Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Sikap Malu - Malu Naura


__ADS_3

"Apa aku itu sekejam itu di matamu?" tanya Julian dengan jemarinya masih membelai wajah Naura.


"Sejak awal kita bertemu, Dokter Julian memang kejam kepada saya." ucap Naura.


"Jika aku mengatakan, aku hanya berpura-pura kejam padamu, apa kau akan percaya?" tanya Julian dengan menarik dagu Naura. Memaksa perempuan cantik itu untuk menatap dalam kedua bola matanya.


"Di dunia ini hanya Bunda orang kepercayaan saya. Tapi saat ini, Bunda telah pergi dan tak ada lagi orang yang bisa saya percayai."


"Kau bisa percaya padaku. Kau bisa menjadikan aku orang kepercayaanmu." ucap Julian lembut dan terdengar tulus.


"Atas dasar apa saya harus percaya kepada Dokter Julian?" Naura tak mudah begitu saja percaya kepada mulut manis Julian.


"Cinta! Apakah kau percaya?" kedua mata Julian tidak berkedip.


"Jangan buat saya...."


"Aku mencintaimu! Aku suka padamu, Naura." Julian mengakui perasaannya yang tersembunyi.


"Dokter Julian bercanda." Naura mengulas tawa konyol yang mengejek.


"Aku bukanlah orang yang mudah peduli dengan urusan orang lain. Aku tidak pernah berganti jadwal hanya karena kasihan pada orang asing yang baru aku kenal. Dengan teman lama pun aku tidak pernah. Bahkan aku tidak pernah melakukan hal senekat tadi di hadapan keluargaku.


Naura terdiam. Bibir yang menipis akan tawa seketika merapat.


"Bisa cubit pipi saya sebentar?" pinta Naura penuh harap.


Julian tertawa. "Kau pikir ini mimpi."


"Saya ingin memastikannya saja. Tapi bagaimana bisa Dokter Julian bilang cinta. Sementara kita baru saling kenal beberapa minggu? It's impossible!" Naura masih belum percaya.

__ADS_1


"Apa kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama?" bisik Julian lembut.


"Saya... saya..." Naura tergagap. Seketika wajah murungnya kembali merona merah akan tersipu malu.


"Aku percaya cinta pada pandangan pertama."


Julian sudah tidak sabar, hatinya sudah gereget atau gemas dengan sikap malu - malu dari Naura. Dengan gerakan cepat tanpa meminta ijin, Julian kembali mencumbui bibir Naura. Kedua tangannya meraup wajah Naura. Mengunci agar tidak bisa bergerak kemanapun. Memudahkan bibirnya kembali menikmati manisnya bibir perempuan cantik yang ada di hadapannya.


...***...


"Hubby...." Viona memanggil Saga dengan nada yang manja.


"Yes, Honey." sahut Saga cepat, namun sibuk mengenakkan celana formal miliknya.


"Haruskah?" Viona merengek. Bibirnya mengerucut dengan wajah yang tertekuk masam.


"Kita baru saja mulai. Tanggung banget, sayang. Ayolah, sebentar saja!" Pinta Viona merengek dengan wajah sedihnya.


"Sayang...." panggil Saga mesra.


Lelaki tampan itu sudah selesai mengenakan celana formal miliknya dengan mengulas senyuman manis untuk membujuk, Saga datang menghampiri Viona. Merangkak naik ke atas ranjang tidur, lalu membelai lembut kepala Viona dengan rambutnya yang berantakan. Saga malah tertawa melihat wajah masam Viona dengan bibir yang mengerucut.


"Lima menit aja, oke? Nggak usah pakai pemanasan. Yang tadi udah cukup untuk pemanasan. Kita langsung ke intinya, Oke?" Viona kembali membujuk Saga untuk kembali melanjutkan olahraga panas di atas ranjang yang tadi sudah setengah jalan mereka rengkuh.


"Sayang...? Setelah pulang nanti aku janji akan kembali bertempur. Tapi, saat ini ijinkan aku untuk ke rumah sakit sebentar. Pasien yang sedang pendarahan itu sedang membutuhkan pertolonganku."


Viona hanya bisa terdiam. Tidak bisa egois dengan keadaan diri yang di landa frustasi akut. Hasrat yang tadi keluar dengan menggebu - gebu kini harus kembali terpendam dan tak tersalurkan. Konsekuensi yang harus Viona terima pada profesi suami tercintanya.


Ya! Sosok superhero manapun di dunia pasti akan lebih mementingkan keselamatan seseorang yang memerlukannya.Menurunkan ego dengan mengenyampingkan kepentingan pribadi. Kini Viona memiliki background tak biasa pun harus bisa memahami profesi dari Saga. Keahlian lelaki tampan itu sangat di butuhkan oleh pasien yang mengharapkan kehadirannya.

__ADS_1


"Janji?" tanya Viona penuh harap.


"Janji!"


"Oke! Muaahhh dulu." bibir Viona telah mengerucut, bersiap menyambut sapuan bibir Saga yang menghangat.


"Love you." ucap Saga sebagai tanda pamit.


"Love you too. Cepat pulang. Aku tunggu kau di rumah, Hubby."


Viona melambaikan tangannya ketika suami tercintanya melangkah pergi meninggalkannya. Di atas ranjang tidur yang sudah tak rapi Viona hanya bisa meratapi nasibnya seorang diri. Ekspektasi liar yang sudah berputar di dalam kepala harus di tarik ulur di karenakan lawan yang telah mendapat panggilan darurat.


"Hah...!" Viona menghela nafas kasar. "Harusnya aku pulang saja kerumah kalau tahu akan seperti ini kejadiannya. Menginap di hotel tanpa suami tercintanya rasanya hambar. Arrrghhh!" Sambung Viona dengan sedikit berteriak frustasi lalu melemparkan bantal guling ke arah pintu hotel.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2