
"Kenapa Kamu tidak jadi ke Eropa? padahal Aku sudah mengajukan cuti hanya untuk menemanimu selama di sini, Aku juga sudah menandai tempat tempat yang akan Kita kunjunggi, tapi Kamu malah menunda keberangkatanmu" Anna mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi kesalnya.
"Maaf, Aku kemarin ada urusan mendadak makanya tidak jadi ke Eropa." Kevin terus menatap wajah cantik yang sedang cemberut diseberang sana.
"Sekarang Aku sudah mengerti bagaimana rasanya menunggu, maaf kan Aku Kevin karena selama ini selalu membuatmu menunggu" Anna tiba-tiba merasa bersalah pada Kevin setelah dibuat menunggu olehnya. Anna membayangkan bagaimana perasaan Kevin setiap kali dirinya meninggalkan Kevin, disaat mereka akan melakukan hal-hal romantis bersama.
"Yang harus minta maaf itu Aku, Aku sama sekali tidak ada niatan untuk membuatmu menunggu ku" ucap Kevin masih menatap wajah cantik itu dengan ekspresi datarnya, bahkan jika Ia tersenyum itu hanya senyum yang terlihat dipaksakan.
"Tidak usah dibahas itu lagi ya" pinta Anna mengembangkan senyumnya, "Sebentar lagi kan hari ulang tahunmu, setelah aku selesai dengan urusanku disini, Aku akan merayakan ulang tahunmu dengan sangat mengesankan bahkan Kamu tidak akan pernah melupakan nya selamanya."
"Aku akan menunggu hari dimana itu akan tiba" Kevin lagi-lagi memaksakan senyumnya.
"Sayang sudah dulu ya, Aku harus latihan" Anna mengakhiri pembicaraan.
"Ingat jaga kesehan jangan latihan terlalu keras"
"Baiklah sayang" tut, Anna memutuskan sambungan telfonnya.
Seketika mata Kevin tidak ingin terpejam lagi, Kevin melangkahkan kakinya mendekati gambar yang sangat besar mendominasi kamarnya, memandangi wajah cantik tersebut dengan tatapan sendu.
"Aku tidak menyangka, akan ada saatnya dimana Kamu akan menunggu, padahal selama bersamamu tidak pernah ada niatan untukku membuatmu menunggu. Tapi Aku juga tidak mengerti dengan perasaanku saat ini" batin Kevin mengusap wajah tirus yang terpamoang nyata dihadapannya.
******
Dengan tergesa-gesa Kevin menuruni anak tangga dan melangkahkan kakinya keluar rumah, tanpa ada niatan sarapan bersama Istrinya, persaannya saat ini sangat kacau.
"Mas Kevin" panggil Anin menghampiri suaminya yang hendak keluar rumah, memberikan kotak makan yang telah dibuatnya dengan sepenuh hati.
"Aku ada janji dengan tamanku pagi ini, jadi Aku akan sarapan diluar" ucap Kevin dingin, membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan Anin yang terlihat sedih karena sikap Kevin yang berubah drastis pagi ini.
Anin meletakkan kotak makan di atas meja makan dan mendudukkan tubuhnya dikursi, memandangi kotak makan tersebut dengan tatapan sendu.
Setelah sarapan Anin masuk keruangan melukis hanya untuk mengalihkan pikirannya, namun itu malah mengacaukan lukisan yang Ia buat.
Oma Jelita yang sedari tadi memperhatikan sikap cucu menantunya segera angkat bicara.
"Jika tidak fokus tidak usah memaksakan untuk melukis itu hanya akan meperburuk lukisan mu" ucap Oma Jelita masih fokus dengan kuas ditangannya.
"Apa Kevin memperlakukanmu tidak baik akhir-akhir ini?" Oma Jelita menatap cucu menantunya dengan tatapan menyelidik.
"Tidak Oma, Aku hanya merasa mas Kevin itu mempunyai dua kepribadian, sebentar bersikap baik, sebentar berubah dingin." kelus Anin
"Kevin itu anaknya susah ditebak, tapi Kamu tenang saja, Oma punya ide untuk mengatasi masalah ini" Oma Jelita menyeringai licik, membuat Anin bergidik ngeri memikirkan apa lagi yang akan dilakukan wanita tua ini pada Suaminya.
__ADS_1
******
Sementara di tempat lain, lagi-lagi sepasang manusia memulai paginya dengan berdebat.
Tari yang sedang duduk sarapan dimeja makan segera memasukkan air kedalam mulutnya, berkumur-kumur lalu memuntahkannya di tempat sampa.
"Kenapa kamu selalu melakukan itu ketika melihatku?" tanya Ans yang sedang berdiri diseberang meja menatap Tari.
