
"Tentu saja Kamu harus tahu itu, jika sewaktu-waktu Ibumu menanyakan itu Kamu bisa menjawabnya dengan tenang"
"Aku tidak butuh kontrak seperti ini, jika Ibuku menanyakan hubungan Kita, Aku bisa bilang Kita sudah putus" ucap Ans santai.
"Dan setelah itu Kau akan dipaksa menikah dengan wanita pilihan Ibumu, dan jika Ibu menanyakan perihal putusnya hubungan Kita, Aku akan menjawab bahwa Kamu tidak pernah perhatian padaku, selalu kasar padaku" Tari berekspresi sesedih mungkin menghayati kata-kata terakhirnya, setelah itu Ia tertawa melihat ekspresi Ans.
"Jika tidak ada lagi silakan ditandatangani" Tari memberikan pulpen pada Ans. Ans segera menandatangani kontrak tersebut demi kebebasannya.
...****************...
"Apa Ibu harus pergi ? apa tidak apa-apa jika Ibu pergi sendirian?" Ajeng terus merangkul tangan ibunya hingga tiba di samping mobil yang terparkir di depan rumah mewah tersebut.
"Aku hanya pergi liburan sekalian mengecek anak perusahaan disana" Oma Jelita masuk ke dalam mobil setelah salah satu pengawal membukakan pintu.
"Anin sudah siapkan obatnya, jangan lupa diminum Oma" ucap Anin yang juga mengantar Oma Jelita.
Oma Jelita menatap Anin dengan tatapan tidak tega, Ajeng yang menyadari tatapan ibunya segera membuka suara "Ibu tidak usah khawatir, Aku akan menjaga Anin" Ajeng merangkul Anin memperlihatkan pada ibunya bahwa Anin akan baik-baik saja selama bersamanya.
"Iya Oma ada Bibi aja yang akan menjagaku" ucap Anin senyum.
Setelah kepergian Oma Jelita, Anin kembali ke kamarnya berniat untuk istirahat, namun saat memejamkan mata ponselnya berdering, dengan sigap Anin menjawab panggilan tersebut.
Setelah cukup lama berbagi cerita dengan ibunya, Anin memutuskan ke rumah sakit untuk menemui dokter Rangga. Anin menunggu cukup lama hingga dokter Rangga tidak sibuk lagi.
"Ada apa Nona Anin ingin menemuiku?" tanya Dokter Rangga.
"Saya ingin menanyakan tentang baby blues syndrome dokter" jawab Anin setelah berada di dalam ruangan dokter Rangga.
"Mayoritas wanita mengalami beberapa gejala baby blues setelah melahirkan, hal ini dipicu oleh perubahan mendadak dalam hormon setelah melahirkan, seperti stres, terisolasi, kurang tidur, dan kelelahan. umumnya gejala ini berawal dalam beberapa hari pertama setelah melahirkan, puncaknya sekitar 1 minggu dan menurun pada akhir postpartum Minggu ke-2" jelas dokter Rangga menerangkan secara rinci.
"Apa baby blues syndrome itu berbahaya dokter?" tanya Anin Setelah lama terdiam.
__ADS_1
"Selama tidak mendapatkan tekanan yang berlebihan itu tidak akan berbahaya" jawab dokter Rangga.
"Tidak usah takut, tidak semua wanita mengalami nya." ucap dokter Rangga setelah lama terdiam. "Kenapa Nona Anin menanyakan itu?" lanjut dokter Rangga.
"Saya hanya ingin mengetahuinya dokter" jawab Anin. "Terima kasih Dokter atas waktunya, kalau begitu Saya pamit dulu." Anin menyalami dokter Rangga dengan sopan dan keluar dari ruangan tersebut.
...****************...
"Mendapatkan tekanan karena harus berpisah dengan bayi ku, hari itu juga setelah Aku melahirkannya. Apa Aku akan mengalami baby blues syndrome setelah itu? Anin itu tidak akan terjadi padamu percayalah" batin Anin bermonolog.
Memikirkan kehidupan setelah melahirkan, meninggalkan keluarga yang begitu mencintainya, anak yang baru saja dilahirkannya membuat Anin begitu sedih.
Anin mengelus perutnya yang mulai membesar "Aku akan menyayangimu selama Kita masih bersama, maafkan Ibu karena tidak bisa merawatmu setelah Kamu lahir ke dunia nak" Anin mengambil sebuah buku kecil di dalam lemarinya, menggoreskan tinta di setiap lembarannya mencurahkan seluruh isi hatinya.
