Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Kamar Hotel


__ADS_3

"Tapi aku ada syarat yang harus kau penuhi." Kiran mengajukan negosiasi dengan Bara.


"Katakanlah..." sahut Bara cepat.


"Aku akan kembali ke dunia entertainment. Aku akan kembali kedunia catwalk. Jadikan aku ambasador dari brand yang sudah kau tanda tangani kontrak dengan Celina." Kiran menebalkan mukanya saat menyatakan permintaan dari dirinya.


"Semua?" Bara memastikan seolah akan menyanggupinya.


"Ya! Semuanya!" Jawab Kiran cepat.


"Apa ada lagi?" tanya Bara lebih lanjut.


Bibir Kiran tertutup sejenak. Dadanya naik turun seolah mengatur pernapasan.


"Aku tidak mau melakukannya di rumah atau Apartemenmu!" Dengan tertunduk Kiran menyatakan permintaan yang selanjutnya.


"Kenapa?" Bara menyeringai.


"Aku... aku tidak mau naik ke ranjang yang sudah di sentuh oleh perempuan lain." Kiran menggigit kecil bibir bawahnya yang bergetar.


"Jadi, kau mau kita melakukannya di hotel?" tebak Bara dengan sempurna.


"Presidential suite room dari Four Seasons Hotel. Kau pasti sanggup untuk memesan kamar semalam di hotel itu, kan?"Kiran mengumpulkan keberaniannya menentukan tempatnya.


"Berpakaian yang seksilah untuk malam nanti. Supirku akan menjemputmu tepat pukul delapan malam." Bara mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Kiran.


...***...


"Apa? Bagaimana? Tidak mungkin mereka menggantikan aku dengan orang lain begitu saja? Kontrak sudah di tanda tangani. Kita bahkan telah menjalani setengah dari pemotretan!"


Celina berang, ketika menerima kabar buruk yang menimpa dirinya sore itu. Aktris yang terduduk di atas ranjang tidur dengan dirinya menutupi tubuh polosnya menggunakan bed cover itu terperangah saat mendengar kehancuran karirnya dari laki - laki yang baru saja bergelut panas bersama dirinya di atas ranjang yang sama.

__ADS_1


Popularitas, pundi - pundi uang yang masuk kedalam rekening Celina terbang melayang entah kemana tanpa aktris cantik itu bisa ketahui.


"Bisa, jika Tuan Bara yang melakukannya!" Jawab Awan dingin. "Apalagi kesalahan yang kau buat, Celin? Sudah aku katakan beberapa kali, agar tidak melakukan kesalahan yang mengundang kemarahan penopang kita di dunia hiburan ini!" Sambung Awan, manajer Celina dengan kesal.


"Kenapa kau menyalahkan aku?" bentak Celina tidak terima di salahkan. "Aku sudah mati - matian untuk menjadi perempuan yang baik di matanya.


"Lalu kenapa dia bisa sampai semarah ini?" Awan balik membentak. Kedua mata Awan yang memerah memincing kearah Celina tajam. "Apa kau itu tak memuaskan Tuan Bara hingga dia kini mencampakkan mu? Apa yang aku ajarkan tak bisa kau praktekkan dengannya? Hah!"


"Sudah berapa kali aku katakan padamu, aku itu sudah mati - matian merayunya bahkan repot - repot membuntutinya. Tapi, dia tidak mau aku sentuh. Aku bahkan sampai merendahkan diriku agar bisa tidur di Apartemennya. Lidahku juga berkata - kata bagaikan ****** yang haus akan belaian. Tapi laki - laki itu...." ucapan yang keluar dari mulut Celina seketika terhenti saat terlintas suatu pikiran yang ada di kepalanya.


Lidah di dalam mulut Celina yang menganga kecil seketika membeku. Kelu dan tak mampu untuk merangkai kata. Mulut yang menganga kecil itu pun akhirnya tertutup rapat lalu menelan saliva dalam - dalam.