"Aku tidak tahu, tapi itu kebiasaan baruku saat melihatmu setelah Kau......ah sudahlah"
"Kenapa Kau bersikap seperti ini, seakan-akan Aku ini menjijikkan padahal Kau sangat menyukainya" goda Ans.
"Jika saja Aku tidak menci......."
"Tidak, tidak jangan pernah menyebut itu dihadapan ku" teriak Tari menutup telinga nya membuat Ans terkikik geli dan berlari masuk kemar mandi.
Ting...tong
bunyi bel rumah berbunyi membuat Tari menghentikan sarapannya lalu melangkahkan kakinya membuka pintu.
"Maaf Anda mencari siapa?" tanya Tari sopan pada wanita paruh baya.
"Apa benar ini rumah Ans?" tanya wanita paruh baya itu tak kalah sopannya.
"Siapa?" tanya Ans yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ini ada seseorang yang mencarimu" ucap Tari dan berlalu pergi meninggalkan Ans dan juga ibunya.
"Ans kenapa Kamu tidak menjawab telfon Ibu? dan kenapa Kamu tidak datang semalam untuk mengahdiri kencang buta yang ibu atur?" omel Ibu Ans.
"Apa wanita itu adalah Pacarmu?" tanya ibu Ans menyelidik.
Tanpa menjawab pertanyaan Ibunya, Ans segera menghampiri Tari yang sedang duduk di sofa nonton Tv.
"Tari, perkenalkan ini Ibu ku" ucap Ans menarik tangan Tari menghampiri Ibunya.
"Halo tante, Aku Tari" Tari mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Ibu Ans.
"Ibu perkenalkan ini pacarku" ucap Ans membuat Tari membulatkan matanya dan segera menarik Ans menjauhi Ibunya.
"Apa yang Kamu katakan? Aku tidak ingin jadi pacarmu" ucap Tari kesal.
"Kamu kira Aku ingin jadi pacarmu? Aku tidak akan sudi punya pacar bar-bar sepertimu" balas Ans sinis.
__ADS_1
"Lalu kenapa Kamu mengatakan pada Ibumu bahwa Aku ini pacarmu" ucap Tari kesal.
"Apa Kamu lupa apa yang pernah Kamu katakan padaku tempo hari? Kamu mengatakan akan menuruti permintaanku, dan sekaranglah saatnya Aku membutuhkannya" jelas Ans.
Tari menyeringai licik terbesit ide gila didalam otaknya "Baiklah" Tari melepaskan rangkulan tangannya di lengan Ans, dan menghampiri Ibu Ans yang telah duduk di sofa.
"Tante maaf, Aku tidak tahu bahwa tante ibunya Ans" ucap Tari manja duduk di dekat Ibunya Ans.
"Tidak apa-apa sayang," Ibu Ans membelai rambut Tari yang terurai panjang. "Ans kenapa Kamu tidak pernah membawa Tari kerumah, dan malah mengajaknya tinggal bersamamu?" tanya Ibu Ans menatap tajam anaknya.
"Aku belum ada waktu Ibu, Ibu tahu sendiri perusahaan Adhitama Grub belakangan ini sangat sibuk," jawab Ans.
"Tante, Aku itu selalu ingin menemuimu, Tapi Ans tidak pernah menginzinkanku" ucap Tari manja.
"Jangan panggil Aku tante, panggil Aku ibu" ucao Ibu Ans."
"Iya tan...eh maksudku Ibu"
"Sayang kenapa Kamu tidak bilang, bahwa Ibu akan berkunjung" tanya Tari.
"uhuk.." Ans tersedak mendengar Tari memanggil sayang.
"Sayang apa kau baik-baik saja?" Tari menghampiri Ans dan menepuk-nepuk tengkuk Ans selembut mungkin dan mebisikkan sesutu.
"Kau yang memulai semua Ini, jadi jangan pernah menyesal karena telah melibatkanku" Tari menyeringai licik.
"Tari sayang jika Kamu memerlukan sesuatu, katakan pada Ibu ya, jangan lupa juga beritahu Ibu jika Ans menyakiti mu atau memerintahmu," ucap Ibu Ans lembut.
"Oh iy, kapan kalin akan menikah?" lanjut Ibu Ans membuat Ans dan juga Tari saling pandang dan mengelengkan kepalanya bersamaan.
"Sece.........."
"Kami belum memikirkan sampai disitu Ibu, Kami fokus pada karir masing-masing dulu" ucap Ans dengan cepat dan menutup mulut Tari, jika tidak masalahnya akan semakin besar.
"Kenapa harus susah-susah bekerja? Ans pulanglah kerumah, urus perusahaan ayahmu dan segeralah menikah," pinta Ibu Ans.
-
-
-
TBC
__ADS_1