
"Kau mau pergi?" tanya Marsha memergoki Alvaro di walk in closet pakaian lelaki tampan itu.
"Ah iya, Om Bara mengundangku dan Saga." Alvaro menjawab singkat. Tangannya masih sibuk mengaitkan anak kancing ke kemeja yang di kenakan.
"Kemana?" tanya Marsha semakin posesif.
"Kenapa, Baby? Tak seperti biasanya kau menginterogasi ku seperti ini?" Alvaro sekilas melirik arah Marsha.
"Apakah ke club malam?" Marsha mencoba menebaknya.
Jemari Alvaro sudah selesai mengaitkan anak kancing di kemejanya. Dan tatapannya langsung terarah pada Marsha yang masih menunggu jawaban dari lelaki tampan yang bertubuh tinggi itu.
Bibir Alvaro menipis, sebuah senyuman manis terulas ketika kedua langkah kaki menghampiri istri tercintanya itu.
"Kenapa?" tanya Alvaro penasaran.
"Jawab saja!" Jawab Marsha ketus.
"Om Bara mengundang kami ke Lion club, club yang biasa kami kunjungi. Julian juga di undang dan saat ini mungkin baru saja mendarat di kota B. Ya, tentang permintaan maaf Om Bara pada Kiran." Alvaro dengan lembut memberitahukan undangan dadakan dari Bara.
"Lalu? Apakah kau akan pulang pagi?" tanya Marsha bagaikan seorang pengadil terhadap terdakwa.
"Baby....." tangan Alvaro mencengkram lembut bahu Marsha. "Ada apa? Apa ada yang ingin kau katakan?"
"Hmmm...., tidak ada!" jawab Marsha gugup, kelopak matanya mengerjap - ngerjap. "Aku hanya ingin bertanya saja, agar nantinya tidak menunggumu."
"Kau yakin?" Alvaro kembali memastikan.
"Pergilah! Aku mengantuk dan mau tidur!" Marsha langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Alvaro yang masih bertanya-tanya akan sikap Marsha.
Sikap Marsha yang agak berbeda. Seolah - olah sedang menyembunyikan suatu hal dari lelaki tampan itu. Sempat terbesit keinginan di hati untuk menyusul Marsha dan membujuknya. Namun, keinginan dari Alvaro tak terealisasi di karenakan ponsel miliknya yang berbunyi.
...***...
"Kau dimana?! Aku sudah sepuluh menit menunggu kedatanganmu!" Geram kekesalan Julian pada supir yang menjemputnya di bandara.
"Sebentar lagi saya sampai, Pak Dokter? Tunggu saja. Tidak sampai lima belas menit lagi saya sudah sampai," ucap lelaki yang menjemput Julian.
__ADS_1
Suara lelaki itu terdengar samar - samar. Seperti ada suara gemuruh angin yang meributkan.
"Kenapa berisik sekali? Kau naik apa untuk menjemputku?" kembali Julian menggeram. Seluruh tubuh yang sudah di selimuti oleh rasa kesal berbalik sembarangan tanpa melihat keadaan sekitar.
Bugh.
"Awwwh....!" Erangan suara seorang perempuan yang tak sengaja tertabrak oleh Julian.
Kedua mata Julian terbelalak melihat perempuan itu jatuh ke atas lantai. Koper yang tadi di geret oleh perempuan itu pun ikut terjatuh ke atas lantai tak jauh dari pemiliknya.
Sontak saja Julian langsung memutuskan sambungan panggilan telepon itu tanpa ada memberitahu terlebih dahulu. Dengan di landa rasa bersalah, Julian berinisiatif ingin menolong perempuan yang tak sengaja di tabrak olehnya tadi.
"Jangan sentuh aku!" Tolak perempuan itu secara mentah - mentah.
"Aku hanya ingin menolongmu!" Sahut Julian dengan nada yang agak meninggi
"Tapi aku nggak mau di tolong sama kamu! Cepat minggir! Aku bisa berdiri sendiri!" Jawab perempuan itu angkuh.
Julian terperangah bahkan mulutnya menganga kecil. Kebaikan hati yang jarang Julian tawarkan pada orang asing langsung di tolak mentah-mentah oleh perempuan yang sedang mengutip koper miliknya.
