil lukisan sebesar bingkai 10 R. "Ini Aku membuatkannya untukmu." Anin menyerahkan lukisan tersebut pada Dilan.


"Kenapa berlatar matahari?" Dilan memperhatikan lukisan tersebut, dimana wajahnya terlukis disana dengan latar matahari yang sangat indah.


"Karena Kamu seperti matahari, yang mampu menghangatkan orang-orang terdekatmu dengan perhatianmu yang tulus" jawab Anin penuh senyuman, namun Ia tidak menyadari tatapan Pria dihadapanya.


Oma Jelita sangat menikmati pemandangan yang begitu menyenangkan baginya, raut wajah kemarahan yang terpancar dari wajah cucunya, tanpa bisa berkata apa-apa kerena gengsinya yang sangat tinggi.


"Oma tidak bisa menghadiri lelang amal itu Dilan" Oma Jelita diam sebentar dan mengembangkan senyumnya. "Jadi Kevin akan pergi dengan Anin"


"Ak....Aku?" tanya Anin gugup.


"Kenapa?" tanya Kevin dan Anin kompak.


"Kenapa mas Kevin tidak pergi dengan Ans saja?" protes Anin.


"Apa Kamu ingin melihat Ans berdandan seperti seorang wanita?" Oma Jelita tertawa membayangkan Ans berdanda seperti wanita.


"Kamu tidak ingin pergi bersamaku?" kini Kevin angkat bicara walaupun dengan nada ketus.


"Bu....bukan itu maksudku, mas Kevin kan pernah bilang, tidak ada yang boleh tahu tentang pernikahan Kita" ucap Anin lirih.


Kevin terdiam mendengar penuturan Anin, Ia benar-benar menyesali perkataannya dulu, Ia benar-benar lupa bahwa wanita adalah mesin pengingat yang sangat ampuh, mau itu hal membahagian atau hal menyakitkan wanita akan selalu mengingatnya.


"Kalau begitu Kamu pergilah dengan Dilan" pinta Oma jelita.


"Tidak, Anin akan pergi bersamaku" ucap Kevin dan berlalu pergi.


Setelah berbincang cukup lama, Dilan pamit pulang, sementara Anin tengah mengobrol dengan bibi Ajeng di ruang tengah.


Bibi Ajeng memperlihatkan koleksi barang-barang antik keluarga Adhitama, menceritakan satu persatu kisah barang antik tersebut. Hingga Anin tertarik pada satu benda.


"Bisa Aku minta pulpen itu bibi" Anin meminta pulpen yang tengah di pegang bibi Ajeng.

__ADS_1


"Tentu saja" bibi Ajeng memberikan pulpen tersebut.


"Bibi Anin kesana dulu ya" pamit Anin dan melangkahkan kakinya kembali keruang melukis untuk menemui Oma jelita.


"Oma Aku sudah menemukan apa yang akan Aku bawa untuk pelelangan." Anin dengan penuh senyuman.


"Apa yang akan Kamu bawa?" Oma Jelita menghentikan pekerjaannya dan menatap cucu menantu kesayangannya.


"Aku ingin membawa lukisan yang Anin buat sendiri Oma" Anin memperlihatkan lukisan pemandangan yang sangat indah pada Oma Jelita.


"Anin apa yang ingin kau bawa itu? ingat Kamu itu akan mewakili Adhitama Grub, masa Ia membawa lukisanmu itu" tanpa sadar bibi Ajeng mengelurkan kata-kata yang begitu menyakitkan.


"Anin kenapa Kamu begitu percaya diri ingin membawa lukisanmu? dasar bodoh" batin


"Bibi benar, Aku lupa akan mewakili Adhitama Grub" ucap Anin menundukkan kepalanya.


"Ajeng apa yang Kamu katakan? lukisan Anin itu sangat cantik" ucap Oma Jelita. "Bawalah lukisan itu jika Kamu mau!" Oma Jelita mengelus kepala Anin dengan lembut.


"Tidak Oma, yang dikatakan Bibi Ajeng ada benarnya, Aku berpikiran dangkal tanpa mempertimbangkan yang lainnya."


Bibi Ajeng mengembangkan senyumnya "Maaf kan bibi ya, Bibi tidak bermaksud menyinggungmu, bibi percaya dengan penilaian Oma, jadi jangan kecewakan penilaiannya"


Hari ini adalah hari dimana pelelangan akan di gelar. Tari dan Dewi bertugas menjaga meja resepsionis untuk mengabsen sumua orang yang datang ke acara tersebut.


