Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Liburan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam di dalam pesawat, akhirnya mereka sampai juga di bandara Gusti Ngurah Rai. Kevin mengandeng tangan sang istri keluar dari bandara untuk menemui sopir yang sedang menunggunya di parkiran.


"Sayang Kamu maunya kemana? mau cek in hotel atau kepenginapan yang di kelola kak Rara?" tanya Kevin setelah mereka berada di dalam mobil.


"Kita ke penginapan kak Rara saja mas, Aku sudah rindu pada jack." Anin menyandarkan kepalanya dengan manja di pundak Kevin, sementara Kevin terus mengengam tangan sang Istri. "Mas penyakit Aku kambuh ya tadi? apa Aku menyakiti mas Kevin?" Anin mengangkat kepalanya menatap wajah sang Suami yang sedang memejamkan matanya.


"Kamu tidak menyakitiku sayang, Kamu bahkan mengodaku dan memelukku itulah kenapa tadi Aku menepikan mobilnya agar bisa membalas pelukanmu" bohong Kevin yang tidak ingin Anin merasa bersalah pada dirinya, Kevin tidak ingin jika wanitanya sampai bersedih.


"Mas Kevin nga bohongkan?" tanya Anin masih menatap wajah tampan Suaminya belum juga membuka matanya.


"Buat Apa Aku bohong sayang?" Kevin mengecup bibir Anin. "Aku malah senang tadi karena Kamu bersikap manja dan agresif padaku" kilah Kevin mengedipkan matanya mengoda sang Istri. "Andai saja dalam keadaan sadar Kamu bisa se agresif itu dan mengeluarkan apa yang Kamu pendam selama ini" Kevin memalingkan wajahnya keluar jendela tidak ingin Anin melihat kesedihannya.


"Apa benar Kamu selama ini membenciku? apa selama ini Kamu memilih bersamaku karena merasa kasihan padaku yang terlalu mengemis cintamu?" batin Kevin.


"Kok mas mau sih sama Aku? apa mas Kevin tidak malu mempunyai istri gangguan mental sepertiku?" tanya Anin tiba-tiba dan itu membuat dada Kevin bergemuruh hebat. "Mas kok Diam sih" Anin mengoyangkan lengan kekar Kevin yang sedang di peluknya karena sang empunya lengan tak kunjung menjawab pertanyaan, dan Anin tidak tahu bahwa Kevin senang menahan kekesalannya karena Anin bertanya seperti itu.


"Anin Aku tidak peduli itu, mau Kamu punya kelebihan ataupun kekurangan, atau penyakit apapun itu, Aku tidak peduli."Kevin mengusap wajahnya kasar dan bebicara dengan nada selembut mungkin walau sangat kesal.


"Kenapa Kamu malah menanyakan hal bodoh Anin." batin Anin saat menyadari Kevin kesal karena memanggilnya dengan nama bukan sebutan sayang lagi.


"Terimakasih mas, karena mau menerimaku apa adanya, Aku mencintaimu"


Cup satu kecupan mendarat dibibir Kevin, dan Kevin tidak menyia-nyiakan itu, Kevin menahan tengkuk Anin dan memperdalam ciumannya, menyesap habis bibir mungil Anin yang begitu mengoda baginya.


"Mhasss" Anin mendorong tubuh Kevin saat akan kehabisan nafas. "Malu tau di liatan pak sopir" gerutu Anin menundukkan kepalanya.


"Bapak lihat apa tadi?" tanya Kevin mentap tajam pada sopir lewat spion.


"Saya tidak melihat atau mendengar apapun Tuan" sopir itu mengelangkan kepalanya.

__ADS_1


"Tuh Kamu dengan sendirikan? pak sopirnya nga dengar dan melihat apapun, jadi mau di lanjut tidak?" Kevin menyeringai.


"Nga ah, nanti kayak kemarin-kemarin lagi, di tinggal begitu saja" ucap Anin begitu menusuk di hati Kevin. Pasalnya belakangan ini, Kevin sering membuat Anin bingung dengan sikapnya, Kevin akan membuatnya terbang ke awan, namun saat sudah terbakar gairah, Kevin akan meninggalkannya begitu saja.


"Maafkan Aku sayang, Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa, Aku berjanji akan melakukan apapun untuk membuatmu sembuh dari penyakit yang Kamu derita. Maafkan Aku juga karena belum bisa memberitahumu yang sebenarnya, tapi Aku janji akan menjelaskannya saat waktunya sudah tepat." batin Kevin.