"Aku tahu penyebab Bara berubah seperti ini?" ucap Celina pelan. "Dia pasti sudah kembali. Ya! Dia pasti sudah kembali. Karena itu Bara berubah, dan langsung mencampakkan aku begitu saja."


Celina akhirnya menyadari kehadiran seseorang yang menggeser posisinya. Aktris cantik itu sudah tahu betul, siapa yang sudah bisa merubah Bara hingga membuat Celina geram namun tak bisa berkutik.


Kedua mata Celina memerah, dan terasa panas. Tangan yang menahan bed cover putih di tubuh polosnya meremas kuat - kuat bed cover putih itu. Seketika Celina di selimuti oleh amarah yang membakar hati hingga tertoreh dendam di sana.


"Aku tidak tahu apa yang kau ucapkan saat ini." Awan turun dari ranjang tidur. "Tapi, malam ini aku tidak akan kembali karena Bos memanggilku ke kantor dan menyelesaikan masalah ini.


...***...


Kiran menarik napas sejenak ketika kedua kaki yang mengenakan heels hitam terhenti tepat di depan kamar hotel. Dua bodyguard yang mengantarkan dirinya ke depan kamar hotel telah berbalik badan meninggalkan Kiran yang sesuai dengan perintah dari Bara.


Dengan cara yang lembut, helaan napas keluar dari mulut Kiran yang menganga kecil. Perempuan cantik yang mengenakan strapless dress berwarna navy itu begitu tampak tegang.


Kecantikan Kiran sungguh sangat memukau kedua mata. Perempuan cantik itu memenuhi permintaan Bara untuk terlihat seksi. Kiran sengaja memamerkan kulit bahu dan tulang selangkanya yang indah. Kiran begitu elegan dengan kalung silver minimalis yang menyempurnakan penampilannya.


Tombol bel sudah di tekan. Bunyinya langsung terdengar dan memanggil Bara yang sudah menanti kehadiran Kiran di dalam kamar hotel. Laki - laki tampan yang mengenakan tuxedo dengan warna navy yang sama itu membuka daun pintu, lalu menyambut Kiran dengan senyuman manisnya.


"Cantik," puji Bara yang terdengar tulus.

__ADS_1


"Bolehkah aku masuk sekarang?" tanya Kiran dengan wajah yang gelisah dan tidak mau membalas tatapan Bara.


"Sungguh tidak sabaran," cibir Bara dengan senyuman yang menjengkelkan.


Kiran masuk kedalam Presidential suite room sesuai dengan permintaan dari dirinya. Kedua kaki yang menapaki lantai granit berkualitas itu terhenti. Seketika tertanam dan berakar kedalam lantai. Jemari Kiran yang menggenggam clucth bag menjadi gelisah.


"Bar... Bar.... apa yang kau lakukan?" dengan terbata Kiran menanyakan apa yang kedua matanya lihat.


"Kita isi tenaga dulu sebelum pada acara puncaknya." Bara menyeringai.


Lengan Kiran di tarik oleh tangan Bara dengan gerakan merayap yang menggoda jemari Bara turun ke telapak Kiran lalu menggenggam tangannya.


Kini Kiran sudah tersihir oleh suasana kamar yang di rubah sedemikian hangat oleh Bara. Kesadaran Kiran terhipnotis hingga tidak mampu di kuasai. Tanpa adanya pemberontakan dari Kiran yang mengikuti langkah Bara yang menuntunnya ke sudut ruangan yang lain.


Sepasang mata berbola mata cokelat tua Kiran semakin tersihir oleh sudut ruangan yang tersajikan makan malam untuk mereka berdua menikmati.


Bara menyulap sudut ruangan itu menjadi nuansa candle light dinner romantis yang di persembahkan untuk perempuan kesayangannya. Sebuah red carpet dengan taburan kelopak mawar merah terbentang panjang menuju ke arah meja yang sudah di tata secantik mungkin.


"Sebenarnya apa yang kau rencanakan, Bar?" tanya Kiran pelan.


"Bisakah kita makan dulu?" pinta Bara yang setengah memaksa.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2