"Anakku kemarin Ayah membawa Ibu belanja dan membeli banyak baju. Terima kasih karena telah datang ke kehidupan Ibu, sejak kecil Ibu tidak pernah mempunyai harapan yang begitu besar, Ibu hanya menginginkan keluarga yang bahagia. Anakku terima kasih karena telah mewujudkan impian ibu, ibu benar-benar sangat bahagia. Tapi Ibu meminta maaf karena tidak bisa menemanimu beranjak dewasa, tapi percayalah bahwa Ibu sangat mencintaimu." tak terasa air mata Anin jatuh begitu saja membasahi pipinya."
"Betapa indahnya jika Ibu bisa berada di dekatmu, menemani mu bermain mungkin rasanya sangat menyenangkan. Menemanimu bermain dan menyuapimu makan, Tapi maafkan Ibu, Ibu tidak bisa melakukan itu. Hari dimana Kamu dilahirkan ibu harus pergi meninggalkanmu, memberikanmu pada ayah dan juga Oma, ibu mohon jangan membenci Ibu, sudah cukup rasa sakit karena harus meninggalkanmu, jangan tambah beban ibu dengan membenci Ibu. Percayalah Ibu meninggalkanmu demi kebahagiaanmu, dengan Kamu tinggal dengan ayahmu hidupmu akan lebih bahagia."
"Aku akan mempergunakan waktuku dengan baik, melimpahkan kasih sayang pada suami dan keluargaku, agar tidak ada penyesalan bagiku jika meninggalkan rumah dan keluarga ini." Anin memperkuatkan tekadnya untuk satu hal ini, walaupun ia sangat yakin suaminya tidak akan pernah Mencintainya.
Sementara di tempat lain Kevin menghabiskan waktu istirahatnya dengan teleponan dengan Anna.
"Apa Kamu menyukai anak kecil ?" tanya Kevin dengan harapan yang sangat besar,
"Tentu saja Aku sangat menyukai anak kecil, tapi Aku sudah mengatakan padamu bahwa Aku belum ingin punya anak."
"Kenapa Kamu tidak ingin punya anak?" gurat kekecewaan sangat terlihat di wajah Kevin, bagaimana tidak, wanita yang ia cintai tidak menginginkan seorang anak, padahal sebentar lagi ia akan mempunyai anak.
"Aku masih ingin menikmati hidupku dan berkarir, Aku belum ingin terikat dengan anak kecil" jelas Anna membuat Kevin semakin kecewa.
"Begitu ?" ucap Kevin datar.
__ADS_1
menyembunyikan raut wajah kekecewaannya.
"Hei kenapa Kamu malah membahas anak, padahal Kita belum juga menikah" protes Anna.
"Kan bisa direncanakan sebelum menikah" Kevin dengan raut wajah biasa saja.
"Tapi Aku tidak masalah jika suatu saat nanti Kita menikah dan dikaruniai anak secepatnya, mungkin akan sangat lucu jika Aku mempunyai Anna kecil" ucap Anna dengan raut wajah bahagia membayangkan dirinya mengajari anaknya menari.
"Sayang Aku......"perkataan Anna terhenti
"Tuan Kevin gawat Nona Anin" Ans tidak melanjutkan perkataannya saat Kevin mengangkat tangannya.
"Sudah dulu ya" Kevin langsung memutuskan sambungan teleponnya, takut terjadi apa-apa pada Anin, apalagi saat melihat ekspresi khwatir Ans.
"Ada hal penting apa yang membuat Kevin memutuskan sambungan teleponnya begitu saja, tidak biasanya dia seperti itu" Anna merasakan hal aneh pada perubahan Kevin belakangan ini, apalagi saat mendengar temannya yang mengatakan bahwa dia bertemu dengan Kevin bersama dengan seorang wanita di sebuah Mall khusus ibu dan anak, bahkan Kevin mengatakan pada temannya untuk menyembunyikan pertemuannya di mall.
"Rapatnya sampai disini dulu, siapkan diri kalian Kita akan lembur malam ini." ucap Kevin dan menatap tajam kearah Ans. Ans yang mendapatkan tatapan itu dan menyadari kesalahannya hanya cengengesan.
Kevin mendengus kesal "Kenapa Kamu tadi menyebut nama Anin dengan ekspresi khawatir hah?" bentak Kevin menyandarkan punggung kokohnya ke sandaran kursi kebesarannya.
"Bagaimana lagi, hanya itu satu-satunya cara agar bisa membuat Anda menghadiri rapat tanpa menyuruh Saya menundanya, karena sibuk dengan Anna" Ans tergelak karena berhasil mengerjai atasannya, kini Dia menemukan kelemahan Tuannya.
"Cepatlah pergi...........
-
-
-
TBC
__ADS_1