Kevin berusaha menguasai dirinya agar tidak terlihat banyak pikiran di depan sang Istri. "Ya maaf sayang nga lagi deh, janji" Kevin mengembangkan senyumnya dan kembali memeluk tubuh Istrinya.


"Maaf Tuan menganggu, Kita sudah sampai" ucap pak sopir menyadarkan sepasang kekasih yang masih berpelukan di dalam mobil dalam keheningan.


Anin melepaskan pelukannya dan turun dari mobil di ikuti Kevin, sementara sang sopir menurunkan koper mereka dari dalam bagasih dan menyerahkannya pada Kevin. "Terimakasih pak" ucap Anin sopan dan tersenyum manis pada sang sopir.


"Sama-sama nyonya, mari" ucap sopir tersebut dan berlalu pergi saat melihat tatapan tajam sang majikan siapa lagi kalau bukan Kevin si suami posesif.


"Mas kok gitu sih ngeliatinnya, bikin orang merinding saja deh" tegur Anin yang menyadari tatapan Kevin.


"Aku nga suka lihat Kamu senyum sama Pria lain" jujur Kevin mengandeng tangan Anin memasuki sebuah penginapan yang terbilang cukup mewah dengan pemandangan pantai yang indah di halaman belakangnya.


"Biarin" jawab Kevin datar.


Sesampainya mereka di dalam penginapan mereka di sambut ramah oleh beberapa pelayan. "Selamat datang Nyonya Tuan" pelayan tersebut memberikan bow pada Kevin dan Anin. "Silahkan duduk dulu" pelayan mempersilhakan Anin dan Kevin duduk di sebuah sofa besar dekat meja resepsionis, karena mereka tahu Anin dan Kevin bukan Tamu seperti biasanya, mereka berdua adalah tamu Tuan dan Nyonyanya.


"Kak Rara nya ada?" tanya Anin karena kakaknya itu tidak menyambutnya seperti biasa.


"Tuan dan Nonya sedang ada perjalanan bisnis mungkin besok baru pulang, apa ada yang Anda perlukan?" tanya pelayan.


"Tidak, tolong antarkan saja koper Saya ke kamar Saya ya, Kamu tahu kan?" tanya Anin memastikan


"Iya Nyonya" pelayan tersebut pergi membawa koper Anin, dan satu pelayan lagi memberikan minuman pada Kevin dan Anin. Anin menyesap jus jeruk tersebut karena sangat haus, Anin mengambil buku di atas meja dan membacanya.

__ADS_1


Buku panduan wisata pulau Bali


Anin membuka setiap lembaran buku tersebut dan merasa takjub akan perkembangan di pulau kelahirannya. "Tiga tahun memang mampu mengubah segalanya, tapi tidak dengan Pria ini." batin Anin, melirik Kevin yang sedang tidur di pangkuannya, memainkan rambut gelombang Anin yang tejuntai panjang dan sekali-kali menciumi perut Anin.


"Mas Kevin yang membuat buku panduan wisata ini?" tanya Anin tak percaya saat melihat bahwa penerbit buku itu adalah Adhitama Grub.


"Hmmm" jawab Kevin.


"Itu saja respon mas Kevin?" tanya Anin kecewa dengan jawaban sang Suami.


"Nanti Aku akan membawamu keliling pulau Bali untuk mengunjungi semua tempat-tempat yang ada dalam buku itu" jawab Kevin menikmati sentuhan tangan Anin mengelus rambutnya. "Kita ke kamar yuk! Aku capek pengen istirahat sebentar sebelum makan siang" ajak Kevin.


"Benar nih hanya istirahat?" tanya Anin memastikan kerena suaminya itu selalu saja usil.


"Janji sayang" Kevin bangkit dari tidurnya dan mengendong Anin ala bridal style menuju kamar mereka, tanpa memperdulikan tamu-tamu lain yang sedang memperhatikan tingkah mereka seperti ABG yang sedang jatuh cinta.


Sesampainya di kamar Kevin membaringkan tubuh Anin dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Anin. Kevin menepati janji tidak melakukan hal-hal aneh dan hanya memeluk erat tubuh sang Istri hingga Ia benar-benar terlelap.


-


-


-


-


-


TBC

__ADS_1


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2