Tari benar-benar risih dengan kelakuan Dewi yang sangat kegatelan saat seorang pria datang mengabsen kehadiran.


Selalu merebut apapun yang akan dilakukan Tari jika itu bersangkutan dengan pria mapan.


"Aku sangat lelah setelah begadang semalaman hanya untuk acara ini, tapi Aku tidak menyangka ada seseorang yang begitu bersemangat." sindir Tari.


"Tentu saja Aku sangat bersemangat, acara ini adalah tempat yang sangat pas untuk mencari batu loncatan agar bisa terbang lebih tinggi" Dewi senyum sini menangapi sindiran Tari.


"Hah Kamu seperti petasan saja yang ingin terbang tinggi, apa Kamu ingat petasan tak selamanya terbang tinggi, ada juga yang meledak sebelum mencapai ketinggian" Tari senyum sinis.


"Anin saja yang dulunya asisten administrasi, bisa mencapai posisi sekretaris Direktur utama setelah menggoda Tuan Kevin, kenapa Aku tidak bisa" jawab Dewi.


Tari sangat geram mendengar Dewi mengatai temannya wanita menggoda. "Kau........" Tari tak melanjutkan kata-katanya saat melihat seorang pria dengan setelan jas berwarna silver berdiri dihadapannya, mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Dengan sigap Dewi melayani Pria tersebut, memberikan pulpen dengan gaya mengodanya, namun pria itu tidak menangapi kelakuan Dewi yang begitu menjijikkan baginya, yang Ia perhatikan hanya wanita di sebelahnya yang masih diam mematung dengan cemberut.


Setelah mengabsen kehadirannya, Pria tersebut melambaikan tangannya, menyuruh Tari untuk mendekat, karena tidak ingin ada perdebatan Tari nurut saja.


"Aku mengubah jadwal kencang Kita menjadi malam ini, jadi persiapkan dirimu" Pria itu menyeringai membuat tubuh Tari meremang.


Pria tinggi berbadan kekar menghampiri mereka bertiga "Apa Anin sudah datang" tanya Kevin.


"Belum Tuan" jawab Ans yang lebih dulu ada di sana.


Sementara yang di tunggu masih dalam perjalan bersama Dilan, Anin menolak di jemput oleh Kevin dengan alasan tidak ingin identitas pernikahan mereka diketahui banyak orang.


"Apa Kamu sedang ada masalah?" Dilan membuka suara setelah lama terdiam.


"Tidak, Aku baik-baik saja"


"Biasanya pengantin baru itu akan sangat bahagia, apa lagi jika sedang mengandung seperti ini, seperti gelas yang telah di penuhi madu, yang tidak dapat di tutupi kemanisannya." jelas Dilan masih fokus menyetir.


"Tapi yang Aku lihat, Kamu seperti seseorang yang telah memakan sepiring pare, seperti menunggu perceraian saja" kekeh Dilan.


"Memang itu sangat telihat ya di wajah ku?" Anin diam "Tunggu apa Kamu tahu tentang perceraianku?" kini Anin menatap Dilan dengan tatapan menyelidik.


"Apa Kamu ingat saat Kita bertemu di supermarket? waktu itu Aku mengembalikan dokumen yang Kamu lupa di salah satu rak, karena ingin mengetahui siapa pemiliknya, Aku membuka dokumen tersebut yang isinya adalah perjanjian perceraian."


"Ah ternyata Kamu sudah mengetahui semuanya, atau mungkin karena itu Kamu bersikap baik padaku? karena Kamu mengasihaniku?" Anin mengalihkan wajahnya keluar jendela mobil.


"Tidak, Aku tidak pernah mengasihanimu, Aku bersikap baik padamu karena Kamu adalah temanku" Dilan menatap Anin sekilas dan tersenyum.


"Sebenarnya Aku tidak sanggup memendam semua ini sendiri, tapi Aku juga tidak tahu harus menceritakannya pada siapa, Aku takut menceritakan semua ini pada Tari karena Dia mudah emosi, dan juga tidak ingin menceritakannya pada Ibuku, takut Dia akan bersedih." curhat Anin sendu.


"Kalau begitu...............


-


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2