Rambut golden brown dengan panjang melebihi bahu. Tubuh semampai dengan kulitnya yang seputih susu. Sepasang mata yang tak terlalu besar, memiliki kelopak mata yang indah dan bulu mata yang melentik alami. Pipi chubby yang terbalutkan blush on merah muda tipis di tambah dengan gigi kelinci yang sama. Perempuan yang Julian tabrak begitu tak asing di kedua mata lelaki yang mengenakan kaos hitam polos dengan celana jeans berwarna dark blue.
"Nona, sepertinya kita pernah bertemu?" tanya Julian yang mencuri perhatian perempuan itu.
"Jangan sok kenal, ya!" Lagi - lagi perempuan itu menjawabnya dengan angkuh. "Lain kali, kalau mau jalan tuh lihat - lihat, dong? Mata Anda itu di gunakan untuk melihat, bukan? Dan bukannya untuk jelalatan tak jelas!" Sambungnya menasehati kesal.
Perempuan cantik yang mengenakan kaos putih slim fit di padukan dengan jeans yang berwarna biru medium dengan aksen sobekan pada bagian paha itu terlihat begitu kesal di tabrak oleh Julian. Apalagi sikap Julian yang merasa mengenali dirinya di anggap sebuah rayuan kacangan untuk dekat dengannya. Perempuan cantik itu menggeret kembali koper miliknya dengan sorot mata yang tajam saat berselisih papas dengan Julian.
"Dia sepertinya perempuan aneh yang pernah aku tabrak dulu?" gumam Julian yang teringat pada sosok perempuan itu. (Pas di episode 86 ya maksudnya Pak Dokter itu.)
"Pak Dokter! Pak Dokter!" Teriak seorang pria yang mencuri perhatian Julian.
Lamunan Julian buyar, terpecahkan oleh teriakan seseorang yang ia kenal. Seseorang yang tadi kena amukan kemarahan dari Dokter tampan itu.
"Lama! Dan gara - gara kau, tadi aku kena......"
"Maaf Pak Dokter!" Sela seorang yang bernama Frans itu cepat.
__ADS_1
"Sudahlah! Dimana mobilnya?" Julian malas memarahi Frans, sopir pribadi yang menjemputnya.
"Maafkan saya, Pak Dokter. Di karenakan jalanan yang macet dan situasi yang terburu - buru saya enggak naik mobil ke sini." dengan meringis senyuman, Frans menjawab pertanyaan dari Julian.
"Lalu? Kau kesini naik apa?" tanya Julian yang semakin penasaran. Di dalam benak Julian mulai menebak - nebak kendaraan yang dinaiki oleh sopir pribadinya.
"Saya.... saya.... saya tadi naik motor sport milik Pak Dokter." dengan terbata - bata Frans menjawab rasa penasaran Julian. "Dari pada saya semakin telat menjemput Pak Dokter dan saya....".
"Sudah, sudah! Lebih baik antarkan saya ke Lion Club!" Sela Julian cepat dengan suasana hati yang malas dan berdebat panjang.
...***...
Kesepuluh jemari Alvaro meremas kasar kerah kemeja Bara. Tatapan kedua mata begitu tajam, berapi - api sehingga ingin segera menghanguskan Paman mudanya yang masih santai menyikapi sikap arogan dari Alvaro.
"Sudah, sudah. Mau marah pun tak ada gunanya, Kak Al! Karena Kiran sendiri yang sudah mengaku dan menerima lamaran dari Om Bara. Kita mau bilang apa?" Saga menginterupsi guna menenangkan emosi dari Alvaro.
Alvaro mendengar dan menuruti perkataan Saga. Lelaki tampan bertubuh tinggi itu langsung melepaskan cengkraman tangannya hingga kusutlah kemeja yang Bara kenakan.
"Kau buat dia menangis lagi, aku tak akan segan - segan untuk mengahajarmu!" Geram Alvaro dengan nada yang mengancam.
"Dan jika Paman Elvano tahu kak Alvaro mengancam dan berkata tak sopan pada Om Bara, aku akan bisa melihat pertunjukan gratis lagi saat Paman Elvano yang akan menghajar Kak Alvaro!"
"Diam kau, Saga!" Alvaro memarahi balik adik sepupunya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1